Keluarga Bantul Pasang Spanduk Marah Usai Anjing 'John Wick' Diracun
Sebuah keluarga warga Sorowajan, Jomblangan, Banguntapan, Bantul, DI Yogyakarta memasang dua potong spanduk bertuliskan kalimat kecaman usai anjing mereka yang bernama 'John Wick' mati diduga diracun.
Total ada dua buah spanduk yang dipasang di pagar depan rumah tersebut. Spanduk itu begitu kontras terpasang di pagar besi dengan fondasi tembok bata dengan cat putih tersebut.
Pengguna jalan yang melintas pun bisa dipastikan akan menoleh untuk membaca dua spanduk dengan latar hitam, huruf (font) kapital tebal berwarna merah tersebut.
Pertama, bertuliskan 'Pembunuh!! Semoga Kamu Tidak Selamat di Jalan'. Kedua, spanduk dengan ukuran lebih kecil, bertuliskan 'Pengecut!!! Aku Doakan Umur Anakmu Kelak Tidak Akan Melebihi Umur Anjingku yang Kau Bunuh!!!'.
Paschal (23), putra dari keluarga itu mengatakan, dua spanduk tersebut dipasang atas dasar kesepakatan keluarga usai anjing mereka yang berjenis Labrador mati diduga diracun orang tak dikenal pada pagi hari, Kamis (16/7) bulan lalu.
Dia bercerita, kejadian bermula ketika ibunya keluar rumah untuk menyiram tanaman pagi hari. Saat itu, John Wick biasa dikeluarkan dari rumah, namun masih di area dalam pagar.
Ibuna Paschal saat itu melihat John Wick tiba-tiba mengalami kejang. Kemudian, dalam hitungan menit, anjing berusia 5,5 tahun yang telah dipelihara keluarga itu sejak 2021 tersebut tak lagi bergerak sama sekali.
Saat kejadian, Paschal masih tidur. Dia terbangun setelah mendengar ibunya berteriak meminta bantuan kepada ayahnya.
"Ibu saya teriak-teriak histeris gitu. Itu meminta bantuan sama bapak saya," kata Paschal saat ditemui di kediamannya, Jumat (14/8) siang.
Kedua orang tua Paschal kemudian berusaha memberikan pertolongan. Namun, kondisi John Wick sudah tidak tertolong. Setelahnya, mereka baru menemukan sepotong daging ayam di dekat pintu pagar.
Berdasarkan video rekaman kamera pengawas (CCTV) di rumah, John Wick sempat menyantap potongan daging ayam yang telah dicampur serbuk putih diduga racun sebelum meregang nyawa.
"Dikasih minum atau dikasih air putih dan sebagainya. Tapi ya posisi udah enggak terselamatkan, karena emang racunnya--emang ternyata sekuat itu," ujar Paschal.
"Tapi ya kita duga bahwa ini racun (serbuk putih) yang membunuh dia," imbuhnya.
Sekitar pukul 08.00 WIB masih pada hari yang sama, keluarga tersebut akhirnya memutuskan menguburkan John Wick di area depan rumah.
Lokasi itu dipilih karena merupakan tempat yang biasa digunakan John Wick bermain.
Sosok terduga pelaku
Pascakejadian, keluarga kemudian memeriksa rekaman CCTV di sekitar rumah untuk mencari orang yang diduga meletakkan makanan tersebut.
Paschal mengatakan, rekaman menunjukkan seorang pengendara motor matic yang berhenti cukup lama di depan rumah sekitar pukul 06.30 WIB di hari itu.
Menurut Paschal, pengendara tersebut berhenti tepat di depan rumah. Dia pun melihat ada gerak-gerik dari orang tersebut yang membuat keluarganya menduga dia berkaitan dengan kejadian itu.
"Nah ya udah kita asumsikan itu emang pelakunya gitu. Karena yang kelihatan paling lama itu ya dia gitu dan persis di depan gerbang," ujarnya.
Pengendara tersebut disebut menggunakan motor matic Honda Scoopy berwarna putih. Si terduga pelaku mengenakan jaket hitam dan sepatu sneakers.
Lantaran nomor polisi kendaraan tidak terlihat dalam rekaman, Paschal mencoba menelusuri dengan mengecek berbagai lokasi CCTV di sekitaran rumahnya.
Dari penelusuran tersebut, dia kemudian membuat sketsa pergerakan si pengendara. Hanya saja, nomor polisi pada kendaraan tetap tidak terdeteksi, karena dugaannya memang tak dipasang si pengendara tersebut.
"Gak ada (nomor polisi). Ya kita tuh dari kemarin tuh nyari terus tapi kok Nah ya kita ngelihatnya kok kayaknya gak masang ya ini tuh," katanya.
Dari rangkaian rekaman tersebut, Paschal cuma bisa menduga bahwa sosok terduga pelaku ini cukup paham aktivitas orang-orang di rumahnya kala pagi hari. Termasuk, lokasi yang biasa digunakan John Wick saat berada di dekat pagar.
Pihaknya pun menduga ada unsur kesengajaan yang sudah direncanakan terduga pelaku untuk meracuni anjing tersebut.
"Dengan gak pakai pelat nomor, dia udah tahu di mana anjing saya udah sering keluar, kepalanya di mana gitu, ditaruhnya (ayam beracun) di situ. Lalu, jamnya (kedatangan terduga pelaku) kok 30 menit sebelum ibu saya keluar, kok terlalu terlalu rapi ya," lanjutnya.
Paschal mengatakan, selama John Wick dipelihara, keluarga tidak pernah mendapat keluhan dari warga terkait keberadaan anjing tersebut. Dia juga tidak mendengar adanya komplain dari warga sekitar.
John Wick biasanya hanya berada di sekitar rumah ketika dikeluarkan. Anjing itu tidak pernah sampai keluar pagar. Paschal sendiri mengaku sangat amat jarang mengajak labrador kesayangannya itu jalan-jalan.
Oleh karenanya, keluarga benar-benar tidak paham motif di balik dugaan peracunan tersebut.
Kasus anjing peliharaan mati diracun pernah dialami keluarga Paschal di tahun 2011. Setelah itu mereka masih memelihara dua anjing masing-masing jenis Labrador dan Beagle yang mati karena usia.
Harap pelaku baca spanduk
Malam setelah kejadian, keluarga yang biasanya menghabiskan waktu bersama di luar rumah juga merasakan suasana berbeda karena John Wick sudah tiada.
Dalam suasana duka itu, keluarga sepakat membuat spanduk berisi kecaman yang dipasang sehari berselang. Ide muncul setelah keluarga mengalami trauma akibat kematian John Wick, terutama sang ibu yang menyaksikan langsung kondisi anjingnya saat kejadian.
Selain spanduk, keluarga turut menempel dua buah poster kecil bergambar ilustrasi sesuai ciri-ciri terduga pelaku. Tulisannya 'Iblis Penyebar Racun-Waspadai Hewan Peliharan Anda!!'.
"Kita kan trauma toh, wah ada kayak ya itu anjing yang udah kita sayang banget terus udah bagian jadi keluarga gitu," ujarnya.
Spanduk ini pun viral di media sosial, salah satunya platform Threads. Namun, kata Paschal, bukan dia maupun anggota keluarganya yang menggunggahnya.
Paschal mengatakan, keluarga tetap menginginkan keadilan atas kematian John Wick. Mereka berharap orang yang mereka duga sebagai pelaku datang dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.
"Kalau dari segi pelaku jelas kita harapannya dia bisa datang, minta maaf dan hadapi konsekuensi hukumnya gitu," kata Paschal.
"Kalau enggak datang ya sudah, itu urusanmu sendiri lah sama Tuhan besok," tegasnya.
(kum/kid)