Banjir di Tangerang: Warga Mulai Mengungsi, Ketinggian hingga 1 Meter
Luapan air Situ Gelam, Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Banten, menyebabkan banjir yang merendam puluhan rumah di Perumahan Vila Tomang II pada Senin (12/1).
Pantauan CNNIndonesia.com, air dari Situ Gelam terus melimpas ke permukiman warga sehingga ketinggian banjir meningkat. Pada pagi hari, genangan air mencapai sekitar 40 sentimeter, kemudian naik hingga sekitar 70 sentimeter pada sore hari.
Akibat banjir tersebut, sebanyak 23 rumah warga terendam. Sejumlah warga terpaksa mengungsi ke musala setempat karena air sudah memasuki rumah mereka.
Seorang warga, Karno menyebut, banjir tersebut berdampak kepada 80 jiwa. Saat ini, satu per satu warga mulai mengungsi ke mushola setempat.
"Tadi ada yang mengungsi karena banjir di dalam rumahnya sudah semakin tinggi, ada tiga orang yang mengungsi," kata Karno.
Menurutnya, banjir yang kerap terjadi di wilayah tersebut tidak hanya disebabkan oleh hujan, tetapi juga akibat ketiadaan tanggul pembatas antara Situ Gelam dengan permukiman warga.
Karno berujar, warga telah berulang kali meminta untuk dibangunkan turap untuk menanggulangi permasalahan banjir di wilayah tersebut, namun hingga kini belum juga terealisasi.
"Kita selalu mengajukan ke pemerintah yntuk membuat turap untuk menanggulangi banjir, tapi respon pemerintah belum optimal," jelasnya.
Karenanya, Karno berharap agar pemerintah segera membangun tanggul sebagai langkah konkret untuk mengatasi permasalahan banjir yang selalu dihadapi warga sejak 2002.
"Yang diinginkan warga ini agar tidak banjir, kami selalu minta pembangunan turap yang ada di belakang rumah kami," harapnya.
Kecamatan Benda terendam banjir hingga satu meter
Sementara itu, hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kota Tangerang sejak Minggu malam hingga Senin siang (12/1) mengakibatkan banjir parah di Kecamatan Benda, Kota Tangerang, Banten.
Buruknya sistem drainase dituding menjadi penyebab utama air merendam pemukiman warga dan akses jalan utama. Pantauan CNNIndonesia.com di lokasi menunjukkan Jalan Husein Sastranegara terendam banjir dengan ketinggian mencapai 50 hingga 70 sentimeter sepanjang 500 meter.
Kondisi ini memicu kemacetan panjang lantaran kendaraan harus melaju perlahan saat melintasi genangan. Tak sedikit pengendara sepeda motor yang nekat menerobos banjir berakhir dengan kondisi mesin mati atau mogok.
Wilayah ini memang dikenal sebagai titik langganan banjir, namun penyempitan saluran air akibat padatnya pemukiman penduduk memperparah keadaan setiap kali musim penghujan tiba.
Selain melumpuhkan akses jalan, banjir juga merendam puluhan rumah warga dengan ketinggian air mencapai satu meter. Kondisi ini memaksa sejumlah warga mengevakuasi diri dan mengungsi ke tempat ibadah terdekat.
Rudi, salah seorang warga terdampak, mengungkapkan bahwa banjir kali ini merupakan yang terparah sejak beberapa tahun terakhir.
"Sejak awal tahun 2020 sampai sekarang, setiap tahun pasti banjir. Tapi hari ini yang paling parah, ketinggiannya sampai satu meter atau sepinggang orang dewasa. Biasanya hanya sedengkul," ujar Rudi.
Rudi menambahkan, masalah utama di wilayahnya adalah ketiadaan saluran drainase yang memadai di sepanjang jalan. Selain itu, saluran air di wilayah tersebut juga menjadi muara pembuangan air dari jalur Tol Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
"Pembuangan dari jalur tol lari ke sini. Kalau saluran di tol mampet, otomatis air tertahan. Ditambah lagi terjadi penyempitan di saluran pembuangan ke kali di bagian depan. Warga sekarang hanya bergantung pada mesin pompa air," lanjutnya.
Saat ini, warga sangat berharap adanya langkah nyata dari Pemerintah Kota Tangerang. Normalisasi saluran drainase dan perbaikan sistem pembuangan air mendesak untuk dilakukan agar banjir tahunan ini tidak terus berulang dan merugikan masyarakat setiap musim penghujan tiba.