Singgung 10 Persen Warga Jakarta, Dharma Pongrekun Sentil Balik Pandji
Mantan Juru Bicara Dharma Pongrekun, Ikhsan Tualeka menyatakan takkan melaporkan komika Pandji Pragiwaksono terkait materi stand-up comedy bertajuk 'Mens Rea' ke aparat kepolisian.
Ikhsan sebelumnya menyampaikan somasi etik terbuka kepada Pandji.
"Sejak awal kami tidak ingin mengkriminalisasi gagasan pikiran atau ekspresi politik dari seseorang," kata Ikhsan dalam Head to Head, CNN Indonesia TV, Rabu (14/1) malam.
Ia menyatakan jika ia mengambil langkah melaporkan ke aparat berwenang, maka itu justru berlawanan dengan tujuan awalnya.
Ikhsan menyatakan somasi etik terbukanya itu hanyalah merupakan teguran kepada Pandji.
"Bahwa Pandji bisa minta maaf ke orang Toraja karena mencederai orang Toraja. Tapi dia tidak minta maaf kepada 456 ribu orang yang dianggap atau didegradasi hak politik mereka, menganggap mereka tidak berkapasitas dalam tanda kutip," ujarnya.
Ia juga menjelaskan mengapa melakukan somasi etik kepada Pandji. Ikhsan berharap Pandji memberikan klarifikasi atas materinya yang menyinggung Dharma Pongrekun.
"Dia bisa minta maaf, tidak lagi mengulangi ini memberikan komitmen etik dia bahwa ke depan dia tidak akan menyerang orang secara personal. Dia tidak akan menyerang sesama civil society," ucap dia.
Ikhsan sebelumnya menyampaikan somasi terbuka terhadap Pandji atas materi 'Mens Rea'.
Menurutnya, materi humor politik yang disampaikan Pandji bukan kritik gagasan atau kebijakan, melainkan mengarah pada perendahan pilihan politik warga, khususnya sekitar 10 persen pemilih pasangan Dharma Pongrekun-Kun Wardana dalam Pilkada DKI Jakarta 2024.
Ia mengatakan kritik terhadap kandidat politik adalah hal yang sah dan diperlukan dalam demokrasi.
Namun, mengolok pilihan politik warga berisiko mempersempit ruang dialog publik dan menggantikan perdebatan gagasan dengan stigma simbolik.
Terpisah, Dharma juga sudah buka suara soal materi Pandji di Mens Rea. Ia mengaku tidak tersinggung dengan materi Pandji. Namun, kata dia, ada pemilihnya di Pilkada DKI yang merasa tak terima.
"Nah, yang menjadi persoalan adalah mereka yang 10,6 persen yang merasa memilih karena dianggap oon. Ah itu yang enggak terima, karena mereka merasa, mereka yang waras," ujar Dharma.
(mnf/gil)