Tiyo Eks Ketua BEM UGM Temukan 2 Alat Diduga Pelacak di Mobil
Eks Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto mengaku menemukan dua unit alat pelacak di bawah kerangka dan ban mobil yang ia kendarai.
Ketua BEM UGM periode 2025 itu pun mengunggah video soal penemuan alat pelacak bernama PBX Finder itu melalui akun Instagram pribadinya.
Dalam keterangannya, Tiyo merinci kronologi penemuan alat pelacak yang ia duga sudah terpasang sejak Jumat (12/6) itu.
Tiyo menceritakan, dirinya berangkat dari Kudus ke Kota Semarang, Jawa Tengah pada Jumat pukul 14.00 WIB kemarin mengendarai mobil Toyota Fortuner milik saudaranya. Sesampainya di sana, ia menginap di sebuah hotel daerah Tembalang dan sempat menyambangi beberapa tempat.
Pada Sabtu pagi, Tiyo menghadiri acara diskusi di Balai Penjamin Mutu Provinsi Jateng yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Semarang. Di sana, ia sudah mendapati beberapa orang tak dikenal yang menguntit dan secara terang-terangan memotretnya.
"Itu menurut saya jadi aba-aba bahwa saya memang sedang diintai," kata Tiyo dalam keterangannya, Senin (15/6).
Selepas kegiatan atau sekitar pukul 12.30 WIB, Tiyo berangkat ke Yogyakarta untuk ikut dalam demonstrasi di Pertigaan Gejayan, Sleman, DIY.
Pada saat perjalanan Semarang-Yogya, Tiyo menyadari ada sejumlah notifikasi masuk ke handphone miliknya. Tiyo mengabaikannya karena sedang menyetir.
Setelah selesai ikut aksi di Gejayan atau antara pukul 20.00 WIB dan 21.00 WIB, ponselnya kembali memunculkan notifikasi dari sebuah pelacak bernama PBX Finder yang bergerak bersamanya.
"Saya temukan alat kotak yang punya magnet ditempel di bagian belakang bodinya. Itu saya ambil lalu setelah saya konsultasikan ke beberapa orang harus direndam di air, saya rendam di air semalaman," terang Tiyo.
Siang keesokan harinya atau Minggu (14/5) sekitar pukul 12.00 WIB, Tiyo berangkat kembali ke Semarang sambil membawa PBX Finder tadi. Hanya saja, saat itu ponselnya masih mendapatkan notifikasi serupa saat dia mengetahui ada pelacak yang bergerak bersamanya.
Tiyo waktu itu berpikiran, alat pelacak belum mati karena ia kurang lama merendamnya di air. Dia lagi-lagi mengabaikannya dan menyerahkan alat tersebut ke salah seorang rekannya di Semarang.
"Setelah saya pindahkan, saya menuju bandara. Loh kok notifikasi itu masih muncul lagi. Kami cari lagi dan ternyata kami temukan dalam bentuk lain yaitu lingkaran pipih ditempel menggunakan isolasi, lakban gitu hitam di bagian ban kanan belakang," beber Tiyo.
Hati Tiyo sempat berdebar karena tidak tahu apakah kedua alat ini saling terkait dan dipasang di waktu serta tempat yang berbeda.
Pemikiran Tiyo, alat pertama yang ia temukan dalam kondisi bersih, sehingga ia menduga bahwa perangkat tersebut baru dipasang saat berada di Yogyakarta.
"Tidak kotor sama sekali itu mungkin menandakan bahwa alat itu baru dipasang ketika saya di Jogja. Karena sepanjang perjalanan dari Semarang ke Jogja itu kan beberapa kali hujan, sehingga kalau dia tidak kotor, maka kemungkinan itu baru dipasang," kata Tiyo menduga.
Namun, untuk alat terpasang di ban atau perangkat kedua yang ia temukan melalui notifikasi PBX Finder pada ponsel, setelah ia cek ternyata sudah dipasang sejak Jumat 12 Juni 2026. Alat itu terakhir kali dicek oleh pemiliknya pada pukul 19.55 WIB atau ketika Tiyo masih berada di hotel daerah Tembalang.
Tiyo sendiri mengaku mulanya tak paham alat apa itu dan bagaimana bisa muncul melalui notifikasi di ponselnya, sehingga harus berkonsultasi dengan pakarnya.
"Bahkan ketika tadi disampaikan menurut pengamat ini bisa diketahui sejak kapan, baru saya cek dan tambah berdebar ternyata sejak Jumat, 12 Juni," aku Tiyo.
Setelah mendalami informasi ini, Tiyo selanjutnya terbang ke Makassar untuk menghadiri sebuah acara diskusi yang sudah terjadwal sebelumnya.
Bagaimanapun, Tiyo beranggapan bahwa alat pelacak ini dipasang dengan cara yang paling mudah diketahui oleh sasarannya karena di situlah letak teror sebenarnya.
"Saya kira justru itulah letak di mana terornya terjadi. Bahwa ini sengaja dipasang untuk saya ketahui supaya jadi alarm bagi diri saya bahwa ke mana pun saya pergi ada orang-orang yang tahu, ada orang-orang yang mengamati," pungkasnya.