8 Jam Menembus Domei dan Berita Kemerdekaan yang Tak Serentak

CNN Indonesia
Senin, 17 Agu 2026 06:20 WIB
Malam 16 Agustus 1945, Sukarno dan Hatta menyusun teks proklamasi kemerdekaan. Berita kemerdekaan segera disebarkan oleh pemuda ke seluruh Indonesia. (Arsip Istimewa via Wikimedia Commons (CC0 1.0))
Jakarta, CNN Indonesia --

Malam itu Sukarno dan Mohammad Hatta berkumpul di rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda, Kepala Kantor Penghubung Angkatan Laut Jepang. Sukarno yang mempersilakan Hatta menyusun teks proklamasi kemerdekaan Indonesia.

"Aku persilakan Bung Hatta menyusun teks ringkas itu sebab bahasanya kuanggap yang terbaik," demikian yang disampaikan Sukarno kepada Hatta pada malam 16 Agustus 1945.

Momen itu tertulis dalam autobiografi Hatta yang berjudul Menuju Gerbang Kemerdekaan.

Pada pukul 03.00 WIB, penyusunan teks proklamasi rampung dan direncanakan untuk dibacakan oleh Sukarno bersama Hatta pada pukul 10.00 WIB di Pegangsaan Timur, Jakarta.

Hatta tak langsung pulang. Ia berpesan kepada para pemuda yang hadir termasuk golongan pers: "Saudara-saudara seharinya sudah bekerja keras, tetapi saudara harus meneruskan pula dengan giat pekerjaan yang baru, yaitu memperbanyak teks proklamasi itu dan menyebarkannya ke seluruh Indonesia sedapat-dapatnya. Saudara yang bekerja di kantor Domei kawatkan sedapat-dapatnya berita proklamasi itu ke seluruh dunia yang dapat dicapai."

Perkataan Hatta itu menjadi sebuah sinyal bagi para golongan muda untuk segera mengabarkan ke seluruh daerah bahwa Indonesia sudah merdeka.

Sejumlah pemuda mengemban tugas berat menjadi "kurir" untuk menyebarluaskan berita proklamasi. Pada masa itu, kurir tidak sependek pembawa secarik pesan proklamasi, melainkan sebagai suatu 'jaringan manusia'.

Sementara Sukarno dan Hatta beristirahat untuk mempersiapkan diri membacakan proklamasi, golongan pelajar, Sukarni, dan kaigun (dikenal sebagai tiga golongan pemuda) masih terjaga hingga pagi.

Mereka mempersiapkan rencana untuk mengatur penyebarluasan berita proklamasi kemerdekaan. Dalam buku Sejarah Berita Proklamasi tertulis, salah satu titik pusat perkumpulan mereka berada di Def van den Bosch 56.

Di sana, mereka menyusun strategi taktis sekaligus mencetak kilat ribuan surat selebaran yang dibantu oleh tenaga rakyat dan buruh kantor berita Domei yang kini bernama Kantor Berita Antara.

Beriringan dengan proses pembacaan teks proklamasi kemerdekaan, barisan-barisan dari berbagai golongan juga sudah mulai menyebarkan kabar peristiwa bersejarah ini.

Mereka menyebarkan kabar ini di tempat-tempat mereka ditugaskan sambil dibayangi oleh pasukan Jepang. Dengan cepat kabar kemerdekaan sudah tersebar ke seluruh Jakarta dan daerah sekitarnya.

Menjalar ke luar Jakarta

Penyebaran berita ini juga dilakukan ke daerah di luar Jakarta dengan menggunakan kereta api, mobil, telepon, dan kawat. Butuh sekitar 8 jam agar peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia bisa untuk pertama kali disiarkan melalui radio.

Sukarni pada awalnya berusaha untuk merangsek masuk ke dalam studio siaran milik Domei, namun gagal. Pada pukul 13.00 WIB, upaya serupa juga dilakukan oleh sekelompok mahasiswa pejuang. Mereka gagal lantaran ditangkap Jepang akibat sepucuk pistol jatuh ketika menaiki tangga.

Seorang wartawan senior kantor berita Domei, Sjachrudin mencoba masuk dan membuahkan hasil. Sjachrudin bisa memasuki studio setelah memanjat tembok belakang dari Tanah Abang. Ia membawa dua lembar kertas yang terdiri dari surat Adam Malik dan teks lengkap proklamasi kemerdekaan.

Berita proklamasi kemerdekaan Indonesia lalu disiarkan pertama kalinya melalui radio pada pukul 19.00 WIB. Keberhasilan menyiarkan berita proklamasi kemerdekaan melalui radio tak terlepas dari upaya mengelabui tentara Jepang.

Saat proklamasi kemerdekaan pertama kali disiarkan, pengeras suara yang mengarah ke dalam ruangan studio berbunyi tentang warta berita resmi, padahal berita yang sebenarnya disiarkan adalah proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Namun, pada akhirnya, upaya pengelabuan tersebut diketahui juga. Hal ini menyebabkan Jusuf Ronodipuro sebagai pembaca berita proklamasi kemerdekaan dan Bachtiar Lubis sebagai redaktur pemberitaan diringkus Kempetai.

Mereka disiksa hingga akhirnya dibebaskan ketika Tomobachi pemimpin umum Radio Jepang datang dan membebaskannya dengan syarat agar menghentikan seluruh siaran radio.

Akan tetapi, Ronodipuro bersama teman-teman seperjuangan dengan dipelopori oleh Abdulrachman Saleh mendirikan pemancar-pemancar gelap dengan nama Radio Indonesia Merdeka.

Untuk siaran langsung luar negeri, radio menggunakan pengenal 'This is the voice of free Indonesia' yang terletak di Gondangdia (kini gedung BNI 46) dan di sekolah kedokteran, Salemba Raya.

Penyebaran kabar proklamasi di daerah

Kabar proklamasi kemerdekaan Indonesia diketahui dalam waktu berbeda di berbagai daerah Indonesia. Guru Besar Sejarah Universitas Indonesia (UI), Susanto Zuhdi, menjelaskan terdapat tiga (3) saluran utama dalam penyebaran berita proklamasi Indonesia ke daerah-daerah.

Zuhdi menuturkan upaya penyebaran berita proklamasi kemerdekaan itu utamanya dilakukan oleh para kaum muda yang telah berkecimpung dalam upaya pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Namun, ia menegaskan apa yang para kaum muda lakukan itu tidak sekadar menjadi penyebar berita proklamasi kemerdekaan semata, melainkan mereka turut aktif dalam membangun pemerintahan di daerah pascaproklamasi kemerdekaan dilakukan.

"Jadi, ada tiga kategori (penyebaran berita proklamasi kemerdekaan) itu. Lewat pers seperti radio karena kantor berita Domei sudah dikuasai oleh pemuda dan sebagainya, kemudian lewat media cetak seperti brosur atau selebaran yang dicetak, dan melalui para pemuda dan mahasiswa yang berada di Jakarta yang kemudian ditugasi untuk pulang ke daerahnya masing-masing," kata Zuhdi kepada CNNIndonesia.com lewat sambungan telepon, Minggu (9/8).

"Ini yang betul-betul mereka yang kembali ke daerahnya kemudian tidak sekadar menyampaikan bahwa kita sudah merdeka, tapi juga membentuk pemerintahan daerah," sambungnya.

Senada, Sejarawan dari Universitas Nasional Andi Achdian turut menjelaskan para pemuda, mahasiswa, dan tokoh yang kembali ke daerah masing-masing untuk mengabarkan informasi proklamasi kemerdekaan bukan sekadar sebagai kurir.

Andi menyebut keberadaan mereka untuk memberikan keyakinan kepada masyarakat bahwa Indonesia sudah merdeka, dengan penjelasan yang lebih lengkap. Terlebih, kata dia, pada masa itu informasi cenderung sulit dipercaya karena masih banyak tentara fasis Jepang di Indonesia.

"Jadi, meskipun orang sudah dengar lewat radio tapi tetap butuh diyakinkan karena ini kan masalah (apakah) benar nih (sudah) merdeka, yang memang perlu mendapat keyakinan ya," kata Andi kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (8/8).

Lebih jauh, Andi menjelaskan para pemuda atau tokoh yang kembali ke daerah langsung membangun struktur pemerintahan yang menjadi tindak lanjut sebuah negara yang sudah merdeka.

Oleh karena itu, Andi menegaskan bahwa mayoritas tokoh yang kembali ini bukan sebatas menjadi kurir, tetapi sebagai orang terpelajar yang sudah lama berkecimpung dalam proses upaya kemerdekaan bangsa Indonesia.

"Bagaimana tugas utama (mereka) melembagakan kemerdekaan Republik ya. Jadi, ketika mereka datang, mereka menyusun, membangun organisasi Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID), dan di dalam proses itu kemudian informasi terkait dengan kemerdekaan juga menjadi lebih sistematis disampaikan," ungkap Andi.

Kabar merdeka yang tak serentak

Perihal ada ketidakpercayaan masyarakat di daerah ketika menerima informasi proklamasi kemerdekaan turut tertulis dalam buku Sejarah Berita Proklamasi Kemerdekaan.

Di Sumatera, misalnya, terdapat warga yang langsung percaya dan ada pula warga yang meragukan.

Beberapa faktor penyebabnya yakni; tentara Jepang yang mengontrol secara ketat aktivitas politik di daerah, perbedaan kesempatan warga dalam mengakses informasi, perbedaan psikologis masyarakat dalam menyikapi keputusan yang berdampak besar, hingga adanya sikap kelompok masyarakat yang memiliki hubungan istimewa dengan penjajah.

Ketimpangan atau perbedaan dalam menerima kabar proklamasi kemerdekaan di Sumatera juga tampak.

Kota Bukittinggi menerima kabar tersebut di hari yang sama yakni pada malam 17 Agustus 1945. Informasi penting tersebut diterima oleh Ahmad Basya yang merupakan seorang pegawai pos, telegraf, dan telepon (PTT) di kantor berita Domei.

Kala itu, Ahmad Basya dengan sejawatnya yang bernama Asri Aidid Sutan Rajo Nan Sati langsung mengetik teks proklamasi tersebut sebanyak 10 rangkap yang selanjutnya ditempelkan di berbagai lokasi di Bukittinggi.

Berbeda dengan Bukittinggi yang menerima informasi kemerdekaan pada hari yang sama, kota Pekanbaru baru mengetahui informasi pada hari-hari akhir bulan Agustus.

Informasi itu diketahui pertama kali oleh Saari dan Azwar Apin yang juga merupakan seorang pegawai PTT di kantor berita Domei.

Kala itu, mereka juga baru menerima informasi berupa lisan bukan teks yang menyebabkan adanya keraguan warga dalam memercayai kabar kemerdekaan Indonesia.

Kepercayaan warga terkait informasi kemerdekaan mulai tumbuh pada 30 Agustus yang dipicu oleh tibanya teks tertulis proklamasi yang dibawakan dari Bukittinggi.

Kalimantan juga mengalami keterlambatan penerimaan informasi proklamasi kemerdekaan seperti Sumatera. Beberapa daerah bahkan baru menerima berita kemerdekaan Indonesia beberapa bulan setelahnya.

Selain disebabkan oleh sarana dan prasarana komunikasi yang sulit menjangkau daerah terpencil, keterlambatan informasi juga disebabkan oleh tindakan represif tentara fasis Jepang.

Pontianak menerima kabar kemerdekaan lebih cepat yakni pada malam 18 Agustus. Kala itu, pemuda bernama M. Sukandar mendengar kabar proklamasi dari radio miliknya yang disembunyikan dari tentara Jepang.

Melalui radio itu, ia mendengar Sukarno telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 yang selanjutnya ia teruskan secara sembunyi-sembunyi melalui lisan hingga menyebar dari mulut ke mulut.

Kontras dengan Pontianak, Pemangkat dan Singkawang baru menerima kabar proklamasi kemerdekaan Indonesia pada bulan Oktober.

Informasi proklamasi kemerdekaan Indonesia baru diterima masyarakat Singkawang melalui anggota Pemuda Penyiar Republik Indonesia (PPRI) bernama Ya' Ahmad Dundik pada 2 Oktober.

Sementara itu, masyarakat Pemangkat baru menerima kabar kemerdekaan Indonesia melalui M. Akir pada pertengahan Oktober. Akir adalah seorang pemuda asal Desa Semparuk dan kembali setelah merantau dari Semarang.

(ryn/fra)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK