Banjir hingga 3,5 Meter, Warga Tangerang Mulai Terserang Penyakit
Banjir masih merendam permukiman warga di Perumahan Periuk Damai, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, Banten, Minggu (25/1).
Ketinggian air di sejumlah titik terpantau masih mencapai 2 hingga 3,5 meter, bahkan di beberapa rumah yang berada di kontur paling rendah, air sempat menyentuh 4 meter.
Kondisi ini membuat aktivitas warga lumpuh total dan mulai memunculkan berbagai keluhan kesehatan. Sejumlah warga mengaku mengalami gatal-gatal pada kulit, luka akibat terendam air, hingga pegal-pegal karena kelelahan saat menyelamatkan barang dari dalam rumah.
Salah satu warga terdampak, Jungkir Salim, mengatakan bahwa ketinggian air sempat mencapai lebih dari empat meter sebelum perlahan surut sekitar 50 sentimeter.
"Gatal-gatal sama ada luka karena nyebur banjir. Badan juga pegal-pegal karena kemarin mindahin barang. Air sudah setinggi satu pintu rumah," ujar Jungkir, Minggu (25/1).
Ia menambahkan banjir diduga dipicu jebolnya tanggul di sekitar permukiman yang hingga kini belum diperbaiki secara permanen.
"Kemarin ada tanggul yang jebol dan sebagian belum diperbaiki lagi. Kalau belum permanen, ke depan mungkin akan seperti ini lagi. Kami berharap penanganannya bisa segera karena wilayah ini rawan banjir," katanya.
Hal senada disampaikan warga lainnya, Reo, yang rumahnya berada di bagian terendah kawasan Periuk Damai. Menurutnya, hingga saat ini air di dalam rumahnya masih berkisar 3 hingga 4 meter.
"Untuk saat ini kondisi di dalam masih ketinggian 3,5 meteran, cuma memang perlahan sudah surut karena pompa di belakang sudah difungsikan. Kalau di rumah saya masih 3 sampai 4 meter karena posisinya paling bawah," ujar Reo.
Ia mengaku banjir seperti ini kerap berulang dan berharap ada perbaikan tanggul serta sistem pengendalian banjir yang lebih permanen.
"Semoga ke depannya bisa diperbaiki lagi, supaya kami sebagai warga tidak mengalami kejadian seperti ini terus," ucapnya.
Selain masalah kesehatan dan kerusakan rumah, kebutuhan logistik juga menjadi persoalan utama. Banyak warga tidak sempat menyelamatkan pakaian dan peralatan rumah tangga saat air datang tiba-tiba.
"Banyak yang kami butuhkan, mulai dari baju, karena waktu tanggul jebol banyak barang tidak sempat terbawa. Logistik juga, dan tempat tinggal sementara yang layak," tutur Reo.
Data RW setempat mencatat sedikitnya 286 kepala keluarga atau sekitar 862 jiwa terdampak banjir. Dari jumlah tersebut, terdapat 136 warga lanjut usia yang membutuhkan perhatian khusus.
Saat ini, sebagian warga memilih bertahan di rumah bertingkat, sementara lainnya mengungsi ke masjid di wilayah RW 09, rumah kerabat, hingga menyewa kontrakan sementara, sambil menunggu air benar-benar surut dan kondisi dinyatakan aman.
(fra/das/fra)