Mengenal Penyakit Katup Jantung: Jenis, Gejala, dan Penanganannya

Advertorial | CNN Indonesia
Senin, 10 Agu 2026 14:43 WIB
Mengenal Penyakit Katup Jantung: Jenis, Gejala, dan Penanganannya
(Foto: Istockphoto/stevanovicigor)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sesak saat menaiki tangga, cepat lelah, jantung berdebar, nyeri dada, atau kaki membengkak sering dianggap sebagai akibat kelelahan maupun pertambahan usia.

Padahal, keluhan dapat muncul ketika katup jantung tidak bekerja dengan baik. Penyakit ini sering berkembang secara perlahan, sehingga penderita tidak menyadari bahwa kemampuan jantungnya mulai menurun.

Jantung memiliki empat katup, yaitu mitral, aorta, trikuspid, dan pulmonal. Katup itu bekerja seperti pintu satu arah agar darah mengalir ke arah yang benar.

Ketika katup menyempit atau tidak menutup sempurna, aliran darah dapat terhambat atau kembali ke ruang jantung sebelumnya. Akibatnya, jantung harus bekerja lebih keras.

Jenis Gangguan Katup Jantung

Penyakit katup jantung dapat berupa:

  • Stenosis atau penyempitan, yaitu katup tidak dapat terbuka secara optimal.

  • Regurgitasi atau kebocoran, yaitu katup tidak dapat menutup dengan rapat.

  • Kelainan bawaan, yaitu bentuk katup sudah tidak normal sejak lahir.

Jika berlangsung dalam waktu lama, gangguan itu dapat menyebabkan ruang jantung membesar, memicu gangguan irama, menghambat aliran darah yang meningkatkan risiko pembentukan bekuan darah di dalam jantung, hingga penurunan kemampuan jantung dalam memompa darah.

Penyakit katup jantung dapat disebabkan demam rematik setelah infeksi tenggorokan, penuaan dan pengapuran katup, endokarditis atau infeksi katup, kelainan bawaan, hipertensi, serangan jantung, maupun gagal jantung.

Penyakit ini dapat dialami anak-anak hingga lansia, terutama mereka dengan riwayat kondisi tersebut, atau penyakit jantung koroner. Saat hamil, gangguan katup tanpa gejala dapat terasa karena kerja jantung meningkat.

Dokter Spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Vera Citra Setiawan Hoei, BMedSci., Sp.B.T.K.V., Subsp.JD(K) menyampaikan, penyakit katup jantung terjadi ketika katup menyempit atau tidak menutup sempurna, yang menyebabkan aliran darah terganggu dan jantung bekerja lebih keras.

"Dalam jangka panjang, bisa terjadi pembesaran jantung, gangguan irama, hingga penurunan fungsi pompa. Karena gejalanya muncul perlahan, pemeriksaan penting untuk menilai kerusakan dan menentukan penanganan yang tepat untuk pasien," kata dr. Vera.

Penyakit katup jantung ini ditandai dengan sejumlah gejala, seperti keluhan sesak napas saat beraktivitas atau berbaring;

mudah lelah dan stamina menurun; jantung berdebar atau berdetak tidak teratur; serta nyeri atau rasa tertekan di dada.

Lalu keluhan pusing, hampir pingsan, atau pingsan; hingga pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki, atau perut.

Berat-ringannya gejala tidak selalu menggambarkan tingkat kerusakan katup. Sebagian pasien dengan gangguan berat dapat hanya merasakan keluhan ringan karena sebelumnya tubuh telah menyesuaikan diri secara bertahap.

Pemeriksaan Penyakit Katup Jantung

Pemeriksaan utama adalah ekokardiografi atau USG jantung. Pemeriksaan ini membantu dokter melihat bentuk dan pergerakan katup, tingkat penyempitan atau kebocoran, ukuran ruang jantung, adanya bekuan darah pada ruang jantung serta kekuatan pompa jantung.

Sesuai kondisi pasien, pemeriksaan dapat dilengkapi dengan EKG, rontgen dada, tes latih jantung, CT Scan, MRI jantung, atau kateterisasi jantung.

Yang Perlu Dilakukan Setelah Diagnosis

Tidak semua pasien penyakit katup jantung harus langsung menjalani operasi. Gangguan ringan dapat dipantau melalui kontrol dan ekokardiografi berkala.

Sementara, obat dapat diberikan untuk mengurangi cairan, mengontrol tekanan darah dan irama jantung, serta mencegah bekuan darah pada kondisi tertentu.

Yang terpenting, pasien perlu mengikuti pengobatan, mengenali perubahan gejala, menjaga kesehatan gigi dan mulut, tidak merokok, serta mengontrol tekanan darah, gula darah, dan kolesterol.

Sesak berat, nyeri dada hebat, pingsan, atau bibir kebiruan adalah kondisi yang memerlukan pertolongan sesegera mungkin.

"Penanganan ditentukan berdasarkan tingkat kerusakan katup, gejala, fungsi pompa jantung, dan kondisi pasien. Pada kasus berat, tindakan dapat berupa pelebaran katup dengan balon, perbaikan atau penggantian katup, bedah minimal invasif, maupun TAVI untuk pasien tertentu," jelas dr. Vera.

Heart & Vascular Center Bethsaida Hospital Gading Serpong menghadirkan layanan jantung dan pembuluh darah secara terintegrasi, mulai dari konsultasi, pemeriksaan diagnostik, tindakan intervensi dan bedah jantung, hingga rehabilitasi setelah tindakan.

Pelayanan ini didukung oleh EKG, ekokardiografi, tes latih jantung, CT Scan 512 Slice, MRI 3 Tesla, kateterisasi jantung, serta fasilitas Intensive Cardiac Care Unit atau ICCU.

Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Margareth Aryani Santoso, MARS, menegaskan bahwa penanganan penyakit katup jantung membutuhkan ketepatan diagnosis, kolaborasi tim multidisiplin, serta kesiapan fasilitas pada setiap tahap perawatan.

"Melalui Heart & Vascular Center, kami berupaya menghadirkan layanan yang terintegrasi, mulai dari pemeriksaan, penentuan terapi, tindakan intervensi atau bedah, hingga rehabilitasi. Tujuannya bukan hanya menangani kelainan katup, tetapi juga membantu mempertahankan fungsi jantung dan meningkatkan kualitas hidup pasien," tutup dr. Margareth.

(adv/adv)