Hilal Awal Ramadan Tak Terlihat di Surabaya, Masih di Bawah Ufuk

CNN Indonesia
Selasa, 17 Feb 2026 17:44 WIB
Posisi hilal Ramadan di langit Surabaya tak terlihat atau masih berada di bawah ufuk.
Ilustrasi. Posisi hilal Ramadan di langit Surabaya tak terlihat atau masih berada di bawah ufuk. (ANTARA FOTO/HASRUL SAID)
Surabaya, CNN Indonesia --

Hilal atau anak bulan penentu awal bulan belum terlihat di Surabaya. Hal itu berdasarkan pantauan atau rukyatul hilal yang dilakukan Fakultas Syariah dan Hukum Islam Universitas Islam Sunan Ampel (Uinsa) Surabaya, Selasa (17/2).

Rukyatul hilal ini melibatkan dosen, mahasiswa Program Studi Ilmu Falak. Mereka juga melakukan kajian mendalam terkait data hisab untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai posisi bulan Qomariah.

Ketua Program Studi Ilmu Falak Uinsa, Siti Tatmainul Qulub menyebutkan berdasarkan pemantauan yang dilakukan pihaknya, posisi hilal Ramdan tak terlihat atau masih berada di bawah ufuk.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Posisi hari ini Hilal masih di bawah ufuk. Karena memang dari segi hisab hilal terbenam lebih dulu daripada matahari dan ini belum ijtima ya," kata Siti di sela pemantauan.

Berdasarkan kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) yang menjadi acuan resmi di Indonesia, sebuah hilal dinyatakan memenuhi syarat jika memiliki ketinggian minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

Namun, kata Siti, berdasarkan pemantauan san observasi di titik Surabaya menunjukkan angka yang jauh di bawah standar MABIMS, sehingga potensi terlihatnya hilal dinilai nihil.

"Untuk di Surabaya sendiri di sini ini masih -1 derajat 16 menit untuk tinggi hilalnya untuk elongasinya sekitar 1 derajat 13 menit. Jadi masih di bawah dari kriteria penentuan awal bulan di Indonesia yaitu kriteria MABIMS," ucapnya.

Siti menyebut, Tim Uinsa menyiagakan sedikitnya delapan perangkat untuk mendukung proses pengamatan ini, mulai dari teleskop robotik, teleskop manual, teodolit, hingga binokuler.

Meski secara perhitungan matematis hilal dipastikan tidak terlihat, prosedur rukyat tetap harus dijalankan sebagai bentuk verifikasi faktual di lapangan serta memenuhi ketentuan syar'i pada tanggal 29 bulan Syakban berjalan.

"Nah ini agak sulit terlihat bukan agak sulit memang mustahil untuk dilihat karena memang hilalnya sudah di bawah ufuk. Mataharinya terbenam itu hilal sudah di bawah. Jadi enggak mungkin terlihat. Tapi tetap kita lakukan rukyatul hilal," ucapnya.

Siti menyebut, jika hingga akhir pemantauan, hilal tetap tidak terlihat, maka Bulan Syakban akan digenapkan menjadi 30 hari atau istikmal. Hal ini, kata Siti, berarti awal Ramadan kemungkinan besar akan jatuh Kamis (19/2) lusa.

"Besok masih tanggal 30, lusa baru tanggal Lusa baru 1. Tapi, kita pasti harus nunggu sidang [isbat] ya. Karena sidang itu basisnya tidak hanya hisab. Tapi juga basisnya adalah pelaporan rukyat dari seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke," ucapnya.

Selain faktor astronomis, kondisi cuaca di wilayah Surabaya yang sedang memasuki musim penghujan juga menjadi tantangan tersendiri. Langit yang mendung menambah tingkat kesulitan dalam proses pemantauan.

Nantinya, hasil laporan dari titik pantau Uinsa ini akan diserahkan melalui koordinasi dengan PWNU Jawa Timur untuk diteruskan sebagai bahan pertimbangan dalam Sidang Isbat di tingkat Kementerian Agama. 

(frd/isn)


[Gambas:Video CNN]