Aria Bima: PDIP Tidak Nyinyir ke Pemerintah

CNN Indonesia
Kamis, 21 Mei 2026 05:30 WIB
Wakil Ketua Komisi II DPR Aria Bima menyebut pihaknya telah sepakat secara informal untuk melakukan revisi sejumlah Undang-undang Pemilu melalui metode omnibus law.
Anggota DPR Fraksi PDIP, Aria Bima menegaskan sikap partainya untuk berada di luar pemerintah bukan didasarkan pada sikap apriori dan nyinyir ke pemerintah. (CNN Indonesia/Muhammad Arief)
Jakarta, CNN Indonesia --

Anggota DPR dari Fraksi PDIP, Aria Bima menegaskan sikap partainya untuk berada di luar pemerintah bukan didasarkan pada sikap apriori dan nyinyir terhadap pemerintah.

Menurut Bimo, sapaan akrabnya, PDIP menjadikan pemerintah sebagai mitra strategis yang akan lantang dan kritis untuk memberikan solusi.

"Sekali lagi posisi PDI perjuangan tidak pernah apriori dengan pemerintah. PDI perjuangan tidak nyinyir dengan kebijakan pemerintah. PDI perjuangan juga tidak antipati terhadap pemerintah," kata Bimo di kompleks parlemen, Rabu (20/5).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pernyataan itu ia sampaikan sekaligus merespons pidato Presiden Prabowo Subianto yang menyinggung posisi PDIP sebagai satu-satunya partai di luar pemerintah. Prabowo dalam pidatonya mengaku akan menghormati sikap PDIP meski dia sejak awal tak ingin ada partai oposisi.

Bimo pun menegaskan bahwa posisi PDIP saat ini bukan oposisi, melainkan mitra strategis. Dia menjelaskan, mitra strategis adalah keinginan bersama pada tujuan dan cita-cita para pendiri bangsa.

"Dan saya kira strategis yang mana? Yang tetap menjaga bangsa yang pluralitas gitu kan. Itu mitra strategis untuk kita jaga bahwa pemerintahan di situ adalah mewujudkan cita-cita proklamasi," katanya.

Bimo menilai sikap untuk tetap berada di luar pemerintahan juga merupakan tradisi penting dalam demokrasi. Menurut dia, partai harus berani mengambil sikap itu jika calon yang mereka usung kalah dalam kontestasi politik.

Menurut Bimo, sikap itulah yang selama ini dilakukan PDIP. Bukan hanya kepada Prabowo, namun juga terhadap pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebelumnya.

"Karena PDI misalnya pernah dua kali di dalam pemerintahan begitu ya. Dua kali di zaman Pak SBY misalnya di luar pemerintahan. Apapun parlemen ini butuh kekuatan kritis yang eksis," katanya.

(thr/isn) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]