Kasus Peluru Nyasar di Universitas Negeri Padang Sudah 4 Kali Terjadi
Kasus peluru nyasar di Kampus Universiitas Negeri Padang (UNP) yang menyebabkan dua mahasiswa terluka pada Selasa (3/6), bukan yang pertama kali.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, sudah terjadi empat kali kasus serupa termasuk peristiwa Selasa (2/6) kemarin. Kasus peluru nyasar juga terjadi di tahun 2010, 2017 dan 2020.
Tahun 2010, peluru nyasar melukai salah seorang mahasiswi jurusan Sosiologi bernama, Astuti. Tahun 2017, peluru nyasar merusak jendela lantai 3 gedung rektorat UNP.
Peluru itu menembus kaca gedung pada malam hari saat di dalam gedung tidak ada aktivitas di dalam gedung rektorat. Di lantai gedung rektorat tersebut, pihak kepolisian menemukan dua butir proyektil peluru.
Sementara di tahun 2020, peluru nyasar terjadi bulan Februari mengenai kaca gedung Rektorat UNP. Proyektil peluru ukuran 5,56 milimeter ditemukan di lantai 3 gedung LP2M.
Sekretaris UNP, Erianjoni mengakui terjadinya beberapa kali peristiwa peluru nyasar tersebut. "Iya. Saya tidak ingat persisnya. Tapi bisa dilihat di jejak digital," katanya saat ditanya wartawan.
Kapendam XX Tuanku Imam Bonjol, Letkol Kav Taufiq membenarkan adanya dugaan peluru nyasar yang mengenai mahasiswa di UNP. Kendati demikian pihaknya masih melakukan investigasi untuk mengetahui asal muasal penembakan tersebut.
"Memang benar ada kejadian, ada dua masyarakat kita yang kena peluru nyasar, namun yang belum bisa dipastikan apakah peluru itu berasal dari anggota kodam kita yang sedang latihan atau bukan," ungkapnya.
Ia juga mengatakan pada saat kejadian, ada kegiatan latihan penembakan yang dilakukan dari pagi hingga sore hari.
"Latihan yang dilakukan Batalion DTP Singgalang itu dari pagi hingga sore menggunakan senjata laras panjang. Lokasi latihan sekitar 800 meter dari kampus," katanya.
Mengenai insiden peluru nyasar yang kerap terjadi, Taufik mengatakan TNI akan mengevaluasi.
"Kalau seperti itu kita tidak bisa perdiksikan, secara teknis lapangan tembak sudah standar, sudah diteliti berapa lebar dan tinggi. Tapi tetap kita evaluasi," ujarnya.
Menurutnya saat ini TNI fokus pada penanganan korban dan melakukan investigasi lanjutan. TNI juga menyatakan akan menanggung semua pembiayaan atau perawatan sampai korban sembuh.
Sementara itu, Humas UNP melalui keterangan tertulis menjelaskan kronologi penembakan tersebut. Kejadian tersebut terjadi pada Selasa sore sekitar pukul 17.00 WIB. Diduga peluru berasal dari lokasi Latihan Tembak TNI di Lapai, yang berjarak 800 meter dari kampus Induk Universitas Negeri Padang (UNP) Air Tawar Padang.
"Akibat peristiwa kecelakaan ini menyebabkan dua korban terkena peluru tersebut yakni Nova Wirantika (25 Tahun) mahasiswi Program Studi Pendidikan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UNP dan Guruh Guino (bukan mahasiswa UNP) yang merupakan teman dari salah seorang mahasiswa UNP. Kedua korban dalam posisi duduk bersama dengan teman-temannya di alun-alun depan Rektorat UNP," tulis UNP.
Rektor UNP Krismadinata yang saat itu berada di sekitar TKP, langsung turun tangan dengan menghubungi pihak Pangdam XX Tuanku Imam Bonjol dan Komandan Batalyon 133, termasuk KABINDA serta Polsek Padang Utara untuk berkoordinasi terkait dengan peristiwa tersebut.
"Di saat bersamaan Tim medis UNP segera melarikan korban ke Rumah Sakit terdekat RS Hermina Padang dengan menggunakan ambulans UNP untuk penanganan segera. Korban Nova Wirantika harus menjalani operasi malam ini, karena selongsong peluru masih bersarang di paha kirinya, sedangkan setelah mendapat tindakan medis di RS Hermina," ujarnya.
Lalu korban Guruh Guino telah ditangani oleh tim medis dan dipindahkan untuk proses pemulihan di RS Tentara Rekso Sudiryo Ganting Padang.
"Dalam penanganan kecelakaan pihak Pangdam Tuanku Imam Bonjol sangat bertanggung jawab mulai dari Pangdam Mayjen TNI Arief Gajah Mada, Kasdam, Danrem, Dandim, dan staf TNI lain serta beberapa dokter TNI hadir di RS Hermina untuk memberikan pertolongan segera," lanjutnya.
(ned/isn)