Kemenkes Diminta Tak Cepat Simpulkan Kematian Dokter Internship Unsri

CNN Indonesia
Minggu, 03 Mei 2026 16:25 WIB
Ilustrasi. Majelis Guru Besar Kedokteran Indonesia (MGBKI) meminta Kemenkes untuk tidak cepat menyimpulkan kasus kematian dokter internship karena faktor kesehatan. (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Majelis Guru Besar Kedokteran Indonesia (MGBKI) meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk tidak cepat menyimpulkan kasus kematian dokter internship karena faktor kesehatan.

Hal tersebut disampaikan pengurus MGBKI Zainal Muttaqin merespons kasus kematian dokter internship Myta Aprilia Azmy yang bertugas di Rumah Sakit KH Daud Arif Iskandar, Jambi.

Zainal kemudian menyoroti empat kasus kematian dokter internship sebelum Myta yang terjadi di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali dan Sulawesi Selatan.

Dalam keempat kasus itu, ia menilai investigasi yang dilakukan Kemenkes terlalu cepat untuk disimpulkan karena faktor kesehatan semata.

"Dari Kementerian Kesehatan mengembalikan bahwa mereka yang meninggal ini memiliki penyakit. Mereka menganalisa ke sana," ujarnya dalam konferensi pers, Minggu (3/4).

Ia menegaskan hampir semua masyarakat Indonesia, termasuk dokter memiliki penyakit bawaan. Persoalannya, kata dia, hal itu seharusnya sudah dideteksi oleh institusi atau rumah sakit wahana pendidikan.

"Kita semua itu pasti di antara kita punya problem kesehatan. Bagaimana saat kita menjalani internship ada upaya deteksi dan penanganan penyakit bersamaan dengan pekerjaan, itu yang harus dilakukan," tegasnya.

Zainal menilai sebuah kesalahan yang besar jika pengelola program internship, dalam hal ini Rumah Sakit tidak tahu kondisi kesehatan para peserta didik.

"Kalau itu berjalan tanpa ada deteksi dan pihak penerima, artinya pengelola program ini sampai tidak mengetahui persoalan kesehatan yang dimiliki oleh peserta didik, itu suatu kesalahan," tuturnya.

"Bukan peserta didik yang salah. Kita jangan terbiasa menyalahkan peserta program ini karena dia punya penyakit sehingga beban kerja yang ada menyebabkan dia meninggal," imbuhnya.

Mengutip Detik, sejumlah kolega kedokteran menyoroti dugaan beban kerja berat Myta sebelum wafat. Sebelum meninggal, Myta sempat kritis dan dirawat di ICU RSUP Dr. Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang.

Ketua Umum Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (IKA FK Unsri) Achmad Junaidi mengatakan pihaknya akan mengawal kasus meninggalnya Myta yang tengah menjalani program internship tersebut.

"Kita sebelumnya telah mengirim surat ke Kementerian Kesehatan RI. Mereka meminta dilakukan audit terhadap RSUD K.H. Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi, yang menjadi lokasi penugasan dr Myta," kata Junaidi seperti dikutip dari Detik, Sabtu (2/5).

Dalam surat tertanggal 30 April 2026, IKA FK Unsri mengungkap keprihatinan sekaligus sejumlah temuan terkait kondisi kerja dokter internship di rumah sakit daerah tersebut.

Junaidi menyebut Myta diduga menjalani beban kerja berat tanpa istirahat yang cukup selama masa internship. Bahkan, saat kondisi kesehatannya mulai menurun sejak Maret 2026, Myta disebut tetap menjalani jadwal jaga.

"dr Myta telah melaporkan gejala sakit, namun tetap dijadwalkan jaga malam dalam kondisi sesak napas dan demam tinggi," ujarnya.

Berdasarkan keterangannya, kondisi Myta kemudian memburuk, dengan saturasi oksigen dilaporkan berada di bawah 80 persen. Myta akhirnya dirujuk ke RSMH Palembang untuk mendapatkan perawatan intensif.

(tfq/dmi)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK