Menag Nilai Pemberdayaan Dana Umat Bisa Jadi Solusi Gedung MUI

CNN Indonesia
Sabtu, 21 Mar 2026 11:45 WIB
Menag Nasaruddin Umar menilai pemberdayaan dana umat bisa jadi opsi untuk membangun fasilitas keagamaan, termasuk gedung MUI.
Menag Nasaruddin Umar menilai pemberdayaan dana umat bisa jadi opsi untuk membangun fasilitas keagamaan, termasuk gedung MUI. (CNN Indonesia/Angela Merici)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyoroti pentingnya optimalisasi dana umat sebagai salah satu solusi memperkuat kesejahteraan masyarakat, termasuk pembangunan fasilitas keagamaan seperti gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Hal itu disampaikan Nasaruddin saat menjawab pertanyaan terkait kelanjutan pembangunan gedung MUI setelah pelaksanaan salat Idulfitri di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (21/3).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan bahwa pemerintah, melalui Presiden Prabowo Subianto, tengah menggagas pembentukan lembaga pemberdayaan dana umat.

"Sebetulnya Bapak Presiden menggagas lembaga pemberdayaan dana umat, yang akan mengorganisasi semua pundi-pundi umat yang selama ini belum efektif," kata Nasaruddin.

Ia menyebut berbagai sumber dana umat yang dimaksud mencakup wakaf, zakat, infak, sedekah, hibah, wasiat, hingga bentuk-bentuk kontribusi lainnya yang selama ini belum terkelola secara optimal.

[Gambas:Video CNN]

Menurutnya, jika seluruh potensi tersebut dapat diorganisasi dengan baik, maka nilainya akan sangat besar.

"Ada sekitar 27 sumber dana umat. Kalau itu dimampukan kita organisir dengan baik, itu luar biasa dananya," ujarnya.

Nasaruddin bahkan mengibaratkan potensi tersebut sebagai 'raksasa yang tidur' yang belum dimanfaatkan secara maksimal.

"Saya sering mengistilahkan bahwa itu adalah raksasa yang tidur. Kalau itu bisa kita kelola dengan baik, saya kira kebutuhan dasar umat bisa diselesaikan dari dana umat itu sendiri," kata dia.

Ia menilai selama ini anggaran negara seperti pajak lebih banyak digunakan untuk pembangunan infrastruktur. Sementara kebutuhan dasar masyarakat, menurutnya, bisa ditopang oleh pengelolaan dana umat yang lebih terstruktur.

Lebih lanjut, Nasaruddin menekankan bahwa potensi dana keagamaan tidak hanya berasal dari umat Islam, tetapi juga dari berbagai komunitas agama lain.

"Bukan hanya dalam Islam, ternyata di Katolik juga charity-nya banyak, begitu juga Kristen, Hindu, Buddha," ujarnya.

Karena itu, ia mendorong agar lembaga-lembaga keagamaan dapat dikelola secara profesional agar mampu menyelesaikan persoalan umat secara mandiri.

"Kalau ini kita organisir dengan baik, dari atas ada bantuan pemerintah, dari bawah ada kekuatan ekonomi umat. Dengan begitu, insyaallah kemiskinan mutlak itu tidak ada di Indonesia," kata Nasaruddin.

Ia menambahkan bahwa nilai-nilai keagamaan seperti sedekah dan amal jariah menjadi kekuatan moral yang mendorong masyarakat untuk berbagi tanpa pamrih.

"Kalau urusan agama, masa membohongi dirinya sendiri," ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Nasaruddin berharap langkah tersebut dapat segera direalisasikan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

"Kita berdoa mudah-mudahan secepatnya yang terbaik bisa terwujud," tutupnya.

(anm/chri) Add as a preferred
source on Google