PT Energy SAE Indonesia Sedia Solusi CNG , Efisiensi Hingga 40 Persen

*** | CNN Indonesia
Jumat, 17 Jul 2026 17:31 WIB
PT Energy SAE Indonesia Sedia Solusi CNG , Efisiensi Hingga 40 Persen
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Energy SAE Indonesia resmi memperkenalkan solusi energi berbasis Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif energi yang lebih efisien, ekonomis, dan berkelanjutan bagi sektor industri, UMKM, restoran, hotel, rumah sakit, fasilitas komersial, hingga instansi pemerintah.

Peluncuran ini menjadi langkah nyata perusahaan dalam mendukung agenda pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional melalui optimalisasi pemanfaatan gas bumi domestik, serta sebagai solusi yang menjawab tingginya ketergantungan Indonesia terhadap Liquefied Petroleum Gas (LPG) impor.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), konsumsi LPG nasional mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri hanya sekitar 1,6-1,7 juta ton. Artinya, lebih dari 80 persen kebutuhan LPG nasional masih dipenuhi melalui impor, sehingga Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga energi dunia.

Melihat kondisi tersebut, PT Energy SAE Indonesia menghadirkan layanan energi berbasis CNG yang pada aplikasi tertentu, mampu menghasilkan efisiensi biaya energi hingga 40 persen dibandingkan penggunaan LPG. Pendiri PT Energy SAE Indonesia, Joko Ibrahim mengatakan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi negara yang mandiri dalam sektor energi melalui optimalisasi potensi gas bumi nasional.

Joko menyatakan, dalam hal ini, PT Energy SAE Indonesia hadir sebagai mitra pendorong lahirnya ekosistem energi nasional yang lebih efisien, berdaya saing, dan berkelanjutan. Sebagai bagian dari komitmen menghadirkan solusi energi yang lebih efisien dan berkelanjutan, saat ini perusahaan juga telah mengembangkan layanan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

"Indonesia memiliki kekayaan gas bumi yang luar biasa. Sudah saatnya potensi tersebut menjadi tulang punggung kemandirian energi nasional. Kami percaya masa depan energi Indonesia harus dibangun di atas sumber daya alam yang dimiliki bangsa sendiri," kata Joko Ibrahim.

Salah satu institusi yang dapat memanfaatkan CNG adalah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam Program Makan Bergizi Gratis. Dengan kebutuhan memasak dalam skala besar setiap hari, penggunaan CNG diperkirakan mampu meningkatkan efisiensi operasional secara signifikan.

Sebagai ilustrasi, apabila satu dapur SPPG mengeluarkan biaya energi sekitar Rp1 juta per hari untuk LPG, maka dengan efisiensi hingga 40 persen, biaya tersebut berpotensi turun menjadi sekitar Rp600 ribu per hari. Potensi penghematan mencapai sekitar Rp12 juta per bulan atau Rp144 juta per tahun untuk satu dapur. Simulasi ini merupakan ilustrasi berbasis asumsi efisiensi dan perlu divalidasi melalui implementasi operasional di lapangan.

Jika diterapkan pada 1.000 dapur SPPG, potensi efisiensi biaya operasional dapat mencapai sekitar Rp144 miliar per tahun, bergantung pada pola konsumsi energi masing-masing dapur.

Joko Ibrahim menambahkan, transformasi energi membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. PT Energy SAE Indonesia mendorong pemerintah, dunia industri, pelaku UMKM, akademisi, dan masyarakat bersama-sama mengoptimalkan pemanfaatan gas bumi nasional.

"Transformasi energi adalah perjalanan bersama. Dengan kolaborasi yang kuat, saya optimistis Indonesia mampu mengurangi ketergantungan terhadap energi impor, meningkatkan efisiensi ekonomi, serta memperkuat daya saing Indonesia di masa depan," tuturnya.

Sementara itu, pendiri dan Direktur PT Energy SAE Indonesia, Mr. Njin menyatakan bahwa tantangan Indonesia tidak terletak pada ketersediaan energi, melainkan percepatan implementasi.

"Selama ini kita masih bergantung pada LPG impor, padahal cadangan gas bumi nasional sangat besar. PT Energy SAE Indonesia hadir untuk membuktikan bahwa pemanfaatan CNG bukan lagi sekadar konsep, melainkan solusi yang sudah siap diterapkan. Kami ingin menjadi bagian dari gerakan menuju kemandirian energi nasional melalui inovasi yang lahir dari daerah," ujarnya.

Menurut Mr. Njin, keberhasilan perusahaan turut diukur dari dampak yang mampu diberikan bagi Indonesia.

"Bagi kami, keberhasilan bukan sekadar menjual CNG. Yang jauh lebih penting adalah menghadirkan solusi yang mampu meningkatkan efisiensi biaya operasional, memperkuat daya saing industri nasional, serta mendukung penggunaan anggaran negara secara lebih efektif. Semakin luas pemanfaatan gas bumi domestik, semakin besar peluang Indonesia mengurangi impor LPG, menghemat devisa negara, dan membangun kemandirian energi yang berkelanjutan," papar Mr. Njin.

Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, PT Energy SAE Indonesia menargetkan pembangunan jaringan distribusi dan layanan secara bertahap mulai 2026 dengan pengembangan cabang di berbagai ibu kota kabupaten di Indonesia.

Melalui ekspansi tersebut, perusahaan berfokus menyediakan akses energi CNG yang mudah, aman, dan kompetitif bagi masyarakat, pelaku industri, UMKM, serta instansi pemerintah.

Dengan semangat "Energi Indonesia untuk Indonesia", PT Energy SAE Indonesia optimistis inovasi yang lahir dari Tulungagung, Jawa Timur ini mampu menjadi bagian dari solusi nasional dalam memperkuat ketahanan energi, mengurangi ketergantungan terhadap LPG impor, serta mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih berkelanjutan.

(***/***)