Mahasiswa FEB USU Diduga Lecehkan Puluhan Korban

CNN Indonesia
Jumat, 10 Jul 2026 22:12 WIB
Ilustrasi. Dugaan pelecehan seksual oleh mahasiswa USU viral di media sosial, dengan 66 korban teridentifikasi. Pihak kampus berjanji akan mengambil tindakan tegas. (Istockphoto/Markgoddard)
Medan, CNN Indonesia --

Dugaan pelecehan seksual yang diduga dilakukan seorang mahasiswa Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sumatera Utara (USU) berinisial CHS viral di media sosial.

Kasus ini mencuat setelah sejumlah tangkapan layar percakapan yang diduga berisi tindakan pelecehan diunggah di antaranya melalui akun Instagram @chardtogi_ dan @manusiagoblokusu. Unggahan-unggahan tersebut memicu banyak pengakuan dari korban yang mengaku pernah mengalami perlakuan serupa dari terduga pelaku.

Jumlah orang yang diduga menjadi korbannya disebut mencapai puluhan.

Merespons hal tersebut, Manajer Humas dan Promosi USU, Dr Irsan Mulyadi, mengatakan pihaknya langsung merespons dugaan pelecehan seksual tersebut.

Setelah menerima informasi awal, FEB USU langsung berkoordinasi dengan BEM FEB USU sebagai pihak yang turut mendampingi proses pengaduan.

"Selanjutnya, pada Kamis, 9 Juli 2026, para korban telah hadir ke fakultas untuk menyampaikan pengaduan secara langsung dengan didampingi oleh BEM USU, BEM FEB USU, dan perwakilan Himpunan Mahasiswa Akuntansi," sebutnya saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com, Jumat (10/7).

Irsan menambahkan FEB USU telah menerima laporan tersebut, mendengarkan keterangan korban, serta menghimpun informasi awal sebagai dasar tindak lanjut.

Dia bilang pihak fakultas juga telah berkoordinasi dengan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) Universitas Sumatera Utara agar kasus ini diproses lebih lanjut.

"Bagi pihak yang merasa menjadi korban atau memiliki informasi terkait, kami mengimbau agar segera melapor kepada Satgas PPKS USU atau melalui pihak Fakultas," kata dia.

" Setiap laporan akan ditindaklanjuti dengan serius, profesional, serta tetap menjaga kerahasiaan identitas pelapor," tegas Irsan.

Dia juga menegaskan USU berkomitmen untuk menciptakan lingkungan kampus yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan seksual.

"Kami mengajak seluruh sivitas akademika untuk tetap tenang, tidak berspekulasi, dan memberikan kepercayaan kepada proses penanganan resmi yang sedang berjalan," ujar Irsan.

Dugaan modus upaya pelecehan

Sementara itu, pemilik akun Instagram @chardtogi_ yang menjadi wadah pengaduan para korban mengatakan hingga saat ini setidaknya terdapat sekitar 66 korban yang telah teridentifikasi, terdiri dari sekitar 60 perempuan dan enam laki-laki.

Dia bilang jumlah tersebut merupakan korban yang telah menyampaikan bukti-bukti yang dinilai valid.

"Korban yang tercatat sampai sekarang dengan bukti yang valid ada sekitar 60 perempuan dan enam laki-laki," ujarnya saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (10/7).

Ia menjelaskan modus yang diduga dilakukan pelaku beragam.

Beberapa di antaranya mulai dari mengajak korban melakukan video call sex (VCS), menginap bersama di hotel, hingga meminta korban mengirimkan foto atau video yang mengandung unsur seksual.

"Pelaku ini merupakan mahasiswa angkatan 2025 di Jurusan Akuntansi FEB USU. Dia sering mengajak korban untuk VCS, check in, kemudian meminta korban mengirim foto atau selfie yang memperlihatkan bagian intim," jelasnya.

"Korban mengaku terus-menerus dipaksa meski sudah menolak," sambungnya.

Korban laki-laki

Tidak hanya kepada perempuan, dugaan pelecehan juga disebut terjadi terhadap korban laki-laki dengan pola yang hampir serupa. Selain melalui pesan pribadi, beberapa korban mengaku mengalami tindakan yang lebih mengkhawatirkan.

"Ada yang mengaku diikuti hingga ke tempat kos sampai menimbulkan rasa takut dan trauma. Mayoritas korban ini merupakan mahasiswa USU," ungkapnya.

Kasus ini pertama kali terungkap setelah temannya menghubunginya.

Dia bilang korban merasa terganggu oleh pesan-pesan yang dikirim terduga pelaku. Korban kemudian menunjukkan sejumlah tangkapan layar percakapan yang berisi ajakan untuk bertemu secara pribadi.

"Awalnya teman saya menghubungi saya dan bilang ada kakak tingkat di USU yang mengganggunya. Dia menunjukkan bukti percakapan yang berisi ajakan seperti pelukan, ciuman, dan hal-hal lain yang membuatnya tidak nyaman," urainya.

Setelah menerima laporan tersebut, ia mencoba menghubungi terduga pelaku dan menelusuri informasi lebih lanjut. Ketika unggahan mengenai kasus itu dipublikasikan di media sosial, semakin banyak korban yang mengaku pernah mengalami perlakuan serupa.

"Awalnya hanya dua atau tiga korban yang memiliki bukti kuat. Setelah saya unggah, ternyata banyak korban lain yang melapor. Dari situlah jumlah korban terus bertambah," ucapnya.

Menurutnya, terduga pelaku telah mengakui kesalahannya dan menyampaikan permintaan maaf. Pelaku juga disebut sedang menjalani konseling. Namun, para korban Ingin terduga pelaku mempertanggungjawabkan perbuatannya.

"Kami telah melaporkan kasus ini kepada pihak kampus. Dan pihak kampus berjanji akan mengambil tindakan kepada si pelaku," paparnya.

Para korban, lanjutnya, berharap kampus menjatuhkan sanksi tegas kepada pelaku.

Sebagian korban juga menginginkan kasus tersebut diproses secara hukum. Namun, banyak korban masih merasa takut untuk melapor secara langsung kepada aparat penegak hukum.

"Sebenarnya korban ingin kasus ini dibawa ke ranah hukum, tetapi banyak yang masih takut untuk tampil dan membuat laporan resmi," ujarnya.

Ia menambahkan, pihak kampus telah menyatakan akan mengambil tindakan tegas terhadap terduga pelaku. Dampak yang dialami para korban pun beragam. Beberapa korban mengaku mengalami trauma hingga harus mengganti nomor telepon.

"Harapannya kasus ini segera selesai dan pelaku mendapatkan sanksi yang setimpal, baik secara hukum maupun sesuai aturan yang berlaku. Yang terpenting, kejadian seperti ini tidak terulang lagi kepada orang lain," kata dia.

(fnr/kid)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK