Pasien di Medan Ngaku Diangkat Rahim Tanpa Persetujuan, RS Bantah
Seorang pasien bernama Mimi Maisyarah (48), warga Jalan Tangguk Bongkar, mengaku menjadi korban dugaan malapraktik di RSU Muhammadiyah Medan. Dokter di rumah sakit tersebut dituding melakukan tindakan pengangkatan rahim tanpa sepengetahuan maupun persetujuan dirinya dan keluarga.
Kuasa hukum keluarga, Ojahan Sinurat, menjelaskan bahwa Mimi Maisyarah awalnya mendapatkan rujukan pada 13 Januari 2026 dan didiagnosis menderita miom atau tumor jinak di dinding rahim pasien. Pasien menjalani operasi di RSU Muhammadiyah pada 24 Februari 2026.
"Namun, pihak rumah sakit menyampaikan kepada keluarga bahwa tidak ada tindakan pengangkatan rahim dalam prosedur tersebut," ujarnya, Rabu (22/4/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dua hari pascaoperasi, tepatnya 26 Februari 2026, pasien kembali ke rumah sakit tersebut karena kondisi luka operasi bernanah. Tak hanya itu, jahitan operasi sempat terbuka setelah adanya tindakan dipencet di area luka yang dilakukan dokter.
"Karena kondisi tidak kunjung membaik, pasien akhirnya meminta dirujuk secara mandiri ke RSU Haji Medan. Di rumah sakit tersebut, dokter meminta hasil Patologi Anatomi (PA). Dokumen tersebut awalnya tidak dimiliki oleh pasien," jelasnya.
Setelah hasil PA diperoleh dari RSU Muhammadiyah Medan, ditemukan bahwa tidak ada keterangan terkait penyakit miom. Selain itu, hasil pemeriksaan USG di RSU Haji Medan menunjukkan bahwa rahim pasien telah diangkat.
"Pengangkatan rahim itu diduga dilakukan tanpa sepengetahuan pasien maupun keluarga. Keluarga juga mengaku menerima organ berupa uterus (rahim) dan dua ovarium (indung telur), yang menguatkan dugaan telah terjadi tindakan medis tanpa persetujuan yang jelas," urainya.
Terpisah, Kepala Bagian Umum dan SDM RSU Muhammadiyah Medan, Ibrahim Nainggolan membantah tudingan malapraktik yang dilakukan dokter kepada pasien. Dia menegaskan seluruh tindakan medis telah melalui proses edukasi, persetujuan, serta tahapan sesuai prosedur.
"Pasien pertama kali datang pada Januari 2026 dengan keluhan yang mengarah pada miom. Saat datang, pasien langsung menyampaikan bahwa penyakitnya miom sebelum dilakukan pemeriksaan oleh dokter," jelasnya kepada CNN.
Setelah dokter melakukan pemeriksaan , ternyata pasien didiagnosa terkena miom dengan tingkat tertentu yang memerlukan tindakan operasi, termasuk kemungkinan pengangkatan rahim.
"Pada kunjungan awal tersebut, pasien dan keluarga belum bersedia menjalani operasi dan memilih pulang untuk berdiskusi lebih lanjut. Sekitar satu bulan kemudian, pasien kembali dengan keluhan yang semakin memburuk," urainya.
Setelah pemeriksaan ulang dan penjelasan kembali dari tim medis, pasien dan keluarga akhirnya menyetujui tindakan operasi. Persetujuan tindakan medis ditandatangani oleh pihak keluarga setelah melalui proses pertimbangan.
"Operasi kemudian dijadwalkan dan dipersiapkan pada Februari. Tindakan ini bukan seketika. Dari awal sudah dijelaskan, namun sempat ditolak. Setelah satu bulan, barulah keluarga menyetujui dan menandatangani persetujuan operasi" tambahnya.
Menurut Ibrahim, informasi mengenai pasien terkena miom, termasuk kemungkinan dampaknya terhadap pengangkatan rahim, telah disampaikan sejak awal. Secara medis terdapat berbagai kondisi miom, mulai dari yang berdiri sendiri hingga yang telah memengaruhi dinding rahim.
"Dalam kondisi tertentu, hal tersebut memerlukan tindakan pengangkatan rahim. Kami sudah siapkan penanganan di UGD, tetapi keluarga menolak dilakukan tindakan medis, sehingga pasien dibawa pulang," jelasnya.
RSU Muhammadiyah Medan juga menyatakan telah membuka ruang komunikasi dengan keluarga pasien, termasuk melalui pertemuan yang melibatkan kuasa hukum dan pihak kepolisian guna menjaga kondusivitas pelayanan.
"Yang utama bagi kami adalah memastikan kondisi pasien. Untuk somasi, tentu kami butuh waktu untuk memahami secara utuh sebelum memberikan jawaban," tegasnya.
Sementara itu, Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Rujukan Dinas Kesehatan Sumut, dr. Muhammad Emirsyah Harvian Harahap, memastikan telah menurunkan Tim Satuan Tugas (Satgas) untuk melakukan pemeriksaan langsung.
"Tim Satgas Dinkes Sumut telah dikirimkan ke RSU Muhammadiyah Medan untuk dilakukan monitoring dan evaluasi pelayanan. Saat ini masih dilakukan pemeriksaan terkait dugaan malapraktik tersebut," paparnya.
(fnr/isn) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]