Aba-Aba Sang 'Dirigen' di Balik Jagal Sapi Prabowo-Gibran

CNN Indonesia
Jumat, 29 Mei 2026 06:56 WIB
Pemotongan sapi kurban milik Prabowo-Gibran di Masjid Istiqlal Jakarta. (CNN Indonesia/Febria Adha L)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sore itu wajah Nurdin bersimbah darah. Merah tua bercampur hitam menempel di pipi, pelipis, hingga bagian telinganya.

Darah hewan kurban Iduladha terlihat cipratannya pada kaos yang ia pakai. Cipratan darah kurban yang ia sembelih di Masjid Istiqlal pada hari raya Idul Adha tahun ini terlihat sudah mengering saat dia berbincang dengan awak media termasuk CNNIndonesia.com, Kamis (28/5).

Sebelumnya, di tengah hiruk pikuk proses pemotongan kurban di Masjid Istiqlal, Nurdin berdiri seperti orang yang paling tahu harus bergerak ke mana. Ia bukan orang yang memegang pisau panjang untuk menyembelih, tapi justru di tangan dia banyak keputusan diambil.

Nurdin adalah kepala potong dari Amanah Bersama, pihak yang menangani pemotongan hewan kurban di Istiqlal tahun ini.

Ia juga menjadi bagian dari tim jagal yang menangani dua sapi kurban paling menyita perhatian, yaitu sapi sumbangan dari Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di masjid tersebut.

Perannya berada di tim ringkus. Nama yang terdengar sederhana, tapi pekerjaannya jauh dari ringan.

Tugasnya memastikan sapi ditidurkan dalam posisi tepat sebelum disembelih. Ia mengatur orang-orang yang menarik tambang, menahan badan, menjaga kaki tetap terikat, sampai memastikan kepala sapi tak bergerak saat pisau mulai menyayat leher.

Untuk sapi berbobot lebih dari satu ton, kata Nurdin, tali tambang harus dipasang berlapis.

"Kalau sapi gede emang ada penanganan (khusus). Jadi ikat tambangnya itu kalau di kaki mesti dobel," ujarnya ketika berbincang bersama sejumlah awak media di depan RPH Masjid Istiqlal.

Saat Si Loreng, nama sapi kurban Prabowo di Masjid Istiqlal, dibaringkan ke lantai rumah potong, Nurdin mengambil posisi paling dekat dengan kepala. Mengenakan peci cokelat, ia menahan bagian kepala dengan sigap. Tangan kanannya hanya berjarak beberapa telapak dari bilah pisau jagal.

"Kalau kepalanya goyang sedikit, bisa kena tangan yang motong," katanya.

Saat sayatan pertama mengenai leher, darah menyembur deras ke berbagai arah. Mengenai lantai, mengenai baju, namun Nurdin bergeming. Ia tetap memegang kepala sapi erat-erat sambil mengawasi gerak penyembelih. Ia pun mengangkat tangan sebagai tanda berhenti.

Di arena itu, Nurdin seperti dirigen.

Bedanya, ia tidak berdiri di panggung konser dengan setelan jas hitam. Ia berdiri di lantai rumah potong dengan tangan berlumuran darah.

Peran serupa kembali ia jalankan saat pemotongan Wirabumi, sapi kurban dari Gibran.

Sekali lagi ia mengatur ritme, memastikan kaki terikat sempurna. Berpindah ke bagian kepala, Nurdin mengawasi jalannya penyembelihan.

Ketika waktu menyayat dirasa cukup, lambaian tangannya menjadi aba-aba terakhir yang langsung dipatuhi.

Dua sapi dari RI 1 dan RI 2 itu dipotong lancar.

Kepiawaian Nurdin tidak datang dalam semalam. Ia telah menggeluti pekerjaan ini sejak 1993. Tiga dekade lebih bergelut dengan urusan pemotongan hewan, ia sudah paham luar kepala bagaimana meringkus seekor sapi.

"Dulu mah tiga orang cukup. Sekarang enggak bisa," katanya sambil tertawa kecil.

Ukuran sapi sekarang jauh lebih besar. Bobot lima kuintal dulu dianggap besar. Kini banyak yang menembus lebih dari itu. Untuk sapi berukuran jumbo, minimal enam orang dibutuhkan hanya untuk mengendalikan tubuhnya.

Jam terbang panjang itu pula yang membawanya menjadi kepala potong.

Tahun ini, Nurdin turut merasakan geliat kurban yang semakin bergairah dibanding sebelumnya. Pada kurban ini, tim Amanah Bersama ditugaskan mengurus hampir 500 hewan dipotong di berbagai titik tempat mereka bertugas. Angka ini meningkat pesat dibanding tahun sebelumnya.

Meski begitu, Nurdin tak terlalu bicara soal penghasilan. Baginya, urusan uang bukan hal utama.

"Kita Alhamdulillah yang penting selamat saja. Kalau uang mah enggak jadi patokan," ujarnya

Di dalam satu tim jagal, kata dia, ada banyak peran yang bekerja bersama. Ada tim ringkus, penyembelih, orang yang menguliti, orang yang memisahkan kepala, hingga orang yang melepas kaki. Semua bergerak seperti satu mesin besar yang harus kompak.

Menjelang sore, darah di wajah Nurdin mulai mengering lebih pekat. Sebagian menempel di kerah bajunya.

Dua sapi utama hari itu sudah selesai dipotong. Kerja panjang sejak pagi akhirnya tuntas. Di ujung obrolan, Nurdin sempat menyampaikan satu harapan sederhana.

Suatu hari nanti, kalau diberi kesempatan, ia ingin menjadi pemeran utamanya. Bukan lagi memegang kepala sapi di sisi paling depan, melainkan menjadi orang yang memegang pisaunya.

"Bang, kalau tahun depan disuruh potong sapi Presiden mau enggak? Misalnya abang yang menggorok," tanya kami para awak media.

"Insyaallah," jawabnya sambil tersenyum.

(dhz/isn)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK