Pemerintah Sebut Asap Karhutla Belum Ganggu Negara Tetangga
Pemerintah menyatakan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia hingga saat ini belum mengganggu negara tetangga, termasuk Singapura dan Malaysia.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago mengatakan pemerintah terus mengantisipasi potensi asap karhutla menyebar ke wilayah negara lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya kira itu yang istilahnya apa, asap kita itu bisa ke mana-mana ya. Jadi kita juga upaya sekeras mungkin upaya itu untuk tidak mengganggu juga pihak lain. Itulah yang kita lakukan ya, baik ke negara tetangga yang mana pun dekat dengan kita itu pasti asap itu. Tapi selama sampai dengan hari ini tidak ada itu ya, dan itu tidak ada, dan kita jaga betul supaya tidak," kata Djamari di Kantor Kemenko Polkam, Jakarta, Senin (10/8).
Pemerintah mencatat lebih dari 107 ribu hektare lahan terbakar di Indonesia hingga Agustus ini. Fenomena El Nino memperparah kondisi karhutla.
"El Nino yang kuat, yang sudah berlaku dan mulai berlaku sekarang sampai dengan awal September atau awal Oktober yang akan datang. Keadaan ini akan sangat mempercepat proses penanganan kebakaran hutan kita yang terjadi saat ini," katanya.
Menurut Djamari, operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk menghasilkan hujan buatan merupakan langkah paling efektik menangani karhutla. Namun, ia menjelaskan OMC bergantung pada keberadaan awan hujan.
"Tetapi ada satu persyaratan yang harus kita hadapi yaitu kita menemukan ada awan hujan, istilahnya awan hujan. Selama awan hujan itu tidak bisa kita temukan, tidak ada, kita tidak akan bisa membuat hujan buatan," ujarnya.
Djamari mengatakan berdasarkan perkiraan, terdapat peluang munculnya awan hujan dalam beberapa hari hingga 18 Agustus.
"Minggu-minggu ini sampai dengan tanggal 18 Agustus itu ada tiga atau empat hari kemungkinan awan hujan ada.Kalau itu ada, itu memang mungkin anugrah yang diberikan kepada kita, mungkin menjelang 17 Agustus ini semoga itu akan keluar awan hujan itu," katanya.
(yoa/fra)[Gambas:Video CNN]
