Survei: 85,3 Persen Nyatakan Banjir Sumatra Faktor Manusia
Hasil survei Median menunjukkan sebagian besar responden menyatakan faktor manusia menjadi penyebab banjir bandang yang menerjang sejumlah wilayah di Sumatra beberapa waktu lalu.
Survei ini merupakan survei pengguna media sosial. Pengambilan data pada 9-13 Januari dengan target sampel sebesar seribu responden.
"Faktor manusia itu dianggap lebih menyebabkan bencana sekitar 85,3 persen ya. Kemudian faktor alam itu hanya 14,5 persen," kata Direktur Median Rico Marbun, Selasa (20/1).
Rico menjelaskan dari keseluruhan angka itu, sebanyak 66,2 persen responden menyebut bencana di Sumatra terjadi karena deforestasi atau penggundulan hutan.
Lalu, alih fungsi lahan serapan sebesar 6,3 persen, aktivitas tambang ilegal dengan 4,4 persen, hingga ekspansi perkebunan sawit di angka 3,8 persen.
"Yang mengatakan ini bahwa curah hujan ekstrem itu hanya 11,5 persen," ucap dia.
Untuk penyebab faktor alam, responden juga menyebut beberapa hal lain, seperti kondisi geografis alami (2,1 persen), perubahan iklim global (0,4 persen), hingga erosi/tanah longsor (0,2 persen).
"Itu minoritas begitu ya, itu menjadi penyebab yang minoritas itu. Sementara mayoritasnya itu adalah faktor kelalaian manusianya itu sendiri," ujarnya.
Pada saat yang sama, survei ini juga mengukur tingkat kepuasan publik atas penanganan bencana Sumatra oleh pemerintah pusat. Hasilnya, 38,3 persen menyatakan puas, sedangkan 59,0 persen menyatakan tidak puas.
Rico menjelaskan beberapa poin bagi responden yang menyatakan tidak puas. Hasilnya, penanganan terlihat lambat di angka 26,8 persen, bantuan kurang memadai di angka 10,4 persen, hingga tidak menjadikan bencana nasional dengan 3,4 persen.
"Distribusi bantuan tidak merata 2,8 persen, kurang upaya pencegahan bencana 2,1 persen. Jadi alasan yang paling utama itu adalah penanganannya begitu terlihat lamban," ucap dia.
"Saya pikir bukan berarti pemerintah ini tidak melakukan apa-apa ya, tetapi mungkin salah satu masukan, input yang bisa kita dapatkan dari hasil survei ini adalah ini perlu adanya komunikasi yang berkelanjutan dan cepat," imbuhnya.
Sementara itu, bagi responden yang mengaku puas dengan kinerja pemerintah pusat menangani bencana menganggap pemerintah pusat telah merespons dengan baik (16,1 persen), bantuan logistik dianggap lengkap 5,2 persen, hingga sudah bekerja maksimal 5,1 persen.
Selain itu, survei tersebut juga mencatat sebanyak 86,7 persen responden sepakat bencana banjir Sumatra itu ditetapkan ke dalam status bencana nasional. Dari keseluruhan responden yang sepakat itu, 37,7 persen sepakat karena menilai bencana itu berdampak sangat luas.
"Sementara yang tidak setuju bencana ini ada juga yang tidak setuju ditetapkan sebagai bencana nasional karena merasa bahwa pemerintah daerah mampu menangani itu 2,9 persen dan bencana hanya terjadi di Pulau Sumatra 1,3 persen," ujar dia.