Opu Daeng Risadju, Tapol Kolonialisme-Pahlawan Penyemai Cahaya Islam
Pada 1880, lahirlah seorang perempuan yang kelak namanya menggema lebih keras menggetarkan kolonialisme Belanda daripada gong peringatan waktu.
Putri dari Muhammad Abdullah To Baresseng dan Opu Daeng Mawellu itu adalah Famajjah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kelak namanya harum dikenal sebagai Opu Daeng Risadju. Darah bangsawan kerajaan Luwu mengalir dalam nadinya.
Ibundanya merupakan keturunan langsung Raja Bone ke 22 La Temmasonge Matimoeri Malimongeng.
Opu Daeng Risadju lalu ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh negara pada 26 Februari 1959.
Famajjah kecil tumbuh bersama didikan kitab suci dan ayunan lantunan Alquran. Selain aksara Arab dan Bugis, dia juga mempelajari huruf latin secara autodidak dengan bantuan saudaranya, Mudehang yang menjalani sekolah formal.
Mengutip dari detikSulsel, sekalipun dari kalangan bangsawan, Famajjah tidak menempuh pendidikan formal. Sesuai tradisi kala itu, pada umumnya, anak gadis Luwu hanya memperoleh pendidikan agama dan mengaji Al-Quran.
Ketika cinta menjemput, Famajjah menikah dengan Haji Muhammad Daud, seorang ulama di sana. Perkawinan itu mengubah namanya menjadi Opu Daeng Risadju - gelar bangsawan yang dalam masyarakat Luwu dibisikkan dengan hormat dan dibawa sebagai simbol martabat.
Walaupun perempuan, dia begitu keras menyelami lautan pergerakan. Dia kemudian menjadi salah satu pivot dalam pergerakan nasional di Sulawesi untuk menentang kolonialisme Belanda.
Kiprahnya bersama Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) membuat pemerintah kolonial Belanda merasa terancam.
Perjuangannya membuat Opu menjadi perempuan pertama yang dipenjara Belanda karena aktivitas politik. Meski melalui berbagai tantangan dalam perjuangannya, Opu Daeng Risadju dihormati dan dikagumi rakyat.
Pada mulanya ia menjadi anggota PSII Parepare dan mendapat kepercayaan untuk memimpin PSII di Palopo. Pascakonferensi PSII yang digelar di Parepare pada April 1930, Opu Daeng pergi ke Malangke untuk mendirikan cabang PSII di wilayah tersebut.
Kiprahnya membuat pemerintah Belanda gelisah. Ketika Opu dan puluhan pejuang lain berusaha menanam benih kebebasan di Malangke, pemerintah kolonial turun tangan.
Pada akhirnya, Controleur Masamba akhirnya ke Malangke dan menangkap Opu bersama sekitar 70-an orang anggota partai. Opu dituduh menghasut serta menyebarkan kebencian kepada pemerintah di lapisan masyarakat.
Hal itu menjadikannya tercatat sebagai perempuan pertama yang dipenjara rezim kolonial sebagai tahanan politik. Penahanan tersebut nyatanya tidak efektif sehingga Belanda melakukan propaganda sebagai tameng untuk membekukan gerakan PSII.
Tekanan adat
Bukan cuma dari penguasa kolonial, belakangan Opu Daeng mendapatkan tekanan pula dari struktur adat di kampung halamannya sendiri yang ingin menjauhkannya dari PSII.
Dewan adat bahkan mencabut gelar bangsawan yang selama ini disandangnya. Namun rakyat tak pernah menggugurkan nama itu dari bibirnya - mereka tetap memanggilnya "Opu" meskipun titel itu secara resmi tercabut secara adat.
Hingga akhirnya, Opu Daeng Risadju menghembuskan napas terakhir pada 10 Februari 1964. Dia kemudian dimakamkan di kompleks makam raja-raja Lokkoe, di bawah langit timur yang pernah menyaksikan perjuangannya.
Tulisan ini adalah rangkaian dari kisah ulama, tokoh, dan cendekiawan muslim yang menjadi Pahlawan Nasional Indonesia yang diterbitkan CNNIndonesia.com pada Ramadan 1447 Hijriah.
(nat/kid)[Gambas:Video CNN]