Wagub Jatim Ungkap Dugaan Awal Kebakaran Bromo: Kelalaian Manusia

CNN Indonesia
Selasa, 11 Agu 2026 06:00 WIB
Petugas gabungan berupaya memadamkan kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Minggu (9/8/2026). Upaya pemadaman di kawasan terdampak dilakukan melalui jalur darat dan udara dengan menger
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengungkapkan dugaan awal penyebab kebakaran di kawasan Gunung Bromo yang terletak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jatim. (ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya)
Surabaya, CNN Indonesia --

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengungkapkan dugaan awal penyebab kebakaran di kawasan Gunung Bromo yang terletak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jatim.

Menurut Emil, sementara ini, faktor kelalaian manusia diduga menjadi pemicu awal kebakaran di kawasan Gunung Bromo tersebut. Meski demikian, fokus utama pemerintah saat ini masih pada upaya pemadaman api, belum pada penelusuran penyebab kebakaran.

"Sampai saat ini persisnya itu kami memang masih melakukan fokus kita masih pada pemadaman. Tetapi kita tidak memungkiri bahwa memang ada kemungkinan faktor kelalaian dan faktor manusia di dalamnya yang menjadi awal dari munculnya api tersebut. Namun demikian sekali lagi fokus kita saat ini adalah pada pemadaman," kata Emil dalam Prime News CNN Indonesia TV, Senin (10/8) malam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menyebut upaya pemadaman sempat terpusat di kawasan Puncak P-30 yang menjadi titik awal kebakaran hutan di Bromo dengan luas area terdampak mencapai 520 hektare. Menurut Emil, titik tersebut sudah dapat dinyatakan padam.

"Puncak P-30 sudah dapat dikatakan padam per hari ini," ujarnya.

Namun demikian, muncul titik api di kawasan Penanjakan, tepatnya Lembah Dingklik. Emil mengaku pihaknya belum dapat memastikan penyebab munculnya titik api baru tersebut, apakah berasal dari insiden lain yang melibatkan tindakan manusia atau akibat material yang terbawa angin.

"Kita tidak bisa memastikan apakah memang berasal dari insiden lain yang melibatkan tindakan manusia atau dengan adanya angin bisa membawa apakah itu daun, apakah itu material tertentu yang bisa kemudian ikut terbawa angin dan ternyata bisa menyebarkan api ke titik yang tidak berlokasi langsung bersebelahan gitu tapi terbawa oleh angin," ujarnya.

Ketua DPD Demokrat Jatim ini menyebut banyaknya variabel yang berpotensi memicu kebakaran. Hal itu membuat kesiagaan menjadi hal yang penting untuk terus dijaga, terutama di tengah musim kemarau seperti saat ini.

"Terlalu besar dan terlalu beragam variabel yang bisa memicu di saat musim kemarau seperti ini," katanya.

Ia menambahkan fenomena kebakaran akibat berbagai faktor pemicu itu tidak hanya terjadi di Bromo, melainkan juga di sejumlah titik lain di Indonesia. Hal itu, kata dia, turut dibahas dalam rapat koordinasi bersama Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan.

"Ini memang sebagaimana saya sampaikan juga ini juga terjadi di seluruh Indonesia di banyak titik tadi kami rakor dengan Menko Polkam ini terjadi meskipun penyebabnya beragam," ujarnya.

Seperti diketahui kebakaran di kawasan Bromo ini bermula pada Senin, 3 Agustus 2026 sekitar pukul 17.00 WIB. Menyusul meluasnya titik api, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menutup sementara seluruh akses wisata ke kawasan Gunung Bromo, per Sabtu (8/8).

Per, Senin (10/8) luasan kawasan Bromo yang terdampak mencapai 742 hektare.

Proses pemadaman api juga terus dilakukan di darat dan udara, dengan mengerahkan tiga helikopter, satu drone, dan delapan unit pemadam kebakaran. Sejumlah tim gabungan juga turut dilibatkan dalam operasi ini.

(frd/fra)


[Gambas:Video CNN]