Budayawan Lampung Jelaskan Arti Prosesi Injak Kepala Kerbau Jokowi
Prosesi menginjak kepala kerbau merupakan bagian dari tradisi sakral budaya masyarakat Lampung yang sudah berusia ratusan tahun.
Prosesi injak kepala kerbau diadakan pada upacara begawi cakak pepadun, yaitu pengangkatan seseorang saat memperoleh kedudukan adat tertinggi atau naik tahta sebagai peyimbang atau pemimpin adat.
Ritual ini melambangkan pembersihan sifat-sifat buruk seperti kesombongan, iri dengki, dan ketamakan, serta bentuk penghormatan kepada tokoh yang dianugerahi gelar adat.
Demikian dijelaskan Budayawan Lampung yang juga Dewan Pakar Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL) Admi Syarif, di Bandar Lampung, Selasa (30/6).
Menurut Admi, prosesi injak kepala kerbau yang dalam bahasa Lampung Mesol Kibau sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu.
"Prosesi ini biasanya dilakukan dalam upacara Begawi Cakak Pepadun dalam tradisi masyarakat Lampung. Cakak Pepadun merupakan prosesi sakral yang menandai seseorang memperoleh kedudukan adat tertinggi atau naik takhta sebagai penyimbang atau pemimpin adat," kata Admi.
Admi menambahkan, salah satu prosesi dalam Cakak Pepadun adalah Mesol Kibau atau penyembelihan kerbau.
Kata Admi, dalam budaya Lampung, kerbau memiliki kedudukan yang istimewa. Kerbau sering menjadi ukuran dalam berbagai perhitungan adat maupun penyelenggaraan pesta besar.
"Jadi sebetulnya begini ya, kalau kita cerita menginjak kepala kerbau atau kiyak kulu kibau kalau bahasa lampung ini memang sudah dikenal cukup lama di Lampung walaupun mungkin tidak semua kebuwayan ya, tadi saya katakan masing masing beda," katanya.
Tapi, bagi Admi, yang merupakan Megou Pak Tulangbawang, dia mengenal istilah proses injak kulu kibau yang biasanya ada dalam acara Begawi.
"Nah ini dilakukan dalam Pasta Aji atau sesaat. Itu untuk menunjukkan bahwa prosesi itu sudah dilakukan sampai di ujung dan kenapa kerbau ini juga sampai saat ini memang saya tidak menemukan justifikasi khusus," katanya.
Namun demikian, Admi berpandangan penggunaan kepala kerbau dalam prosesi itu berkaitan dengan hal-hal baik.
"Kenapa kerbau. Kerbau itu memang dianggap sebagai suatu binatang yang kuat, binatang yang besar, jadi kita ingin menunjukkan bahwa Lampung itu orang yang kuat dan orang yang besar," kata Admi.
"Makanya kenapa tidak dipilih kambing. Kenapa tidak dipilih kepala ayam yang kita injak. Karena kita ingin menunjukkan bahwa orang Lampung itu tidak sembarangan," imbuh Admi.
Menurut Admi, pada satu acara tertentu seseorang ingin menunjukkan kebesaran dan kekuatan Lampung itu.
"Dan juga kenapa sih musti diinjak. Ini kan juga ada yang nanya. Kenapa kok gak di... Mungkin saya menebak nebak sendiri... Saya menjustifikasi sendiri kenapa diinjak mungkin orang lampung menganggap bahwa hawa nafsu atau hawa kebinatangan itu harus dibuang. Harus diinjak dengan cara diinjak," katanya.
Admi menambahkan, menginjak kepala kerbau dapat diartikan sebagai upaya menghilangkan roh kebinatangan dari manusia itu.
"Simbolik ya. Sekali lagi ini bukan suatu kepercayaan, bukan agama tapi mungkin bisa kita maknai sebagai suatu simbol. Iya. Itu sudah berlaku beratus ratus tahun jadi saya ingat dari jaman buyut saya itu sudah motong kepala kerbau," kata Admi.
Admi pun mempertanyakan mengapa prosesi injak kepala kerbau yang dilakukan Jokowi beberapa waktu lalu menjadi ramai. Padahal prosesi tersebut sudah berlangsung cukup lama.
Jokowi menerima gelar "Baginda Pemuka Bangsa" dalam prosesi adat Lampung yang berlangsung di Kedatun Keagungan, Jalan Sultan Haji, Kota Bandar Lampung, Sabtu (27/6).
Dalam momen itu, Jokowi yang duduk di sebuah kursi lengkap dengan pakaian adat setempat yang dia kenakan, menginjak kepala kerbau yang diletakkan di atas karpet merah.
"Dalam konteks itu, ini sudah cukup lama walaupun kan yang jadi masalah kenapa kok ini ketika ini kok jadi masalah kan. Saya pikir memang tadi yang pertama lampung itu banyak marganya, banyak sukunya, banyak tata-titi nya sehingga ini menurut saya memang harus diselesaikan oleh marganya masing masing," ujarnya
"Kita juga tidak tahu sampai titik,ini apakah proses tata titi muakhi nya ini sudah dilakukan dengan benar atau tidak ," ujarnya.
(sug/ugo)