RAMADAN 2026

KH Noer Ali, Bara Juang Sang Singa Karawang-Bekasi

CNN Indonesia
Minggu, 08 Mar 2026 16:00 WIB
KH Noer Ali (CNN Indonesia/Basith Subastian)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kiai Haji Noer Alie (1914-1992) Sang "Singa Karawang-Bekasi" ditetapkan negara sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui Keppres Nomor 085/TK/2006 pada 3 November 2006.

Dia adalah seorang ulama yang juga pejuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda.

Noer Alie lahir dari pasangan petani, ibunya Maimunah binti Tarbin dan ayahnya Anwar bin Layu. Ia merupakan anak ke-4 dari sembilan bersaudara.

Berbeda dengan penduduk desa lainnya, keluarga Noer Alie merupakan keluarga yang bersahaja. Berbeda dengan masyarakat dari desa lain yang sebagian besar bekerja sebagai buruh tani di tanah milik orang lain, keluarga Noer Alie adalah petani di tanah sendiri, meskipun hanya memiliki beberapa bidang tanah.

Ia menjalani pendidikan awal dengan belajar agama ke beberapa guru agama di Bekasi. Pada 1934, ia melanjutkan pendidikannya dengan ibadah haji ke tanah suci Mekah selama 6 tahun. Ia mendirikan organisasi bernama Persatuan Pelajar Betawi.

Saat berada di tanah suci, seorang pelajar asing menumbuhkan semangat kebangsaan Noer Alie: "Mengapa Belanda yang negaranya kecil bisa menjajah Indonesia. Harusnya Belanda bisa diusir dengan gampang kalau ada kemauan!"

Setelah kembali ke nusantara, Noer Alie langsung mengabdikan ilmunya dengan mendirikan pesantren di Ujungmalang, sebuah wilayah di Kabupaten Bekasi.

Perjalanannya sebagai patriot Bekasi berlanjut ketika Indonesia merdeka, ia terpilih menjadi Ketua Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Cabang Babelan.

Pria yang juga dijuluki si Belut Putih itu juga ikut mempertahankan kemerdekaan dengan menjadi Ketua Lasykar Rakyat Bekasi dan menjadi Komandan Batalion III Hasbullah Bekasi

Saat terjadi Agresi Militer I oleh Belanda, Noer Alie bergerilya di Jawa Barat. Di saat ini, ia mendirikan dan menjadi komando Markas Pusat Hisbullah-Sabilillah (MPHS) Jakarta Raya.

Rawa Gede

Saat terjadi peristiwa pembantaian di Rawa Gede, Noer Alie menjadi pemantik semangat rakyat untuk bergabung dengan MPHS. Total sekitar 600 laskar bergabung dan ikut menyerang pos-pos Belanda dengan bergerilya.

Perjuangannya berlanjut setelah Perjanjian Renville ketika ia bertempur melawan Belanda di wilayah Banten Utara hingga Perjanjian Roem-Royen diselenggarakan.

Dalam Komisi Meja Bundar, Noer Alie ikut membantu Mohammad Natsir dalam delegasi Indonesia. Baru ketika pengakuan kedaulatan Indonesia ditandatangani Belanda, perjuangan MPHS buatannya pun berakhir.

Setelah berjuang di medan tempur, Noer Alie memulai perjuangan lainnya lewat bidang pendidikan dan politik.

Dalam bidang pendidikan, ia mendirikan Lembaga Pendidikan Islam di Jakarta, Madrasah Diniyah di Ujungmalang, dan Sekolah Rakyat Indonesia di pelbagai wilayah di Bekasi.

Dalam bidang politik, ia menjadi ketua Partai Amanat Rakyat cabang Bekasi, Ketua Masyumi cabang Jatinegara, anggota Dewan Konstituante, serta anggota Pimpinan Harian/Majelis Syuro Masyumi Pusat.

Selanjutnya ia menjadi Ketua Tim Perumus Konferensi Alim Ulama-Umaro se-Jawa Barat, yang menjadi cikal bakal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat.

Noer Alie wafat dalam usianya yang ke-78 tahun. Dirinya resmi dikenang sebagai pahlawan nasional pada 2006, sekitar 14 tahun setelah kepergiannya.

(fam/kid)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK