Puncak Arus Balik Diprediksi 3 Hari, Kapan?
Puncak arus balik lebaran 2026 diperkirakan bakal terjadi selama 3 hari. Dilansir dari situs Humas Polri, puncak arus balik akan terjadi besok, Selasa (24/3) dan Sabtu-Minggu (28/3-19/3).
"Berdasarkan prediksi, puncak arus balik diperkirakan akan terjadi pada tanggal 24 Maret serta 28 hingga 29 Maret 2026," demikian keterangan resmi Polri.
Hal yang sama sebelumnya juga disampaikan Kepala Korps Lalulintas Polri Irjen Agus Suryonugroho. Ia berharap pemudik bisa menghindari tiga puncak arus balik tersebut.
Juru Bicara Satgas Humas Operasi Ketupat 2026 Kombes Marupa Sagala mengimbau warga bisa merencanakan perjalanan balik usai berlebaran di kampung halaman di Hari Raya Idul Fitri, 1447 H.
Perencanaan perlu dilakukan agar tidak terjadi penumpukan kendaraan pada waktu tertentu saat arus balik. Salah satunya dengan memanfaatkan kebijakan Work From Anywhere (WFA) yang diberikan pemerintah.
"Masyarakat juga diimbau untuk memanfaatkan kebijakan Work From Anywhere atau WFA, sehingga perjalanan arus balik dapat dilakukan secara bertahap dan tidak menumpuk dalam satu waktu," kata Marupa.
Kelonggaran jadwal WFA diberikan usai lebaran ini yakni pada tanggal 25 hingga 27 Maret 2026.
Selain itu, pemerintah juga memberikan stimulus berupa diskon tarif tol yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mengatur perjalanan.
"Manfaatkan juga kebijakan diskon tarif tol pada tanggal 26 hingga 27 Maret 2026 agar perjalanan lebih efisien dan terhindar dari kepadatan," ujarnya.
Arus balik diperkirakan mulai terjadi hari ini karena Rabu (25/3) lusa libur dan cuti bersama lebaran sudah selesai. Kantor-kantor pemerintah dan swasta sudah memulai aktivitas mereka.
Marupa mengatakan dalam catatan polri, periode Sabtu (21/3) pukul 18.000 hingga Minggu (22/3) pukul 06.0) WIB, terjadi 292 kasus kecelakaan mudik.
"Dengan rincian 8 orang meninggal dunia, 60 luka berat, dan 489 luka ringan, serta kerugian materiil mencapai lebih dari Rp206 juta, kata Marupa.
Hingga kemarin total sudah 2 juta lebih kendaraan yang keluar Jakarta dan sekitarnya.
"Sekitar 56,9 persen dari total proyeksi," uja Marupa.
(sur/sur)