PDIP Mau Lihat Jokowi Naik Kelas, Bukan Main Level Lokal di Lampung

CNN Indonesia
Senin, 29 Jun 2026 13:12 WIB
Ketua DPP PDI Perjuangan Andreas Hugo Pereira menyatakan lambang PDIP bukan kepala kerbau. (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho).
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketua DPP PDIP, Andreas Hugo Pareira merespons santai ritual adat injak kepala kerbau yang dijalani Presiden ketujuh RI Joko Widodo atau Jokowi dalam safari politiknya di Kedatun Keagungan, Jalan Sultan Haji, Kota Bandar Lampung, Sabtu (27/6).

Andreas tertawa saat ditanya apakah PDIP tersinggung dengan ritual tersebut. Dia pun menegaskan bahwa lambang PDIP bukan kepala kerbau, melainkan banteng. Ia juga menantang Jokowi naik kelas, tampil di panggung dunia sebagai mantan kepala negara.

"Kalau seandainya menginjak kepala kerbau itu, oleh yang menginjak, mau dimaknai sebagai simbolisasi menghina PDIP, ha-ha-ha..., maaf, lambang PDIP bukan kepala kerbau. Lambang PDIP itu banteng moncong putih," kata Andreas saat dihubungi, Senin (29/6).

Namun, di luar ritual itu, sebagai seorang yang pernah menjadi presiden, Andreas memandang Jokowi tak semestinya diidentikkan sebagai tokoh masyarakat tertentu.

Sebab, presiden adalah simbol pemersatu semua kelompok masyarakat dan adat istiadat di Indonesia. Menurut Andreas, alih-alih dinobatkan gelar adat, Jokowi sebagai mantan Presiden mestinya bisa masuk pergaulan internasional.

"Harus naik kelas dong, kelasnya harus beda dong. Masa sih, mantan presiden mainannya masih lokal-lokalan, masih mau cari dukungan suarakah?" Katanya.

Jokowi menerima gelar "Baginda Pemuka Bangsa" dalam prosesi adat Lampung yang berlangsung di Kedatun Keagungan, Jalan Sultan Haji, Kota Bandar Lampung, Sabtu (27/6).

Dalam momen itu, Jokowi yang duduk di sebuah kursi lengkap dengan pakaian adat setempat yang dia kenakan, menginjak kepala kerbau yang diletakkan di atas karpet merah.

Ketua DPP PSI, Bestari Barus memastikan pelaksanaan ritual bukan atas kemauan Jokowi, melainkan masyarakat adat di Lampung sebagai penghargaan atas kontribusi selama menjadi presiden.

"Ritual itu bukan Pak Jokowi buat. Pak Jokowi hanya sebagai orang yang diberikan gelar tersebut," kata Bestari saat dihubungi, Senin (29/6).

Sementara, tokoh adat Lampung, Mawardi Rahma Harirama yang bergelar Sultan Seghayo Dipuncak Nur, menjelaskan prosesi pemberian gelar adat atau muakhi telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari budaya masyarakat Lampung sejak ribuan tahun lalu.

"Prosesi pemberian muakhi (gelar adat) ini memang sudah berlangsung ribuan tahun lalu di Lampung. Ini adalah bagian dari penerapan piil pesenggiri, falsafah budaya Lampung yang mengedepankan nemui nyimah atau silaturahmi," ujar Mawardi.

(thr/ugo)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK