Kekeringan Gunungkidul, Warga Rongkop Jual Ternak Buat Beli Air

CNN Indonesia
Selasa, 28 Jul 2026 14:26 WIB
Warga di wilayah Rongkop, Gunungkidul, Yogyakarta, terpaksa menjual hewan ternak mereka hanya demi mendapat air bersih akibat kekeringan ekstrem.
Warga mengambil air dari lubang Telaga Banteng di Desa Melikan, Rongkop, Gunungkidul, DI Yogyakarta, Selasa (18/7). (Foto: ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah)
Yogyakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah warga di Kemesu, Semugih, Rongkop, Gunungkidul, DIY terpaksa menjual hewan ternak milik mereka demi bisa memenuhi kebutuhan air bersih selama musim kemarau ini.

Sutopo (46), salah seorang warga Kemesu menuturkan, sebanyak 68 KK di desanya setiap tahun mengalami kekeringan. Pada 2026 ini, warga sudah mulai kesulitan air bersih sejak April-Mei kemarin.

"Kami memang sudah bertahun-tahun kesulitan dalam hal air tersebut," kata Sutopo saat dihubungi, Selasa (28/7).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dijelaskan Sutopo, warga di wilayahnya tidak punya sumber air dan selama ini cuma mengandalkan penampungan air hujan (PAH). Saluran PDAM yang ada di tiga titik cuma bisa mengalir sepekan sekali.

Demi bisa memenuhi kebutuhan harian, kata Sutopo, warga Kemesu yang mayoritas berprofesi sebagai petani pun terpaksa menjual sebagian hewan ternak milik masing-masing guna bisa membeli air bersih.

Umumnya, warga menjual ayam milik mereka. Namun, beberapa juga melego kambing muda apabila punya stok ternak lebih.

"Mayoritas karena memang 90 persen petani, kemudian anak-anaknya yang muda merantau ke Jogja maupun ke Solo, jadi ya hanya tinggal orang tuanya yang sudah sepuh, yang sudah tua, ya apa yang mereka miliki saja untuk bisa dijual buat bisa membeli air," jelas Sutopo.

"Bukan menjual sapi ataupun jual kambing secara besar-besaran, enggak. Hanya kami kurangi satu atau ternak ayam kami jual kurangi begitu, ya bisa membeli begitu," sambungnya.

Jual ternak bak tradisi

Sutopo sendiri tahun ini terhitung sudah dua kali menjual ayam kampung miliknya. Seekor dibanderol sekitar Rp40 ribu untuk yang dewasa, sedangkan satu tangki air bersih dari wilayah Pracimantoro, Wonogiri, Jawa Tengah harganya mencapai Rp120 ribu.

Satu tangki air bersih ini biasanya bisa mencukupi kebutuhan harian per KK rata-rata sampai satu dua pekan. Termasuk, sebagian untuk keperluan kebutuhan minum ternak yang tersisa.

Pola menjual ternak untuk membeli kebutuhan air bersih ini bahkan sudah jadi semacam 'tradisi' bagi masyarakat Kemesu ketika musim kemarau tiba.

Saat kemarau tiba, warga sudah mulai memikirkan membeli pakan ternak dari luar pula, karena rumput pasti kering akibat tak diguyur hujan.

"Semenjak sudah berkeluarga (dan menetap di Kemesu) 2012, sesudah musim hujan selesai, kemudian berganti bulan kemarau, apa yang kami miliki terus kalau pas saya bekerja mungkin bisa untuk dapat tambahan untuk bisa membeli air tersebut, begitu," kata Sutopo yang asli Sukoharjo, Jawa Tengah itu.

Sutopo berkata dengan kemampuan ekonomi seadanya plus bantuan air pemerintah, masyarakat harus bisa bertahan sampai musim hujan tiba. Sutopo yang tergabung dalam regu Relawan Muslim Gunungkidul itu tak jarang memanfaatkan koneksinya guna mendatangkan bantuan air bersih untuk bersama.

Terlepas dari bantuan yang sudah ada, besar asa Sutopo dan warga Kemesu agar pemerintah bersedia membantu mendeteksi sumber air serta pendirian sumur bor di wilayahnya. Harapannya, masyarakat di sana tidak terus menerus bergantung pada bantuan pihak lain.

"Kami memang sudah bertahun-tahun tidak mendapati sumber air, baik itu sungai maupun sungai bawah tanah. Tapi kami harapan kami ada pihak terkait pihak pemerintah bisa membantu kami mungkin dideteksi ada sumber air di dalam tanah sehingga kami bisa mendapatkan air bersih begitu," ucapnya.

Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, mengatakan tahun ini instansinya telah mengalokasikan anggaran untuk penyaluran sebanyak 1.150 tangki air bersih.

Sampai hari ini, menurut Purwono, bantuan yang telah disalurkan mencapai 128 tangki dengan kapasitas 5 ribu liter per tangki.

Detailnya, 40 tangki disalurkan ke warga di Kecamatan atau Kapanewon Tepus, serta ke warga di Wonosari dan Panggang masing-masing 16 tangki. Sementara Kecamatan Rongkop sejauh ini jadi wilayah penerima terbanyak dengan total 56 tangki.

"Bantuan terus disalurkan dengan catatan ada permintaan secara resmi," kata Purwono, Senin (27/7).

Purwono menambahkan, penyaluran bantuan air bersih tidak hanya dilakukan oleh BPBD. Alasannya, 12 kecamatan punya anggaran droping air sendiri. Macam Purwosari, Panggang, Paliyan, Tanjungsari, Tepus, Rongkop, Girisubo, Patuk, Gedangsari, Nglipar, Semanu, dan Ponjong.

Sementara itu, kecamatan yang tidak memiliki anggaran droping air meliputi Wonosari, Saptosari, Karangmojo, Playen, Semin, dan Ngawen.

Per Juli 2026, bantuan air bersih secara mandiri telah disalurkan oleh Kecamatan Rongkop, Girisubo, Tepus, Tanjungsari, Panggang, Purwosari, dan Semanu.

"Berdasarkan monitoring yang dilakukan, bantuan air sudah disalurkan ke delapan kapanewon," tutur Purwono.

(kum/wis) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]