Banjir di Lamongan Jatim: Ribuan Rumah di 6 Kecamatan Terendam Banjir

CNN Indonesia
Senin, 12 Jan 2026 16:27 WIB
Ilustrasi. Banjir kepung wilayah Lamongan Jawa Timur. (Dok. BNPB)
Surabaya, CNN Indonesia --

Banjir melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur (Jatim). Berdasarkan laporan BPBD Jatim Senin (12/1) sebanyak 1.706 unit rumah warga dilaporkan terendam air akibat luapan Sungai Bengawan Solo, dengan ketinggian antara 5 hingga 80 sentimeter.

Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto mengatakan ada enam kecamatan yang terdampak banjir, antara lain Kecamatan Kalitengah, Turi, Karangbinangun, Deket, Glagah dan satu Kecamatan Lamongan yang dilaporkan sudah mulai surut.

"Untuk Lamongan hingga hari ini masih tergenang air. 1.706 rumah yang terdampak di enam kecamatan," kata Gatot saat dikonfirmasi, Senin (12/1).

Berdasarkan analisa Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, enam wilayah yang terdampak banjir tersebut merupakan daerah cekungan sehingga rentan dengan genangan.

Sementara itu, Gatot mengatakan kondisi debit air Sungai Bengawan Solo dari laporan BBWS terpantau naik pada hari ini.

"Pintu Air Kuro yang berfungsi sebagai pengendalian banjir dan irigasi terus dimaksimalkan untuk penyedotan dan pembuangan air ke Bengawan Solo tanpa membuka pintu airnya," ucapnya.

Apabila Pintu Kuro dibuka maka air Bengawan Solo bisa masuk ke kali Bengawan Njero dan dikhawatirkan menambah debit air yang berdampak ke pemukiman.

"Ini akan menambah debit air Bengawan Njero dan berakibat semakin tingginya genangan di kediaman warga," jelasnya.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengaku telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi selama 14 hari sebagai langkah kesiapsiagaan menghadapi potensi cuaca ekstrem. Ia memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. 

Terkait kondisi cuaca, Khofifah menjelaskan bahwa berdasarkan data BMKG Juanda, potensi peningkatan curah hujan pada awal tahun 2026 terpantau cukup signifikan.

Untuk itu Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah melakukan berbagai langkah mitigasi, salah satunya melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang telah dilaksanakan sejak 5 Desember 2025.

"Upaya ini kami lakukan sebagai bentuk ikhtiar lahir, yang tentu kami iringi dengan doa dan kerja bersama di lapangan," tuturnya.

(dal/frd/dal)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK