Pasar Rakyat & Budaya Jateng 2026 Dibuka, Suguhkan Ratusan Karya Seni
Pasar Rakyat dan Budaya (Pasar Raya) Jawa Tengah 2026 resmi dibuka di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Kota Surakarta, Senin (20/7). Acara ini berlangsung mulai 20 hingga 31 Juli 2026.
Gelaran tersebut menampilkan ratusan karya seni dari berbagai disiplin. Ada pentas seni pertunjukan dengan 61 penyaji seni lintas daerah, 24 grup band, 100 karya seni lukis, 15 instalasi, dan tiga patung.
Di samping itu, Pasar Raya juga menghadirkan seni rakyat dan tradisional. Tercatat ada sepuluh kelompok seni lesung, lima kelompok reog, dan lima kelompok barongsai yang tampil di lokasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya seni pertunjukan, acara ini turut diramaikan bazaar UMKM dengan 50 stan produk lokal kreatif. Wahana permainan rakyat juga disediakan sebagai daya tarik bagi masyarakat yang datang bersama keluarga.
Mewakili Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, mengatakan gelaran ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Tengah. Acara ini sekaligus memberi ruang bagi para seniman untuk menampilkan karya mereka kepada publik.
"Harapannya bisa dilihat dan dinikmati masyarakat, sehingga muncul rasa cinta terhadap budaya. Karena kunci dari pelestarian adalah rasa cinta terhadap budaya itu sendiri," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (22/7).
Sumarno menjelaskan alasan pemilihan TBJT sebagai lokasi acara. Menurutnya, tempat itu merupakan rumah yang inklusif bagi seluruh seniman dan budayawan Jawa Tengah untuk berlatih dan berekspresi.
Ia berharap keterlibatan masyarakat dapat memicu semangat bersama menjaga seni tradisional agar tidak punah dimakan zaman. Karya para seniman dalam Pasar Raya ini pun ditampilkan secara lebih optimal dan terbuka bagi publik.
"Kami berharap masyarakat bisa hadir di sini, menikmati kekayaan budaya dan seni yang dimiliki Jawa Tengah. Mari kita lestarikan bersama-sama," kata Sumarno.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Tengah, Hanung Triyono, menambahkan TBJT merupakan ruang hidup bagi kebudayaan sekaligus ruang berekspresi bagi para seniman. Ia menyebut Pasar Raya menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi lintas pihak.
"Pasar Raya ini menjadi momentum untuk memperkuat semangat kolaborasi lintas pihak. Apabila ekosistem budaya tumbuh, dampaknya akan jauh lebih luas bagi ekonomi dan kearifan lokal," tuturnya.
Kepala Sub Bagian Umum Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah Jawa Tengah, Marlia Yulianti Rosyidah, turut memberikan apresiasi kepada Pemprov Jateng. Ia menilai penyelenggaraan Pasar Raya 2026 menunjukkan komitmen daerah dalam memajukan kebudayaan.
Dirinya menambahkan, Kementerian Kebudayaan terus berkomitmen memperkuat ekosistem kebudayaan di Jawa Tengah. Upaya itu dilakukan melalui revitalisasi ruang budaya, dana Indonesia Raya, dan Fasilitas Pemajuan Kebudayaan (FKP).
Pada kesempatan yang sama, Marlia menyampaikan kabar terkait penetapan 38 Warisan Budaya Takbenda (WBTB) asal Jawa Tengah. Puluhan warisan budaya itu berhasil lolos tahapan penilaian tingkat nasional.
Ia berharap capaian ini tidak berhenti pada penetapan status semata. Warisan budaya tersebut diharapkan terus dihidupkan, dipraktikkan, dan diwariskan kepada generasi penerus demi kesejahteraan masyarakat.
Apresiasi serupa datang dari warga Kota Surakarta, Rebecca Dian, yang mendatangi Pasar Raya 2026 bersama keluarganya. Ia menilai wahana yang disediakan sangat nyaman bagi pengunjung.
"Permainan anak-anaknya keren dan tempatnya bersih. Yang penting itu areanya bersih. Kalau buat anak-anak jadi nyaman," pungkasnya.
Pasar Raya Jawa Tengah 2026 akan berlangsung hingga 31 Juli mendatang di Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta. Masyarakat masih memiliki kesempatan untuk menyaksikan langsung ratusan karya seni yang dipamerkan sepanjang acara berlangsung.
(rir) Add
as a preferred source on Google