Sebelum Diculik Israel Jurnalis Thoudy Badai Kontak Keluarga

CNN Indonesia
Selasa, 19 Mei 2026 20:07 WIB
Hani Hanifa mengungkapkan kontak terakhir dengan anaknya, Thoudy Badai, sebelum ditangkap tentara Israel dalam misi kemanusiaan menuju Gaza. (Instagram/@globalpeaceconvoy)
Jakarta, CNN Indonesia --

Hani Hanifa Humanisa (56), ibu dari jurnalis Thoudy Badai, mengungkapkan kontak terakhir dengan anaknya sebelum ditangkap tentara Israel saat mengikuti misi kemanusiaan menuju Gaza.

Hani mengatakan komunikasi terakhir kepada keluarga terjadi pada Senin (18/5) pukul 02.19 WIB, saat anaknya berada di perairan internasional dalam perjalanan dari Marmaris menuju Gaza.

"Itu kita masih kontak sampai terakhir kemarin hari Senin jam 02.19 WIB dan dia kirim pesan mengabarkan sudah sampai di perairan internasional yang berarti harusnya sudah aman," ujarnya di Bandung, Jawa Barat, Selasa (19/5).

Menurut dia, komunikasi selama perjalanan dilakukan secara terbatas dan hanya pada waktu-waktu tertentu sesuai kondisi di lapangan.

"Tidak terlalu sering komunikasi, paling kalau momen-momen tertentu saja. Biasanya kalau tukar shift atau kita tanya kondisi, ya hal-hal teknis seperti makan di mana atau lagi di mana," katanya.

Hani menjelaskan pihak keluarga telah melakukan diskusi panjang terkait risiko yang mungkin dihadapi dalam misi tersebut sebelum keberangkatan, termasuk kemungkinan terburuk yang telah disampaikan sejak awal.

"Kita sudah ngobrol panjang dengan Odi (Thoudy Badai). Saya tanya kondisi secara umum gimana, terus risikonya gimana, risiko yang paling jeleknya itu bagaimana. Kita sudah tahu kondisi di sana," ujarnya.

Ia menuturkan pada awalnya sempat tidak memberikan izin saat Thoudy mengikuti pelatihan di Tunisia untuk persiapan ke Gaza, tetapi kemudian memberikan izin setelah melihat keyakinan dan kesiapan anaknya.

"Saat itu saya tidak kasih izin karena kekhawatiran yang sangat mendalam. Namun saya melihat ada passion (semangat) Odi sehingga jadi diizinkan," katanya.

Hani juga menyebut keputusan mengizinkan keberangkatan diambil setelah anaknya menyampaikan tingkat keyakinan untuk mengikuti misi tersebut.

Pada kesempatan tersebut ia menyampaikan bahwa keluarga memahami kompleksitas situasi di lapangan dan menyerahkan kepercayaan penanganan kepulangan anaknya kepada Pemerintah Indonesia.

"Kami menaruh kepercayaan penuh kepada Pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Luar Negeri dan jajaran terkait, yang kami yakini tengah bekerja melalui jalur diplomasi untuk memastikan keselamatan dan pemulangan relawan," ucapnya.

Ia juga menyebut keluarga masih terus memantau perkembangan informasi terkait kondisi Thoudy Badai dan menunggu kabar resmi dari pihak terkait.

Keluarga juga berharap proses komunikasi dan upaya diplomatik yang dilakukan dapat berjalan lancar sehingga para relawan yang terlibat dapat segera memperoleh kejelasan informasi.

Sebelumnya, 

Lima Warga Negara Indonesia yang ikut dalam kapal pelayaran kemanusiaan Global Peace Convoy Indonesia pada misi Global Sumud Flotilla 2026 ke Gaza ditangkap tentara zionis Israel (IDF).

Kelima WNI itu adalah Rahendro Herubowo, Andre Prasetyo Nugroho, Thoudy Badai, Bambang Noroyono alias Abeng, dan Andi Angga Prasetya. Mereka tersebar di sejumlah kapal yang telah dicegat oleh militer Israel.

Rahendro, Thoudy, dan Andre menumpangi Kapal Ozgurluk, Abeng di Kapal BoraLize, sedangkan Andi Angga di Kapal Josef. Ketiga kapal itu dicegat IDF.

Empat dari lima orang itu merupakan jurnalis. Abeng dan Thoudy merupakan jurnalis Republika, Andre dari Tempo, dan Hery seorang jurnalis iNews.

Sementara Angga merupakan aktivis kemanusiaan dari Rumah Zakat.

(antara/isn)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK