735 Anak Pekerja Migran Indonesia di Malaysia Lanjutkan SMA di RI

CNN Indonesia
Selasa, 07 Jul 2026 14:03 WIB
735 siswa dari 1700 lulusan Community Learning Center (CLC) tingkat SMP di Sabah dan Sarawak yang mendapatkan beasiswa Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM). (Dok. Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia --

Di kaki Gunung Kinabalu, Maria Agreda (14), tumbuh sebagai anak pekerja migran Indonesia (PMI). Belasan tahun orang tuanya menggarap lahan sayur sewaan di sebuah desa dataran tinggi bernama Kundasang untuk menyambung hidup.

Hidup di tanah rantau, Maria sekeluarga belum memiliki izin tinggal resmi dari pemerintah Malaysia. Meski begitu, semangatnya untuk belajar tak pernah surut. Sejak sekolah dasar hingga lulus SMP pada 2026, ia mengenyam pendidikan di Community Learning Center (CLC) Kundasang.

CLC adalah sebuah layanan pendidikan formal tingkat SD & SMP untuk anak-anak pekerja migran Indonesia yang merupakan hasil dari kesepakatan pemerintah Indonesia dan Malaysia sejak 2011 silam.

Awalnya, layanan ini dikhususkan untuk anak-anak PMI yang orang tuanya bekerja di ladang sawit. Belakangan, CLC juga dibuat di luar ladang sawit untuk memfasilitasi anak PMI yang bekerja di sektor lain.

Maria adalah satu dari 22 ribu siswa CLC yang tersebar di negara bagian Sabah & Sarawak di bawah koordinasi Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK). Setiap tahun ada lebih dari 1.700 siswa yang lulus dari CLC tingkat SMP, namun tak adanya dokumen keimigrasian menutup kesempatan anak-anak PMI untuk melanjutkan jenjang pendidikan ke SMA formal di Malaysia.

Selain mendirikan CLC, Kementerian Pendidikan Dasar & Menengah RI juga memiliki program beasiswa Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) dan beasiswa dari sejumlah yayasan pendidikan di Indonesia lewat program Gema Cita.

Melalui program yang didanai oleh Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan, Kementerian Pendidikan Dasar & Menengah, anak-anak PMI yang terpilih melalui proses seleksi dipulangkan ke Indonesia untuk melanjutkan pendidikan SMA di tanah air.

Tahun ini ada 735 siswa dari 1700 lulusan CLC tingkat SMP di Sabah dan Sarawak yang mendapatkan beasiswa ADEM. Maria yang bercita-cita menjadi ilmuwan adalah salah satu penerima beasiswa ini.

"Saya lanjut SMA di Yogyakarta, senang sekaligus sedih karena harus meninggalkan orang tua di sini," kata Maria seraya berharap kesempatan mengejar cita-cita lebih terbuka di Indonesia.

"Sejak lahir di sini (Sabah) kami tidak pernah berjauhan, meski berat melepas anak tapi ini demi masa depan dan cita-cita. Beasiswa ini juga membantu kami orang tua yang kurang mampu di tanah perantauan bisa memberi anak-anak kami kembali ke Indonesia," ujar ibunda Maria yang berasal dari Larantuka, Flores, NTT.

alt="" title="Maria Agreda" />Maria Agreda (14) tumbuh sebagai anak pekerja migran Indonesia (PMI). (Dok. Istimewa)

Para penerima beasiswa repatriasi ADEM ditambah beasiswa dari sejumlah yayasan pendidikan Indonesia tahun 2026 disebar ke 134 SMA di 12 Provinsi. Noorman Effendi, Konsul Jenderal RI di Kota Kinabalu 1 Juli lalu, mengatakan para siswa kembali ke Indonesia dengan menggunakan surat perjalanan laksana paspor.

"Semacam one way ticket, jadi mereka dibekali surat untuk perjalanan kembali ke tanah air karena mereka datang ke sini tanpa dokumen tidak punya KTP bahkan banyak di antara mereka sebelum ini tidak punya akta kelahiran. Jadi kami memberikan mereka SBPK (Surat Bukti Pencatatan Kelahiran), semacam akta kelahiran sementara yang akan memberikan mereka paling tidak satu nomor induk tunggal yang akan berguna bagi mereka nanti saat akan sekolah," ucap Noorman.

Sementara itu Atase Pendidikan KBRI Kuala Lumpur, Ahmad Romadhoni Surya Putra, menyebut kehadiran CLC di Sabah dan Sarawak adalah bukti kehadiran negara untuk menyediakan akses pendidikan bagi anak-anak pekerja migran.

Ratusan Siswa Tiba di Indonesia

124 siswa lulusan SMP dari Sabah, Sarawak, dan sejumlah daerah di Malaysia mendarat di Bandara Juanda, Surabaya, pada 2 Juli. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyambut kedatangan anak-anak dengan hangat.

Kehadiran siswa-siswi anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari Malaysia bukan hal baru bagi Gubernur Khofifah. Pasalnya, Jawa Timur sudah menjadi destinasi beasiswa repatriasi sejak program ini dimulai pada 2013. Ia menyebut ada 50 anak yang diterima di perguruan tinggi lewat jalur prestasi maupun tes.

"Pada proses penerimaan perguruan tinggi yang baru selesai, anak-anak ADEM ini memiliki prestasi yang sangat bagus. Artinya mereka punya peluang yang sama untuk mendapatkan peluang pendidikan yang sama," ucap Khofifah.

Ia juga berharap anak-anak yang baru tiba bisa meneruskan tren positif untuk terus melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas.

Provinsi Jawa Timur menyediakan 29 sekolah yang tersebar di 13 kabupaten/kota, terdiri dari 18 SMA dan 11 SMK yang telah dipilih sesuai hasil seleksi dan kompetensi para siswa pada program ADEM.

(tim/mhd)
KOMENTAR

TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK