Lama Tunggu Momentum, Jangan Sampai Investor Lewatkan Peluang Cuan

Advertorial | CNN Indonesia
Selasa, 18 Agu 2026 21:30 WIB
Lama Tunggu Momentum, Jangan Sampai Investor Lewatkan Peluang Cuan
Chief Marketing Officer (CMO) Nanovest, Jovita Widjaja
Jakarta, CNN Indonesia --

Situasi dinamika ekonomi global yang masih serba tak pasti, membuat banyak calon investor bertanya jika sekarang adalah waktu yang tepat untuk mulai berinvestasi.

Ketika pasar bergerak fluktuatif, suku bunga berubah, dan sentimen geopolitik mempengaruhi ekonomi dunia, tidak sedikit yang memilih menunggu hingga kondisi dianggap lebih aman sebelum mengambil keputusan investasi.

Jika melihat perjalanan ekonomi beberapa tahun terakhir, ketidakpastian tidak bersifat sementara. Mulai dari pandemi Covid-19 pada 2020, penyebaran varian Delta dan Omicron pada 2021, lonjakan inflasi dan kenaikan suku bunga global pada 2022, konflik Rusia-Ukraina pada 2023, kekhawatiran resesi serta perkembangan artificial intelligence yang memicu volatilitas pasar pada 2024, perang tarif Amerika Serikat pada 2025, hingga memanasnya konflik di Timur Tengah sepanjang 2026.

Berbagai peristiwa tersebut menunjukkan bahwa selalu ada faktor baru yang mempengaruhi pasar dan membentuk sentimen investor.

Chief Marketing Officer (CMO) Nanovest, Jovita Widjaja mengatakan, kondisi ini tidak seharusnya menjadi alasan untuk menunda investasi. Menurutnya, ketidakpastian merupakan bagian dari siklus pasar yang akan selalu ada.

Karena itu, keputusan investasi tidak seharusnya didasarkan pada ada atau tidaknya krisis, melainkan pada tujuan keuangan dan strategi investasi yang konsisten.

"Kalau melihat perjalanan ekonomi global, hampir setiap tahun selalu ada peristiwa yang memicu kekhawatiran pasar. Artinya, krisis akan selalu ada dalam berbagai bentuk. Kalau kita terus menjadikan krisis sebagai alasan untuk menunda investasi, kemungkinan besar kita tidak akan pernah mulai," ujar Jovita.

"Ketakutan pasar akan selalu muncul, tetapi jika melihat sejarahnya, pasar selalu mampu pulih dan kembali bertumbuh. Yang berisiko bukan hanya menghadapi volatilitas, tetapi juga kehilangan peluang pertumbuhan karena terlalu lama menunggu," imbuhnya.

Mengubah Cara Pandang Tentang Krisis

Jovita mengatakan, salah satu tantangan terbesar investor adalah belum memahami profil risiko masing-masing. Akibatnya, banyak investor panik ketika pasar mengalami volatilitas dan mengambil keputusan berdasarkan emosi, seperti menjual aset saat harga sedang turun.

Padahal sebelum mulai berinvestasi, langkah pertama yang perlu dilakukan bukan hanya memilih produk investasi, tetapi juga memahami diri sendiri dan mengenali tingkat risiko yang mampu dihadapi.

Berbekal pengalaman lebih dari 14 tahun di industri investasi dan sekuritas, Jovita telah melewati berbagai siklus pasar, mulai dari periode pertumbuhan hingga berbagai krisis global yang memicu koreksi signifikan.

Tidak lama setelah krisis apa pun itu, kata Jovita, pasar kembali pulih bahkan mencatatkan kenaikan yang lebih tinggi dari penurunannya.

"Pengalaman itu mengajarkan bahwa pertanyaannya bukan lagi if the market will rebound, melainkan when. Yang terpenting adalah memiliki strategi investasi dan tetap disiplin menjalaninya," ujarnya.

Menurutnya, volatilitas adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan investasi. Investor yang memahami profil risikonya akan lebih siap menghadapi fluktuasi pasar tanpa mudah terbawa kepanikan, karena mereka memilih instrumen yang sesuai dengan tujuan keuangan dan tingkat toleransi risikonya.

"Tidak ada yang bisa secara konsisten menentukan kapan pasar berada di titik terendah atau tertinggi. Karena itu, membangun kebiasaan berinvestasi secara rutin jauh lebih realistis dibanding terus menunggu momentum yang dianggap sempurna. Ketika kita memahami profil risiko sendiri, kita juga akan lebih tenang menghadapi pergerakan pasar karena sudah mengetahui strategi investasi yang paling sesuai dengan diri kita," tutur Jovita.

Untuk mendukung kebutuhan investor dengan karakter yang berbeda-beda, Nanovest menyediakan berbagai pilihan produk investasi sesuai profil risiko masing-masing.

Investor dengan profil yang lebih konservatif dapat memilih Earn Program Nanovest atau Digital Gold sebagai alternatif yang lebih stabil, sementara investor dengan toleransi risiko yang lebih tinggi dapat berinvestasi di saham Amerika Serikat maupun aset kripto.

Dengan memahami profil risiko sejak awal, investor dapat membangun portofolio yang lebih sesuai dengan kebutuhannya dan tetap konsisten menjalankan strategi investasi, meskipun pasar sedang bergejolak.

Jangan Tunggu Momentum, Konsistensi Lebih Penting

Peningkatan jumlah investor Indonesia menjadi sinyal positif bagi perkembangan industri keuangan. Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan kondisi ekonomi global, investor membutuhkan lebih dari sekadar akses transaksi. Mereka membutuhkan pemahaman yang tepat agar tidak mudah dipengaruhi ketakutan jangka pendek.

Jovita menilai, kepercayaan dibangun melalui edukasi yang berkelanjutan, transparansi, serta kemampuan membantu masyarakat memahami bahwa fluktuasi pasar merupakan bagian alami dari perjalanan investasi.

"Pada akhirnya, investasi bukan tentang menunggu waktu yang benar-benar sempurna untuk mulai, karena kondisi tersebut mungkin tidak akan pernah datang," katanya.

"Krisis akan selalu menjadi bagian dari perjalanan pasar, tetapi sejarah juga menunjukkan bahwa pasar memiliki kemampuan untuk pulih dan terus bertumbuh. Karena itu, yang paling penting bukan menghindari setiap gejolak, melainkan membangun kebiasaan berinvestasi yang konsisten agar tidak kehilangan peluang pertumbuhan dalam jangka panjang," pungkas Jovita.

(adv/adv)