RAMADAN 2026

TGKH M Zainuddin Abdul Madjid: Bapak Pembangun Banyak Madrasah-Masjid

CNN Indonesia
Kamis, 05 Mar 2026 16:00 WIB
TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, 'Matahari dari Timur', adalah Pahlawan Nasional yang memajukan pendidikan Islam di NTB dan pejuang kemerdekaan Indonesia. (CNNIndonesia)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tuan Guru Kiai Haji (TGKH) Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dikenal sebagai 'Matahari dari Timur' yang memajukan pendidikan Islam di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB). Bukan cuma ulama, dia pula seorang pejuang kemerdekaan Indonesia.

Dia kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh negara pada 9 November 2017 lewat Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 115/TK/Tahun 2017.

Ia memiliki nama awal Muhammad Saggaf. Namanya diganti menjadi seperti yang dikenal sekarang karena ayahnya terinspirasi seorang ulama kharismatik dan berakhlak baik, Muhammad Zainuddin Serawak.

Zainuddin merupakan anak bungsu dari 6 bersaudara. Ia memiliki dua istri yang masing-masing dikaruniai satu anak perempuan.

Mengutip dari buku Biografi Tokoh: Tuan Guru Kiai Haji (TGKH) Muhammad Zainuddin Abdul Madjid terbitan Kantor Bahasa NTB Kemendikbud, perjalanan pendidikannya diawali saat belajar di Sekolah Rakyat Negara (Sekolah Gubermen) selama empat tahun.

Setelah itu, ayah Zainuddin menyerahkannya untuk belajar ke beberapa tuan guru di antaranya TGKH Syarafuddin, TGKH Muhammad Sa'id, dan TGKH Haji Abdullah. Dari guru-guru tersebut, Zainuddin belajar ilmu agama dengan kitab Arab Melayu dan bahasa Arab.

Kemudian Zainuddin melanjutkan pendidikannya ke tanah suci Mekah saat masih berusia 15 tahun. Dia belajar di Madrasah Asshaulatiah, sekolah pencetak ribuan ulama di Kerajaan Arab Saudi. Ia berhasil menyelesaikan studinya hanya dalam waktu 6 tahun dari 9 tahun waktu normal.

Sepulangnya dari Mekah, Zainuddin kemudian kembali ke Lombok, mendirikan pesantren Al-Mujahidin.

Tiga tahun kemudian, ia mendirikan Nadhlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI), madrasah untuk kaum laki-laki pada 1937.

Pada 1943, ia mendirikan Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI), kali ini madrasah untuk kaum perempuan.

Dua madrasah tersebut merupakan yang pertama di Pulau Lombok.

Murid-murid yang telah belajar di NWDI dan NBDI kemudian dikirim ke seluruh pelosok Nusantara. Sehingga berdirilah madrasah-madrasah termasuk masjid di bawah naungan Zainuddin di seluruh pelosok Indonesia.

Sebab jumlah madrasah yang semakin banyak, Zainuddin mendirikan organisasi untuk menaunginya dengan nama Nahdlatul Wathan (NW) pada 1953.

Oleh karena itu, ia dikenal dengan julukan Abu Madaris Wal Masajid yang berarti 'Bapak Pembangun Banyak Madrasah dan Masjid'.

Selain peran-perannya di bidang pendidikan untuk kaum Sasak atau umat Islam warga Nahdlatul Wathan, ia juga punya peran besar ke bangsa Indonesia pada masa penjajahan.

Pada 1945, ia menjadi pelopor kemerdekaan Indonesia di Nusa Tenggara, khususnya Lombok. Kemudian pada 1946 dia menjadi pelopor penggempuran pasukan NICA di Selong Lombok Timur.

NWDI dan NBDI juga dipakai sebagai pusat pelatihan bagi patriot-patriot bangsa untuk siap bertempur dan mengusir penjajah kolonialisme Jepang dan Belanda.

Pascaproklamasi kemerdekaan, Zainuddin juga menjadi anggota Konstituante RI hasil Pemilu I pada 1955. Ia juga merupakan peserta KIAA (Konferensi Islam Asia Afrika) di Bandung.

Dalam bidang politik, peran sebagai legislatif juga pernah ia cicipi pada 1972-1982 sebagai anggota Majelis Permusyarakatan Rakyat (MPR) RI.

Zainuddin Abdul meninggal saat berusia 99 tahun. Beliau wafat di dalam kompleks pondok pesantren Hamzanwadi Nahdlatul Wathan di Desa Pancor, Lombok Timur.

Tulisan ini adalah rangkaian dari kisah ulama, tokoh, dan cendekiawan muslim yang menjadi Pahlawan Nasional Indonesia yang diterbitkan CNNIndonesia.com pada Ramadan 1447 Hijriah

(fam/kid)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK