Mendagri Soroti Keberagaman Asal Usul 10 Calon Wisudawan Terbaik IPDN

Kemendagri | CNN Indonesia
Rabu, 22 Jul 2026 19:57 WIB
Kemendagri
Pembekalan Mendagri kepada Praja Utama IPDN Angkatan XXXIII Tahun 2026 yang akan wisuda. (Foto: Arsip Kemendagri)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Muhammad Tito Karnavian, mengapresiasi sepuluh calon wisudawan terbaik Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Angkatan XXXIII. Menurutnya, latar belakang mereka yang beragam menunjukkan proses rekrutmen dan pembelajaran di IPDN berjalan dengan baik.

Ia menegaskan para calon wisudawan tersebut meraih prestasi murni lewat kemampuan dan kerja keras, bukan karena privilese ekonomi keluarga. Hal itu disampaikan di Gedung Balairung Rudini IPDN Jatinangor, Jawa Barat, Rabu (22/7).

"Itu yang membuat saya bangga, artinya proses rekrutmen pada saat awal mereka benar. Dan proses belajar di sini juga benar," kata Tito dalam keterangan tertulis, Rabu (22/7).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menambahkan, para calon wisudawan itu bukan berasal dari kalangan mampu, namun bisa meraih posisi 10 besar dari total 1.204 praja yang akan diwisuda dan dilantik.

Dalam pembekalan kepada Praja Utama Angkatan XXXIII Tahun 2026 tersebut, Mendagri memanggil sepuluh calon wisudawan terbaik ke atas panggung. Ia menanyakan langsung latar belakang keluarga masing-masing kepada mereka.

Hasilnya, sepuluh praja itu berasal dari keluarga petani, pedagang, tenaga pendidik, wiraswasta, hingga anggota TNI dan Polri. Tidak satu pun dari mereka berasal dari keluarga dengan latar belakang ekonomi mapan.

"Berasal dari keluarga, latar belakang keluarga yang biasa-biasa saja, yang nomor satu bahkan orang tuanya hanya buruh bangunan dari NTT," ujar dia.

Tito menyebut ada pula praja yang orang tuanya hanya membuka warung kecil. Selain itu, ada juga yang orang tuanya merupakan anggota TNI/Polri dengan pangkat Bintara.

Salah satu sosok yang mendapat perhatian khusus adalah peraih peringkat pertama sekaligus penerima penghargaan Kartika Astha Brata. Penghargaan itu merupakan penghargaan tahunan bergengsi bagi Pamong Praja Muda lulusan terbaik IPDN.

Tahun ini, penghargaan tersebut jatuh kepada praja asal pendaftaran Provinsi Nusa Tenggara Timur, Aji Bayu Ramadhan. Ia mencatatkan Indeks Prestasi Kumulatif 3,84, angka tertinggi di antara seluruh calon wisudawan Angkatan XXXIII.

Aji menempuh pendidikan di Program Studi Teknologi Rekayasa Informasi Pemerintahan, Fakultas Manajemen Pemerintahan. Dalam dialog dengan Mendagri, ia bercerita bahwa ayahnya bekerja sebagai buruh, sementara ibunya seorang ibu rumah tangga.

Bagi Tito, kisah Aji membuktikan latar belakang keluarga bukan penghalang untuk meraih prestasi tertinggi. Ia lalu membagikan pengalaman pribadinya sebagai bentuk inspirasi bagi para calon wisudawan.

Tito mengisahkan dirinya juga berasal dari keluarga sederhana. Meski begitu, kondisi tersebut tidak menghalanginya untuk terus berjuang hingga menjadi lulusan terbaik Akademi Kepolisian Angkatan 1987.

Ia lantas menjelaskan ada tiga titik balik yang mengubah perjalanan hidupnya. Titik balik pertama terjadi saat dirinya diterima di Akademi Kepolisian.

Titik balik kedua terjadi ketika ia memperoleh Beasiswa Chevening untuk menempuh pendidikan Master of Arts in Police Studies di Inggris pada usia 26 tahun. Pengalaman itu memperluas wawasannya dari tingkat nasional ke tingkat global.

Titik balik ketiga terjadi saat ia menyelesaikan pendidikan doktor di Nanyang Technological University, Singapura. Menurutnya, pendidikan bukan hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membentuk kemampuan berpikir kritis, mengubah pola pikir, serta memperluas jejaring.

"Poin yang ingin saya sampaikan itu [pendidikan] membuka wawasan ilmiah, cara berpikir ilmiah, sehingga penyelesaian masalah juga selalu berbasis teori, data, referensi," tandas Tito.

(rir) Add as a preferred
source on Google