Polisi Selidiki Teror Api dan Kebakaran Berulang di Rumah Fia Sleman

CNN Indonesia
Senin, 15 Jun 2026 20:13 WIB
Rumah Fia di Sleman alami kebakaran misterius. (CNN Indonesia/ Tunggul Damarjati)
Yogyakarta, CNN Indonesia --

Polisi akhirnya turun tangan menyelidiki fenomena teror api misterius yang memicu kebakaran berulang di kediaman Mutfiana alias Fia, daerah Seyegan, Sleman, DIY.

"Kami mengumpulkan fakta ada unsur kesengajaan atau tidak dalam peristiwa ini," kata Kasat Reskrim Polresta Sleman AKP Mateus Wiwit Kustiyadi di Pemkab setempat, Senin (15/6).

Wiwit menekankan, kepolisian tak buru-buru mencari ada tidaknya unsur pidana dari kejadian ini. Mereka akan melakukan pendalaman berbekal hasil penelitian secara ilmiah yang telah dilakukan oleh para peneliti UGM, UPN, BPPTKG hingga BRIN.

"Ada beberapa bahan-bahan yang sudah dari ahli langsung dari rekan-rekan BPBD yang sudah kami dapatkan. Dan itu nanti apakah menjadi alat bukti atau tidak, apakah nantinya ini akan berkembang menjadi suatu penegakan hukum atau tidak, itu akan kami dalami lebih lanjut," ucap Wiwit.

Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Bambang Kuntoro sementara itu menyebut bahwa penyelidikan diserahkan kepada kepolisian lantaran hasil penelitian secara ilmiah tak menemukan bukti kuat bahwa api di rumah Fia muncul secara alami.

"Latar belakang dari kepolisian sendiri, karena belum menemukan penyebabnya itu apa. Karena tidak ada hubungannya dengan gas alam di sana, maka nanti ini tugasnya satreskrim dengan timnya yang akan mencari penyebab munculnya api," kata Bambang.

BPBD juga telah menerima laporan hasil akhir penelitian oleh tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM. Yakni, berdasarkan uji sampel dari residu bekas kebakaran yang ada di lokasi kejadian, setelah dianalisis berasosiasi dengan adanya resin PVC yang mudah terbakar jika bertemu dengan sumber api.

Lalu, mengacu hasil pengamatan geologi lapangan dan kajian geofisika oleh UPN "Veteran" Yogyakarta, tidak ditemukan hubungan antara peristiwa kebakaran berulang dengan kondisi geologi sekitar dan keterdapatan gelembung gas di sungai Nepen.

Adapun hasil uji dari BPPTKG juga menunjukkan bahwa belum ditemukan adanya indikasi gas dari alam yang membahayakan hingga menyebabkan kebakaran. Serta berdasarkan pengukuran suhu, belum ditemukan anomali suhu yang signifikan yang menunjukkan pemicu timbulnya api.

"Kandungan gasnya baik metana mulai dari hidrogen, gas fosfin, maupun gas rawa dari masing-masing ini tadi itu tidak bisa, atau di bawah ambang batas untuk bisa menimbulkan api. Sehingga penelitian ini dari beliau beliau sudah cukup dan memberikan rilisnya kepada kami," papar Bambang.

Sebelumnya, Tim PKPE FT UGM memastikan pemicu fenomena api misterius di kediaman Mutfiana alias Fia, daerah Seyegan, Sleman, DIY bukanlah gas alam.

Tim tidak menemukan cukup bukti-bukti kuat bahwa api muncul secara alami dan dapat menyala karena pemantik elektromagnetik maupun nyala sendiri mengikuti kaidah self-ignition.

Tim menyimpulkan bahwa fenomena api misterius di rumah Fia tidak berasosiasi dengan gas alam, macam gas hidrogen (H2) atau gas fosfin (PH3), melainkan kandungan resin poly vinyl chloride (PVC).

Resin PVC ini mudah terbakar jika bertemu sumber api (ignition). Kandungan ini ditemukan dari residu kebakaran yang secara tidak umum ada di permukaan dinding keramik maupun kayu atau tripleks di rumah Fia. Kandungan ini ditemukan melalui metode FTIR.

Temuan kandungan resin PVC ini mengindikasikan fenomena api di rumah itu tidak muncul secara spontan.

Dosen sekaligus Asisten Profesor di Departemen Teknik Geologi UGM, yang tergabung dalam tim PKPE, Sarju Winardi mengatakan, timnya menduga resin PVC ini berasal dari campuran solvent atau zat pelarut.

"Residu dari poly vinyl ini diduga berasal dari substansi yang awalnya adalah campuran. Yang residu itu adalah sisa dari solid materialnya. Yang menjadi sumber dari, api itu adalah campuran solvent-nya. Jadi rupa-rupanya materi ini awalnya adalah sesuatu yang sifatnya bercampur ya, dengan sesuatu pelarut, solvent. Nah, pelarut inilah yang kemudian lepas sebagai, yang menghasilkan api," jelas Sarju di FT UGM, Sleman, DIY, Sabtu (14/6).

Residu berupa resin PVC ini, menurut Sarju, biasanya ditemukan pada sisa pembakaran benda-benda yang mengandung solvent macam lem atau cat.

Hanya saja, Sarju menekankan bahwa zat pelarut ini tidak bisa terpantik dan menyulutkan api dengan sendirinya. Solvent juga tidak bisa mengalami self-ignition hanya dengan suhu kamar.

"Solvent inilah yang dia terbakar. Nah, terbakarnya solvent itu ada pemantiknya," jelas Sarju.

"Ini harus dipantik oleh sesuatu yang kami tidak tahu, karena, karena kami tidak pada tahap sampai ke sana," sambungnya.

Sarju mengatakan bahwa timnya tak menginvestigasi atau menyimpulkan pemantik atau mekanisme api akhirnya bisa tersulut di rumah Fia.

(kum/dal)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK