Pascabencana Banjir Sumatra, Baru Satu Daerah di Aceh Berstatus Normal
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyatakan baru satu kabupaten/kota di Aceh yang kembali berjalan normal pascabencana hidrometeologi banjir dan longsor yang sporadis di Sumatra pada akhir November 2025 lalu.
Ia mengatakan wilayah yang sudah berstatus normal itu adalah Kabupaten Aceh Besar.
"Aceh ini memang perlu kita bekerja lebih keras lagi, karena di Aceh ini yang normal baru satu, yaitu Kabupaten Aceh Besar," kata Tito dalam rapat koordinasi satgas percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Sumatra di Kantor Kemendagri, Jakarta, Senin (26/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tito menyampaikan saat ini ada sejumlah daerah di Aceh masih memerlukan perhatian khusus pascabencana tersebut.
Ia melaporkan daerah-daerah itu berada di kawasan pegunungan di Aceh yakni Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tengah.
"Itu rata-rata permasalahannya adalah jalan yang longsor atau hilang dan jembatan yang putus. Jalan nasional sudah masuk, sudah. Kalau tidak memakai jembatan sementara, dia memakai jalan alternatif dengan terobosan," ucap dia.
Tito juga menjelaskan terdapat 18 daerah terdampak di Aceh. Saat ini baru sembilan kabupaten/kota sudah mengarah ke kondisi normal.
Bencana banjir bandang dan longsor menerjang sejumlah wilayah di Pulau Sumatra pada akhir November 2025 lalu. Bencana hidrometeorologi sporadis itu berdampak pada 53 kabupaten/kota di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
Mengutip data di laman resmi BNPB per 26 Januari 2026, korban meninggal dunia di bencana ini mencapai 1.201 jiwa.
BNPB melaporkan Aceh Utara menjadi daerah dengan korban jiwa paling banyak, mencapai 246 jiwa. Lalu, Kab. Agam, Sumbar dengan 194 jiwa. Disusul Tapanuli Tengah dengan 130 jiwa.
Selain korban jiwa, BNPB melaporkan sebanyak 142 orang juga dinyatakan hilang dalam bencana ini.
Selain itu, bencana ini juga menyebabkan sebanyak 113,9 ribu orang mengungsi.
[Gambas:Video CNN]

