Viral Petani Diangkut Drone Besar Saat Pulang-Pergi ke Sawah di Tuban

CNN Indonesia
Senin, 06 Jul 2026 22:04 WIB
Video viral menunjukkan petani diangkut drone di Tuban, Jawa Timur. Peristiwa itu ternyata benar-benar terjadi, dan berikut penjelasannya.
Ilustrasi penggunaan drone untuk pertanian. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Surabaya, CNN Indonesia --

Sebuah video yang memperlihatkan petani atau pekerja perkebunan diangkut menggunakan moda nirawak atau drone saat berangkat dan pulang lahan perkebunan viral di media sosial.

Video itu diunggah pada akun media sosial TikTok, @mbahkaruhon.tiktok.com1. Pemilik akun tersebut, Direktur PT Bina Tani Makmur Jombang, Budianto (47) mengatakan, video itu direkam di salah satu lahannya di kawasan Merakurak, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, baru-baru ini.

Dalam video yang diunggahnya, terlihat seorang petani sedang mengabadikan dirinya yang tengah diangkat menggunakan tali yang terhubung ke sebuah drone berkapasitas besar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tertulis juga keterangan, drone tersebut sedang mengantarkan petani pulang dari lahan menuju tempat parkir kendaraan, yang jaraknya sejauh 1,5 kilometer dari lokasi.

Ia membenarkan drone dalam video tersebut merupakan unit milik perusahaannya. Namun ia menyebutkan, bukan dirinya yang naik drone dalam video itu.

"Bukan saya yang naik drone. Yang naik [diangkut]drone itu kepala pekerja area. Itu mitra saya," kata Budianto saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (6/7).

Dia pun mengizinkan CNNIndonesia.com untuk memublikasikan ulang video yang sudah diunggah di akunnya.

Budianto menjelaskan perusahaannya bergerak di bidang perkebunan dan jual-beli buah yang hasil panennya dipasok ke sejumlah ritel modern hingga pasar lokal.

Selain mengelola kebun induk sendiri, untuk memenuhi kebutuhan pasokan, perusahaannya menjalin kerja sama dengan sejumlah mitra tani di berbagai wilayah Jawa Timur.

Budianto bercerita, penggunaan drone di perkebunan yang dikelolanya sendiri berawal dari kebutuhan pengairan lahan pertanian yang tak memiliki akses jalan memadai.

Begitu juga di kawasan Merakurak, Tuban, tempat video drone itu direkam.

Ia menyebut lokasi itu berupa lahan milik tuan tanah yang belum pernah ditanami. Letaknya berada di kawasan berlumpur di dekat pantai.

"Akses jalannya ini enggak bisa [sulit dilalui dengan kendaraan], soalnya enggak ada jalan," katanya.

Walhasil, Budianto dan para mitranya pun sepakat memakai drone pertanian berkapasitas besar untuk menjangkau lokasi lahan yang sulit diakses tersebut.

"Jadi solusinya gimana? Masa kita pakai helikopter. Oh, enggak mungkin. Izinnya besar. Pakai apa? Pakai drone aja. Drone pertanian yang kapasitasnya besar," ucapnya.

Dia menerangkan drone itu mulanya digunakan untuk mengangkut air atau pestisida. Namun karena kapasitasnya yang besar dan mampu mengangkut hingga 150 liter air atau beban 150 kilogram, pesawat nirawak itu pun dimodifikasi untuk membawa pupuk, bibit dan kebutuhan pertanian lainnya.

"Itu kan muatannya air kan bisa 150 liter air. Nah, itu kita kita modifikasi, kita copot ya, kita copot tandon airnya. Ya, kita modifikasi. Nah, nanti dikasih dikasih tampar, tali, tambang untuk ngikat pupuk atau bibit," ujarnya.

Selain untuk mengangkut sarana produksi pertanian, Budianto mengungkapkan drone itu juga jadi solusi bagi petani-petani muda yang dinilainya ogah mengangkut pupuk kandang menuju lahan tanam.

Menurutnya, pekerja atau petani muda enggan mengangkut pupuk kandang secara manual meski ditawari upah tinggi, sehingga drone dijadikan solusi agar pekerjaan itu tetap bisa dilakukan generasi muda tanpa harus bersentuhan langsung dengan kotoran ternak.

"Anak muda itu kita tarik untuk supaya kerja di kita ini enggak bisa, Mas. Enggak mau, siapa pun enggak mau meskipun gaji tinggi, enggak mau. Tapi kalau kita fasilitasi drone. Nah, dia kan enggak megang kohe (pupuk kandang). Nah, yang megang kohe kan nanti petani-petani yang pekerja yang sudah tua, yang sudah terbiasa dengan bau kotoran itu. Lah, yang muda-muda itu kan yang bagian operator dan lain-lain gitu kan," ucapnya.

Budianto mengaku drone itu pun dibelinya dengan harga yang tak murah. Dia menyebut harganya  berkisar antara Rp320 juta-Rp350 juta per unit.

"Drone itu yang kapasitas besar, ya sekelas [harga] Fortuner [Mobil SUV tipe Fortuner]  lah," ucapnya.

Budianto menjelaskan sebetulnya ada pula unggahan beberapa konten yang memperlihatkan drone tersebut sedang mengangkut pupuk dan bibit di media sosial TikTok-nya. Tapi, video itu sepi dan tak dapat banyak tanggapan.

Namun, saat ia iseng merekam dan mengunggah konten drone yang sedang mengangkut petani pulang dari sawah, respons netizen jadi ramai. Videonya ditonton jutaan kali dan ribuan kali dibagikan ulang. Budianto pun kaget.

"Itu sebenarnya buat konten saja. Itu sebenarnya ya iseng-iseng saja. 'Eh, coba-coba ini angkut aku [pekerja] kuat enggak? Wah, beratmu [pekerja] kan cuman mungkin 60 kg sampai 70 kg diangkut ya bisa nyampe sana ya bisa," ucapnya.

"Ternyata penuh, penuh komentar di situ. Waduh, lah ini TikTok ini beneran lah ini. Kok ini follower-nya banyak, komentarnya kok ribuan bahkan ini dilihat jutaan kali itu, Mas," tambah Budianto.

Aspek keselamatan

Budianto mengaku turut mempertimbangkan aspek keselamatan dalam praktik pengangkutan pekerja menggunakan drone tersebut, sehingga proses dilakukan satu per satu meski drone sebenarnya mampu mengangkut beban 150 kg atau lebih dari satu orang sekaligus.

"Tapi ya kita akan mikir keamanan juga kan, Mas. Jadi satu-satu aja. Naiknya juga pelan, nurunkan juga pelan-pelan," katanya.

Ia juga mengakui drone itu sebenarnya tidak diperuntukkan untuk mengangkut manusia. Karena itu hanya pekerja yang bersedia saja yang diangkat menggunakan pesawat nirawak tersebut. Sementara petani lain tetap menjangkau lahan tanam dengan berjalan kaki.

(frd/kid) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]