DKI Jakarta Waspada DBD, Kasus Superflu Belum Ditemukan
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta meningkatkan kewaspadaan akan munculnya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Superflu di Jakarta.
Meski demikian Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan kasus superflu belum ditemukan di Jakarta dan berharap kondisi tersebut tetap terjaga.
"Saya sudah meminta kepada Dinas Kesehatan selalu memantau dua hal. Satu yang berkaitan dengan Superflu, yang satu berkaitan dengan DB dan alhamdulillah hal yang berkaitan dengan Superflu sampai hari ini belum ada apa, yang terkena di Jakarta, dan mudah-mudahan enggak terkena," ujar Pramono di kawasan Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (20/1).
Pram mengatakan kasus demam berdarah cenderung meningkat di sejumlah wilayah, terlebih di Jakarta Barat dan Jakarta Utara, seiring tingginya curah hujan.
Kendati demikian, Pramono memastikan penanganan DBD di Jakarta berjalan cukup baik.
"Apalagi fasilitas kita yang berkaitan dengan DB, baik itu Puskesmas Pembantu, Puskesmas, Rumah Sakit, semuanya sudah ada untuk rujukannya," ujarnya.
Kasus DBD di Jakarta Barat sebelumnya dilaporkan mengalami peningkatan pada bulan Oktober hingga Desember 2025.
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Sahruna mencatat sebanyak 160 kasus pada Oktober 2025, 161 kasus di November dan Desember mengalami peningkatan menjadi 163 kasus.
"Sementara untuk Januari 2026 hingga 15 Januari pukul 16.00 WIB, tercatat 19 kasus DBD di Jakarta Barat," ujarnya, dikutip dari Antara.
Pun disampaikannya, terkait periode tanggal 1 hingga 15 Januari 2026, kasus terbanyak berada di Kebon Jeruk sebanyak tujuh kasus kemudian terdapat empat kasus dari Kembangan.
"Untuk di Kalideres tiga kasus, Tambora dua kasus, serta masing-masing saru kasus di Taman Sari, Grogol Petamburan, dan Cengkareng. Sementara di Palmerah dilaporkan nihil kasus DBD," tuturnya.
Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kata dia, kondisi iklim pada Januari 2026 mendukung perkembangan nyamuk aedes aegypti.
Ia menjelaskan penanganan DBD terus dilakukan dengan pemantauan vektor atau jentik nyamuk dengan memprioritaskan partisipasi masyarakat.
Adapun, ia mengimbau masyarakat untuk rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) sebagai upaya pencegahan DBD.
(nat/gil)