Polisi Sebut Pelaku Penganiayaan Petugas SPBU di Jaktim Bukan Aparat

CNN Indonesia
Selasa, 24 Feb 2026 20:17 WIB
Ilustrasi. Pelaku berinisial JMH tersebut ditangkap tim gabungan Satreskrim Polres Metro Jakarta Timur dan Unit Reskrim Polsek Pulogadung di kawasan Rawalumbu, Bekasi Timur. (Istockphoto/D-Keine)
Jakarta, CNN Indonesia --

Polda Metro Jaya memastikan pria berinisial JMH, pelaku penganiayaan terhadap tiga pegawai SPBU di Cipinang, Pulogadung, Jakarta Timur bukan seorang aparat, melainkan warga sipil yang berprofesi sebagai wiraswasta.

"Pelaku sudah diamankan dan dipastikan bukan anggota Polri," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto dalam keterangannya, Selasa (24/2).

Budi menyebut pelaku berinisial JMH tersebut ditangkap tim gabungan Satreskrim Polres Metro Jakarta Timur dan Unit Reskrim Polsek Pulogadung di kawasan Rawalumbu, Bekasi Timur pada Selasa hari ini.

Selanjutnya, pelaku dibawa ke Polres Metro Jakarta Timur untuk diperiksa lebih lanjut.

"Saat ini yang bersangkutan sedang diproses oleh penyidik Polres Metro Jakarta Timur. Kami memastikan penanganan perkara dilakukan secara profesional dan transparan," ucap Budi.

Budi mengatakan dari penyelidikan sementara diketahui bahwa pelat nomor yang digunakan oleh pelaku saat melakukan aksinya itu adalah pelat bodong alias palsu.

"Nomor polisi yang digunakan pada kendaraan juga tidak sesuai peruntukannya," ujarnya.

Berdasarkan foto yang diterima, pelat nomor yang digunakan oleh pelaku bernomor L-1-XD. Pelat itu, kata Budi, bukan diperuntukkan untuk mobil Toyota Vellfire hitam yang digunakan pelaku.

"Hasil pencocokan barcode tidak sesuai dengan nomor polisi kendaraan, sehingga pengisian tidak dapat dilakukan sesuai ketentuan," tutur Budi.

Sebelumnya, tiga pegawai SPBU di Cipinang, Pulogadung, Jakarta Timur diduga menjadi korban penganiayaan oleh seorang oknum aparat pada Minggu (22/2) sekitar pukul 22.00 WIB itu.

Dikutip dari Antara, tiga pegawai SPBU yang jadi korban yakni Ahmad Khoirul Anam, yang telah bekerja sekitar lima tahun sebagai staf, Lukmanul Hakim, operator yang baru enam bulan bekerja setelah lulus SMK dan Abud Mahmudin, operator dengan masa kerja sekitar empat tahun.

Khoirul Anam terkena tamparan di pipi, Lukman dipukul di rahang sebelah kanan, sementara Abud dipukul di bawah mata dan di pipi dekat mulut hingga giginya copot.

Peristiwa bermula ketika seorang pelanggan datang untuk mengisi Pertalite. Saat dilakukan pemindaian kode batang (barcode), nomor polisi (nopol) kendaraan terdaftar sesuai dalam sistem, namun jenis mobil yang digunakan tidak cocok dengan data yang tertera.

Sesuai prosedur operasional standar (SOP), petugas kemudian menolak pengisian Pertalite dan memberikan solusi alternatif. Pelanggan diarahkan untuk mengisi Pertamax, yang tidak menggunakan sistem kode batang.

Namun, penolakan itu diduga memicu emosi pelanggan. Insiden pun terjadi dan berujung pada dugaan aksi kekerasan terhadap tiga pegawai SPBU.

Salah satu korban, Lukmanul Hakim menyebut aparat tersebut sempat mengklaim mobil yang dibawanya adalah milik seorang jenderal.

"Dia bilang, 'kamu tahu tidak ini barcode-nya jenderal? Kamu tidak tahu ini barcode jenderal?' Berkali-kali dia ngomong begitu," kata dia.

(dis/dal)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK