Kunjungi Hotel Jemaah, Timwas Haji DPR Tampung Banyak Keluhan
Tim Pengawas Haji DPR mendapatkan banyak keluhan terkait penyelenggaraan ibadah haji.
Salah satu keluhan disampaikan oleh Sujianto, jemaah haji asal Jawa Timur. Saat disambangi oleh Bambang Haryo Soekartono, ia mengeluhkan lift penginapan yang lambat sehingga pada saat jemaah keluar bareng, pergerakan agak lamban.
Meskipun demikian, secara umum pelayanan hotel, penyediaan makanan, kecukupan makanan, rasa makanan di hotel cukup baik.
Menyikapi keluhan itu Bambang mengatakan akan mengakomodasi dan menyampaikan keluhan jemaah ke Kementerian Haji.
Usai meninjau penginapan jemaah, mengaku meskipun ada keluhan soal lift, secara umum fasilitas hotel jemaah cukup baik.
Hal itu tercermin dari akomodasi transportasi yang bisa menunjang pergerakan jemaah ke Masjidil Haram
"Jadi akses transportasi publik mudah, 24 jam, dan dengan mudahnya bisa mencapai ke Masjidil Haram ataupun kembali ke penginapan mereka. Itu setiap saat 24 jam. Jadi ini, ini, dan tadi bisa kita lihat berbagai bus dari arah yang berlawanan selalu berhenti di penginapan mereka, para jemaah ini," katanya.
Kemudian soal makanan, Bambang mengatakan yang disediakan untuk jemaah haji cukup berlimpah baik nasi maupun lauk pauk serta buah-buahnya.
"Lauk ya, mulai dari ayam, telur, ikan, itu berlimpah. Sayur dan sebagainya, termasuk buah. Buah ini juga ada apel, ini itu dan lain-lain. Jadi ini bukti bahwa pelayanan cukup bagus. Hanya mereka mengeluhkan masalah rasa. Rasa ini, jadi ini yang yang mereka keluhkan," katanya.
Selain Bambang, keluhan sama juga didapat oleh anggota Timwas Haji lain Dewi Asmara.
Dewi mengatakan berdasarkan informasi yang didapatnya dari jemaah, laundry yang disediakan oleh pihak hotel cukup terbatas. Dari jumlah jemaah 2000 yang ia tinjau, hanya ada 7 mesin cuci.
"Ini yang memang perlu dipikirkan," katanya.
Keluhan lain soal sinyal wifi. Dewi mengatakan banyak jemaah yang mengeluhkan sinyal wifi lambat di hotel.
Padahal, mereka membutuhkan sinyal untuk berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia.
"Tak hanya itu, keluhan juga ada soal koper, kopernya rusak, jebol. Mereka ingin beli, tapi enggak boleh. Gitu. Nah, ini tentunya karena masih menunggu pengangkutan mereka tentu dengan fasilitas airline itu yang menangani kira-kira," katanya.
(agt)