RAMADAN 2026

Syaikhona Kholil Bangkalan: Pahlawan Nasional, Gurunya Para Ulama

CNN Indonesia
Senin, 09 Mar 2026 16:00 WIB
Syaikhona Kholil, Bapak Pesantren Indonesia, diakui sebagai Pahlawan Nasional pada 2025. Ia berperan penting dalam pendidikan dan perjuangan bangsa.
Syaikhona Kholil Bangkalan. (CNN Indonesia/Basith Subastian)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Banyaknya pesantren-pesantren di wilayah Jawa, Kalimantan, dan Sumatra memang tidak terlepas dari peran seseorang yang dijuluki Bapak Pesantren Indonesia, Syaikhona Kholil Bangkalan (1835-1925).

Negara kemudian mengakuinya sebagai Pahlawan Nasional pada 10 November 2025.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Syaikhona Kholil lahir di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur pada bulan Safar 1252 Hijriah atau 1835 Masehi dari pasangan KH Abdul Latif-Nyai Siti Khadijah.

Mengutip dari NU Online, Syaikhona memiliki lima jalur keturunan yang tersambung ke Nabi Muhammad yaitu Jalur Sunan Kudus (Sayyid Ja'far Shodiq), Jalur Sunan Ampel (Raden Rahmad), Jalur Sunan Giri (Sayyid Muhammad Ainul Yaqin), Jalur Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah), dan Jalur Basya'iban.

Di kalangan Nahdliyin dikenal tiga serangkai kiai yang berjuang mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) yakni KH Hasyim Asy'ari, KH Abdul Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri. Namun, embrio NU itu tak lepas dari inspirasi Syaikhona Kholil sebagai guru mereka.

Pendidikan hingga mendirikan pesantren

Syahdan, kala masih bocah, kecerdasan Syaikhona Kholil sudah di atas anak-anak sebayanya.

Dalam usia muda, ia sudah mampu menghafal seribu bait nadzam Alfiyah Ibnu Malik sekaligus menguasai ilmu nahwu, sharaf, dan fikih dengan sangat cepat. Kemudian saat beranjak remaja, KH Abdul Latif mengirim putranya ke berbagai pesantren ternama di Madura dan Jawa untuk memperdalam keilmuan.

Kemudian pada 1859 dia menjalani kesempatan ke Tanah Suci, Mekkah. Selain untuk beribadah haji, dia bermukim di sana untuk memperdalam ilmu agama.

Di Mekah, Syaikhona Kholil banyak mempelajari ilmu dari beberapa syaikh tentang ilmu dhohir (esoteris) seperti tafsir, hadits, fiqih, dan ilmu nahwu.

Tidak hanya itu, ia juga mempelajari ilmu batin (isoteris) ke berbagai guru spiritual. Salah satu guru spiritual Syaikhona adalah Syaikh Ahmad Khatib Sambas Ibnu Abdul Ghofar al-Jawi yang merupakan pendiri dan penganut tarekat Qodariyah wa Naqsabandiyah.

Pada 1863, ketika kembali ke nusantara, Syaikhona Kholil mendirikan pesantren di kampung halamannya yakni di Jengkebuan, Bangkalan. Setelah pesantren tersebut berkembang, Syaikhona menyerahkan itu untuk diurus menantunya, KH Muntaha. Dia lalu pindah ke Demangan, dan membangun pesantren di sana.

NU dan perjuangan bangsa

Unsur nasionalisme Syaikhona dipandang dari para santri binaannya yang hampir seluruhnya menjadi pejuang pergerakan Islam Nusantara dan penguatan nasionalisme abad 1800-an.

Jaringan Islam terutama para santrinya menjadi pemantik utama dalam membangkitkan kesadaran politik untuk melahirkan gerakan kultural melawan kolonialisme saat itu.

Syaikhona Kholil dijuluki Syaikh al-Jawiyyin, mahaguru orang-orang Jawa. Terkait NU, meskipun organisasi itu lahir setelah dirinya wafat, perannya sangat vital untuk mengarahkan fondasi pemikiran pendiri NU.

Mengutip dari NU Online, sekitar 1920, "Sebanyak 66 ulama se-Nusantara berkumpul di Bangkalan untuk meminta petunjuk kepada Syaikhona Kholil terkait kemunculan aliran baru yang dianggap mengancam ajaran Ahlussunnah wal Jamaah. Pandangan, sikap, dan restu Syaikhona Kholil inilah yang kemudian menjadi kekuatan lahirnya organisasi NU sebagai benteng ajaran Islam moderat khas Nusantara."

Mengutip dari Majalah Risalah NU edisi 116, dalam riwayat yang diceritakan salah satu santrinya yang juga dianugerahkan gelar Pahlawan Nasional, KHR As'ad Syamsul Arifin dirinya dipanggil Syaikhona Kholil untuk memberi seutas tasbih kepada KH Hasyim Asy'ari.

Pesan Syaikhona kepada As'ad, sepanjang perjalanan dari Bangkalan ke Tebuireng, Jombang agar mengamalkan wirid Ya Jabbar, Ya Qahhar.

Setibanya di Jombang, As'ad memberikan tasbih itu kepada Hasyim. Kakek dari Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu kemudian memaknainya sebagai restu dari guru kepadanya dan para sahabatnya untuk mendirikan NU.

Lukisan dan syarat pahlawan nasional

Syaikhona Kholil meninggal pada tahun 1925. Walaupun telah hidup di masa fotografi cetak, Syaikhona Kholil tak meninggalkan satu pun foto mengenai dirinya. Ketika teknologi internet makin pesat, diiringi perkembangan media sosial, beredar foto-foto yang diklaim sebagai sosok Syaikhona Kholil.

Akhirnya, pada 2025 silam para pemangku kepentingan difasilitasi Pemprov Jatim menetapkan sketsa hitam putih wajah Syaikhona Kholil. Sketsa itu kemudian digunakan sebagai rujukan resmi kala itu untuk mengajukan Syaikhona sebagai pahlawan nasional.

Ketika Syaikhona diajukan menjadi pahlawan nasional, salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah tersedianya foto atau minimal lukisan yang bisa mewakili, sehingga Pemprov Jatim dan bermusyawarah terkait persoalan tersebut.

Sketsa itu dilukis sesepuh Lesbumi Ki Nonot Sukrasmono berdasarkan kesaksian keturunan Syaikhona Kholil.

Mengutip dari NU Online Jatim, KH Makki menjelaskan sebetulnya ada foto dari Mbah Kholil yakni pada dokumen perjalanan haji. Namun, sambungnya, paspor Mbah Kholil yang terdapat fotonya tak ditemukan pihak keluarga. Kemudian, ada pula yang menyebut fotonya ada pada dokumen imigrasi yang tersimpan di Belanda, namun pihak keluarga tak dapat mengonfirmasi hal itu dengan pembandingnya.

"Pendataan paspor itu fotonya ada dua, satu di paspornya dan satu di imigrasi. Tapi hingga saat ini paspornya tidak ditemukan. Ada yang menyodorkan foto paspor Syaikhona Kholil, tapi ketika ditanya paspornya mana, tidak ada yang bisa menjawab. Karena kurang bukti autentik, kami tidak berani menerimanya," jelasnya.

Adapun sketsa Syaikhona Kholil dianggap sebagai jalan tengah, tapi dengan syarat tertentu. Dia mengatakan sketsa itu sengaja dibuat versi hitam putih untuk menjaga keautentikan dan menghindari interpretasi berlebihan. Dia mengaku pihak keluarga tak berani memberi warna kulit atau detail lain pada sketsa itu demi menjaga adab terhadap sosok Syaikhona Kholil.

Tulisan ini adalah rangkaian dari kisah ulama, tokoh, dan cendekiawan muslim yang menjadi Pahlawan Nasional Indonesia yang diterbitkan CNNIndonesia.com pada Ramadan 1447 Hijriah

(fam/kid)


[Gambas:Video CNN]