Viral Spanduk Besar Terpasang di Gerbang Masuk, UGM Angkat Suara
Sebuah spanduk bertuliskan 'Surat Permohonan Maaf' terpasang di depan gerbang masuk Universitas Gadjah Mada (UGM), Sleman, DIY, Kamis (21/5) pagi.
Surat tersebut menuliskan bahwa kampus UGM yang beralamatkan di Bulaksumur, Yogyakarta, memohon maaf karena telah membiarkan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka menjadi Presiden-Wakil Presiden RI 2024-2029.
Tertulis bahwa permohonan maaf dibuat sebagai bentuk penyesalan. "Hormat kami, Universitas Gadjah Mada" bunyi tulisan pada bagian bawah spanduk.
Berdasarkan pantauan pada Kamis siang, spanduk tersebut terlihat sudah tidak terlihat lagi di depan gerbang masuk kampus.
Bukan sikap resmi UGM
Juru Bicara UGM, I Made Andi Arsana dalam keterangannya membenarkan bahwa spanduk 'surat permohonan maaf' terpasang di depan pintu gerbang masuk kampus.
Kendati, Made Andi membantah bahwa spanduk tersebut dipasang atau merepresentasikan pandangan resmi UGM.
"Meski mengatasnamakan UGM, baliho tersebut tidak dipasang oleh UGM dan tidak mewakili pandangan resmi UGM. Dengan demikian, baliho tersebut mencatut identitas UGM dan tidak memenuhi ketentuan yang berlaku," tulis Made Andi.
Secara prinsip, UGM menghormati dan melindungi kebebasan berekspresi dan penyampaian aspirasi oleh setiap warga bangsa. Namun, menurut Made Andi, segala bentuk penyampaian aspirasi itu tetap perlu memerhatikan tata kelola aturan penggunaan ruang kampus. Selain itu juga tanggung jawab yang jelas dari pihak pemasangnya.
"Memperhatikan hal ini, baliho tersebut telah diturunkan karena lokasi pemasangan tidak sesuai dengan peruntukan pemasangan media informasi di area kampus," tutupnya.
BEM UGM buka suara
Terpisah, Plt. Ketua BEM UGM 2026, Sheron Adam Funay menyebut bahwa spanduk permohonan maaf tersebut dipasang oleh rekan-rekan akar rumput di kampus sebagai bentuk keresahan bersama. BEM mengaku mendukung aksi tersebut.
Sheron mengatakan situasi masyarakat Indonesia kini yang mengalami ketidakpastian, terutama jika melihat kondisi ekonomi belakangan.
Menurutnya dari berbagai data, terutama dalam hal ekonomi, menunjukkan rasa kepercayaan masyarakat, bahkan investor sekalipun tengah menurun. Mulai dari kondisi ekonomi hari ini yang kian tak pasti dan secara langsung berdampak pula terhadap kehidupan mahasiswa serta masyarakat secara luas.
"Kampus sebagai ruang hidup kaum akademis selayaknya dan sepantasnya dibebaskan dalam berekspresi. Sebatas itu saja sikap kampus yang teman-teman BEM harapkan. Karena kegelisahan teman-teman tidak berasal dari ruang kosong. walaupun kami tentu mengharapkan Kampus memiliki stance yang lebih radikal terhadap pemerintah," kata Sheron dalam keterangannya.
(kum/ugo)