Aliansi Guru Besar Kecam Dugaan Aksi Represif ke Massa Aksi Surabaya

CNN Indonesia
Minggu, 28 Jun 2026 07:00 WIB
Aparat kepolisian mulai memukul mundur massa aksi #IndonesiaSekarat dari depan Gedung Negara Grahadi Surabaya, Jumat (26/6) malam.
Aparat kepolisian mulai memukul mundur massa aksi #IndonesiaSekarat dari depan Gedung Negara Grahadi Surabaya, Jumat (26/6) malam. (CNN Indonesia/ Farid)
Surabaya, CNN Indonesia --

Puluhan guru besar, aktivis, dan intelektual lintas disiplin dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga di Indonesia menyatakan dukungan penuh kepada gerakan mahasiswa yang belakangan ini menghadapi tekanan dan tindakan represif aparat.

Pernyataan dari 64 tokoh itu dirilis Sabtu (27/6), menyusul serangkaian insiden kekerasan terhadap aksi penyampaian pendapat mahasiswa, termasuk pembubaran paksa dan penangkapan massal dalam demonstrasi di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat (27/6).

Dari kalangan ekonom dan pakar kebijakan publik, nama-nama yang turut menandatangani antara lain Anthony Budiawan, A. Prasetyantoko, Bhima Yudhistira Adhinegara, Rimawan Pradiptyo, Wahyudi Kumorotomo, Nailul Huda, Yazid Bindar dan Muh. Baiquni.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari bidang hukum dan hak asasi manusia, pernyataan ini didukung oleh Todung Mulya Lubis, Bivitri Susanti, Feri Amsari, Asfinawati, Muh. Isnur, Usman Hamid, La Ode Syarif, Rifqi Sjarief Assegaf, Mas Achmad Santosa, Taufik Basari, Teddy Basari, Josi Khatarina, Susi Dwi Hanrijanti, Zainal Arifin Mochtar, Norman Edwin Elnizar dan Rifqi Sjarief Assegaf.

Dari kalangan akademisi dan ilmuwan sosial turut membubuhkan nama Manneke Budiman, Sulistyowati Irianto, Ani Soetjipto, Ery Francisia Seda, Makmur Keliat, Saiful Mujani, Yanuar Nugroho, Yasraf A Piliang, Ikrar Nusa Bhakti, Marzuki Darusman, Sandra Moniaga, Hilmar Farid, Jaleswari Pramodhawardhani, Syafrudin Karimi, Dwi Andreas Santo, Martua Sirait, Salvatore Simarmata, Teddy Prasetyono, Ery Riyana Hardjapamekas, Danang Widoyoko, Suraya Afif, Sulistyowati Irianto dan Yustinus Prastowo.

Sedangkan tokoh-tokoh lain yang turut menandatangani adalah Achmad Arif, Agung Wibowo, Alif Iman, A. Setyo Wibowo, Anton J Supit, Arif Zulkifli, Dian Rositawati, Edgar Anugrapaksi, Firda Amalia, Haryadi, Hilda Assiyatun, Ita Fatia Nadya, Kurie Suditomo, Mardiyah Chamim, Media Wahyudi Askar, Nadia K Wibowo, Novrizal, Nurina, Silvia Irawan, Hilda Assiyatun, Jaleswari Pramodhawardhani dan Salvatore Simarmata.

Para guru besar dan tokoh intelektual itu menegaskan , gerakan mahasiswa merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah perjuangan bangsa. Mereka dinilai sebagai tokoh yang berani menyuarakan kebenaran dan keadilan.

"Gerakan mahasiswa adalah pilar penting sejarah perjuangan bangsa ini. Dari masa ke masa, mahasiswa telah membuktikan diri sebagai agen perubahan yang berani menyuarakan kebenaran dan keadilan," demikian pernyataan mereka.

Kaum guru besar dan intelektual juga menilai menilai kondisi saat ini menempatkan suara mahasiswa sebagai harapan yang tidak bisa dibungkam, mengingat banyak isu krusial yang dinilai diabaikan di negara ini.

"Hari ini, ketika banyak isu krusial seperti ketimpangan ekonomi, perusakan lingkungan, dan pelemahan suara kritis diabaikan, suara mahasiswa menjadi harapan bagi rakyat yang tak bersuara," ucapnya.

Para guru besar dan intelektual itu secara tegas mengecam segala bentuk penggembosan, penekanan, dan intimidasi terhadap mahasiswa. Mereka menyebut kebebasan berekspresi dan berorganisasi sebagai hak asasi yang dilindungi konstitusi dan tidak boleh dikoyak dengan dalih apapun.

"Kami mengecam keras segala bentuk penggembosan dan intimidasi terhadap mahasiswa. Kebebasan berekspresi dan berorganisasi adalah hak asas yang dilindungi konstitusi," ujarnya.

Desakan juga diarahkan kepada pemerintah dan institusi pendidikan tinggi agar membuka ruang partisipasi mahasiswa seluas-luasnya dalam proses demokrasi, bukan justru menjadi instrumen pembungkaman.

"Kami mendesak pemerintah dan institusi pendidikan khususnya perguruan tinggi untuk turut menghentikan segala upaya penggembosan gerakan mahasiswa dan membuka ruang seluas-luasnya bagi mahasiswa untuk berpartisipasi dalam proses demokrasi," katanya.

Forum ini juga mengingatkan tanggung jawab moral kalangan terdidik untuk tidak berdiam diri di ruang kelas saat demokrasi terancam. Mereka menyatakan solidaritas aktif kepada gerakan mahasiswa dan berkomitmen untuk terus mengawal perjuangan tersebut. Karena itu, para guru besar dan intelektual menyatakan dukungan penuh kepada gerakan mahasiswa dan akan terus bersolidaritas dalam memperjuangkan cita-cita pendiri bangsa yang berlandaskan kemanusiaan dan keadilan sosial.

"Kami percaya bahwa dengan kejujuran dan keberanian, kita dapat membangun Indonesia yang lebih demokratis, adil, dan sejahtera," pungkasnya.

Tim Advokasi Jaringan Anti Kriminalisasi yang terdiri dari LBH Surabaya dan KontraS Surabaya mencatat, jumlah massa aksi #IndonesiaSekarat yang ditangkap aparat Polrestabes Surabaya telah bertambah menjadi 24 orang, termasuk satu perempuan. Mereka masih ditahan dan diperiksa di Mapolrestabes Surabaya hingga Sabtu (27/6) malam.

LBH Surabaya juga memperoleh informasi bahwa dua orang di antara yang diamankan diduga akan diproses dalam perkara narkotika. Sebagian lainnya disebut akan diproses atas dugaan tindak pidana perusakan, namun tidak dilakukan penahanan, sementara peserta aksi lainnya dijadwalkan dipulangkan setelah pemeriksaan rampung.

Pernyataan Kapolrestabes Surabaya

Sementara itu, Polrestabes Surabaya mengaku mengamankan sejumlah orang dari massa aksi demonstrasi yang berlangsung di kawasan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat (26/6) malam.

Semalam, Kapolrestabes Surabaya Kombes Luthfie Sulistiawan menyebut jumlah yang diamankan masih terus dihitung. Sementara pihaknya mengaku mengerahkan 320 personel untuk mengawal jalannya unjuk rasa sejak sore hari.

"Masih dihitung ya, tapi sementara ini mungkin ada sekitar belasan lah, kita masih hitung," kata Luthfie, Jumat hampir tengah malam.

Luthfie mengklaim, aparat telah memberikan ruang bagi massa untuk menyampaikan aspirasi sejak sore. Namun situasi mulai memanas selepas waktu 18.00 WIB. Sekelompok orang yang belum terkonfirmasi sebagai massa aksi melakukan perusakan dan pelemparan.

"Namun sampai setelah magrib, mereka memprovokasi dengan melakukan perusakan. Dan kita imbau untuk berhenti melakukan perusakan, tapi mereka terus melakukan perusakan dan pelemparan, sehingga kita juga menilai bahwa itu selain membahayakan masyarakat, juga membahayakan keselamatan mereka sendiri," ujarnya.

Aparat kemudian memukul mundur massa secara bertahap dengan mengerahkan pasukan Dalmas dan Pasukan Anti Huru-hara ke Bundaran Air Mancur Balai Pemuda.

Kendati demikian, Luthfie mengklaim tidak ada korban luka dalam proses pembubaran tersebut. Ia juga menegaskan, polisi tidak menggunakan water cannon untuk membubarkan massa, kendaraan itu hanya difungsikan untuk memadamkan api yang dinyalakan saat demonstrasi.

[Gambas:Youtube]

(frd/kid) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]