Walkot Jogja Akan Temui Ahli Waris soal Penjualan Rumah Prof Sardjito
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo mengaku bakal mengobrol dengan Rektor UGM, Ova Emilia menyangkut rumah peninggalan pahlawan nasional cum Rektor pertama UGM, Prof dr M Sardjito yang akan dijual ahli warisnya.
Selain Ova, Hasto turut berencana menemui pihak keluarga ahli waris, bahkan direktur RSUP dr. Sardjito.
"Dalam waktu dekat ini saya mau ketemu keluarganya dulu, saya juga mau diskusi dengan bu rektor atau juga direktur rumah sakit Sardjito untuk diskusi tentang ini," kata Hasto saat dihubungi, Jumat (15/5).
Rumah warisan Sardjito ini berlokasi di Kelurahan Terban, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Pihak kerabata mengaku rumah itu rencanannya dijual ke pihak terkait demi pelestarian warisan budaya yang lebih memadai.
Hasto mengaku pernah mendengar soal rumah peninggalan Sardjito berstatus warisan budaya ini, meski diakuinya selama ini bangunan tersebut belum jadi atensi Pemkot Yogyakarta.
Dia bilang, rumah tersebut memang pernah ditawarkan kepada Pemkot Yogyakarta walaupun bukan lewat jalur resmi.
Wali kota berpendapat, rumah tersebut baiknya memang diakuisisi pemerintah atau UGM maupun RSUP dr. Sardjito.
Hasto berpendapat demikian, karena rumah bergaya Indische itu menyimpan nilai historis, jejak perjalanan intelektual sekaligus sejarah panjang dunia pendidikan dan kesehatan di Yogyakarta.
Apalagi, di situ juga menjadi tempat lahirnya bisnis keluarga yang cukup legendaris yakni obat tradisional peluruh baru urin 'Calcusol' produksi PT. Perusahaan Jamu Tradisional (PJT) Dr. Sardjito.
Hanya saja, bagi Pemkot Yogyakarta sendiri belum memungkinkan untuk melaksanakan pengadaan lahan atau bangunan dengan anggaran 2026 yang sudah bergulir.
"Tapi kan kita melihat dulu kemampuan keuangan atau kita diskusi bersama," tegas Hasto.
"Saya ikut berharap mudah-mudahan tidak dibeli perorangan, saya ikut berharap tidak ke swasta," sambungnya.
Menurutnya, Pemkot Yogyakarta juga sebenarnya bisa ikut andil dalam pelestarian bangunan yang diklaim sebagai warisan budaya tersebut dengan menggunakan dana keistimewaan (danais). Tapi, itu pun harus melalui pengajuan terlebih dahulu kepada Gubernur DIY, Sri Sultan HB X.
"Kita mendengar pernah, tahu (rumah peninggalan Sardjito), tapi tidak menyangka ini kemudian mau dijual," ujar Hasto.
Sebelumnya diberitakan para ahli waris dan kerabat dekat Pahlawan Nasional itu sudah sepakat untuk melepas rumah tersebut dengan alasan untuk perawatan dan pelestarian bangunan yang lebih memadai.
Kerabat Sardjito yang kini menghuni rumah itu, Budhi Susanto (70) mengaku telah menawarkan bangunan serta lahan warisan kepada 10 pihak. Dua di antaranya adalah UGM dan UII.
Lalu ada pula mantan Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, hingga sejumlah pengusaha serta dokter.
Dari semua pihak itu, Budhi paling berharap UGM atau UII bersedia membeli rumah tersebut. Ia membayangkan rumah itu kelak menjadi museum Sardjito, atau bahkan kembali difungsikan sebagai rumah dinas rektor.
Sardjito sendiri selain dikenal sebagai pahlawan nasional RI, juga pernah menjabat selaku rektor pertama UGM dan rektor ketiga UII.
"Paling mulia rumah ini dipakai hunian pribadi atau dibeli UGM atau UII dipakai rumah sejarah. Kalau UGM jelas bisa dipakai rumah dinasnya antar Rektor, kalau UII nanti terserah apa wong dulu Pak Sardjito jadi Rektor UII ya kan," harapnya.
Budhi enggan menyebut harga pasti rumah tersebut.
"Ya M (miliar) lah," ucap Budhi.
Dengan lokasi strategis di pusat kota, ia yakin rumah itu tetap memiliki banyak peminat. Namun ada satu hal yang ingin benar-benar ia hindari: rumah itu berubah menjadi kafe seperti bangunan-bangunan di sekitarnya.
"Ya tentunya (setelah pindah tangan) direnovasi dengan baik ya. Atau dipakai Museum Profesor dr. Sardjito ya. Atau dipakai rumah bakti sosial semacam Puskesmas. Jadi tiga-tiganya tuh rohnya Pak Sardjito semua," katanya.