Genburgeract, Gerakan 'Kritik Tambal Aspal' Para Pemuda Bekasi

CNN Indonesia
Kamis, 20 Agu 2026 15:10 WIB
Gerakan Genburgeract dari Bekasi fokus memperbaiki, membangun, dan memelihara fasilitas umum warga Bekasi. (Foto: Dok. Istimewa)
Bekasi, CNN Indonesia --

Kritik konstruktif diterjemahkan secara harfiah oleh sekelompok pemuda dari Bekasi yang menamakan dirinya Genburgeract. Aksi mereka bukan terinspirasi ucapan politisi di televisi, melainkan dari pengalaman personal para anggotanya di ruang dan fasilitas publik.

Kritik-kritik yang membangun itu benar-benar terwujud di dunia nyata dengan cara menyediakan, memperbaiki, atau memelihara fasilitas umum di Bekasi.

Genburgeract memajang aksi-aksi nyata itu laman Instagram mereka, @genburgeract. Salah satunya foto tiga bangku panjang yang dijejer bersaf di halte Komsen Jatiasih, Bekasi. Di bangku tersebut terpampang tulisan "dibikin warga" dan "burgeract".

Bangku-bangku tersebut, di halte yang kondisinya memprihatinkan, tidak muncul begitu saja, melainkan hasil inisiatif gerakan Genburgeract.

Sebelum menjalankan aksi bangku halte ini, Genburgeract juga telah melakukan aksi-aksi lainnya, seperti melakukan penambalan jalan dan menggambar penanda jalan rusak di 15 titik, membersihkan sejumlah halte, hingga membersihkan sampah di taman kota.

Gerakan Genburgeract terbentuk pada Januari 2026 dengan fokus memperbaiki fasilitas umum dan jalan rusak di Bekasi. 

Ide terbentuknya gerakan ini berawal dari obrolan ketika kumpul bersama sepulang kerja. Dalam obrolan tersebut, muncul keluhan soal fasilitas umum yang tidak terawat dan banyaknya jalan berlubang.

Namun, gerakan ini menjadi lebih dari sebatas obrolan ketika mereka menyadari bahwa masalah ini dapat berdampak pada keselamatan.

"Dari antara kita, nih, pernah mengalami kecelakaan gara-gara jalan rusak. Terus juga dari temannya teman, dia mengalami permasalahan di halte yang kurang terawat," ujar salah satu anggota Genburgeract, Ilham Haristianto (26), akrab dipanggil Boim, kepada CNNIndonesia.com, Selasa (18/8).

Boim tidak sendirian dalam menjalankan gerakan ini. Ia didampingi oleh Syafii Maarif Al Hafiz atau Uweb (27), Jaka Prasetiyo (29), Geraldi Weimy Suhestian (25), dan Cornelia Agustine (28). Kelimanya pernah menjadi rekan sekantor sebelum berpencar ke pekerjaan yang berbeda-beda, bahkan menjadi seorang wirausahawan.

Anggota yang sedikit tidak menghambat keseriusan Genburgeract. Ada pembagian tugas antara anggota.

Urusan administrasi dan kerja sama menjadi tanggung jawab Cornelia. Sedangkan, operasional seperti peralatan yang perlu disiapkan menjadi urusan Boim dan Jaka. Uweb menjalankan bagian riset dan Weimy umumnya berperan di depan layar, seperti menjadi talent.

Meski memiliki pembagian kerja, Genburgeract tak ingin terjebak birokrasi seperti pemerintahan. Tampaknya mereka sadar, birokrasi jadi salah satu penyebab pemeliharaan fasilitas umum kerap terabaikan oleh pemerintah setempat.

Genburgeract memilih untuk menjalankan kegiatannya dengan konsep yang lebih fleksibel dan tidak hierarkis.

"Jadi sebenarnya kita berlima saling mengisi [peran] satu sama lain juga, tapi ya itu cuma sebagai, job desk ditulis aja, tapi secara real time, ya, kita paling nyambi juga," ungkap Boim.

Gerakan semacam ini memang bukan hal yang baru. Boim mengaku bahwa gerakan seperti Pandawara dan gerakan di luar negeri seperti Chattanooga Urbanist Society menjadi inspirasi bagi Genburgeract.

"Itu kan gerakan-gerakan yang memang terorganisir secara mandiri, ya, kita melihat sebenarnya movement-movementnya punya variasi dan karakteristiknya masing-masing, tinggal kita mau mainnya seperti apa dan kita modifikasi dengan kemampuan kita," jelasnya.

Dalam menjalankan aksinya, Genburgeract juga memiliki proses tersendiri. Proses tersebut dimulai dengan menentukan prioritas berdasarkan urgensi dari hasil pemantauan.

Selain itu, Genburgeract juga berusaha untuk memastikan aksi mereka tersebar ke berbagai wilayah di Bekasi.

Dana aksi

Tentunya, aksi-aksi ini membutuhkan pembiayaan untuk penyediaan alat dan sebagainya. Misalnya, aksi perbaikan jalan saja membutuhkan dana sebesar 1.5 hingga 3 juta rupiah.

Awalnya, dana itu ditutupi dengan cara patungan masing-masing anggota. Seiring waktu, Genburgeract kini juga menerima bantuan dari berbagai pihak, seperti bantuan alat dan kendaraan dari warga, hasil saluran platform donasi sukarela, dan kolaborasi bersama brand-brand.

Dengan perkembangan itu, hasil kerja Genburgeract juga bertambah baik dari segi kualitas.

Misalnya, jika di masa awal mereka memperbaiki jalan menggunakan aspal instan (cold mix), kini, melalui kolaborasi, mereka mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki jalan menggunakan beton.

Perubahan penggunaan bahan ini dan pengalaman melaksanakan berbagai aksi akhirnya mendorong anggota Genburgeract untuk belajar terkait berbagai hal.

"Karena kita basicnya enggak ada anak teknik, sama sekali enggak ada, dan kita cuma modal, kita siap salah, dan kita mau belajar, mau explore juga, rasa penasaran kita tinggi, yaudah kita sikat gitu, kita belajar pelan-pelan, dan belajar bareng-bareng," ujar Boim.

Konstruksi sebagai kritik

Walaupun baru berjalan sekitar 7 bulan, Genburgeract telah mengumpulkan sebanyak 19.2 ribu pengikut di Instagram dan 66.2 ribu pengikut di TikTok.

Media sosial memang menjadi platform andalan Genburgeract untuk menyebarluaskan hasil inisiatif dan kerja-kerja mereka.

Di media sosial juga Genburgeract menyuarakan kritik dan sikap mereka. Dengan kata lain, konstruksi atau upaya Genburgeract membangun dan merawat fasilitas umum, benar-benar diaplikasikan sebagai instrumen kritik.

Para anggota sepenuhnya sadar kerja-kerja kecil mereka, tak bisa hanya dilihat dari kacamata kerelaan atau pengorbanan. Kerja-kerja itu diyakini sekaligus sebagai bentuk kritik terhadap pemerintah yang seharusnya menyelesaikan masalah-masalah warga di Bekasi.

"Itu kan banyak cara [untuk menyalurkan kritik], tapi, ya, kita memilih caranya kita, jalannya kita, dengan kita mengambil HP kita pribadi, kita dokumentasiin, dan itu membuahkan sesuatu yang bisa jadi karya versi kita. Ini statement kritik kita terhadap pemerintah yang tidak langsung mempertanggungjawabkan problemnya," kata Boim.

Kegiatan Genburgeract juga sudah mendapatkan perhatian dari pemerintah, salah satunya DPRD Kota Bekasi. Boim menyebutkan bahwa tim Genburgeract sempat bertemu dengan DPRD Kota Bekasi.

"Kita diskusi, ya, mereka mengapresiasi, terus juga memberikan insight, dan juga kita akhirnya, ya, diskusi bareng," jelas Boim.

Boim juga menjelaskan bahwa Genburgeract memahami adanya keterbatasan sumber daya di tengah banyaknya prioritas yang harus dipertimbangkan pemerintah. Oleh karena itu, ia merasa terdapat ruang bagi masyarakat untuk ambil peran.

"Ada ruang buat masyarakat ikut ambil peran apalagi untuk hal-hal yang sifatnya cepat, lokal, dan langsung kelihatan dampaknya. Ya, kita pengen nunjukin aja, sih, warga bantu warga itu masih relevan, cuma butuh dikemas lebih struktur dan masif," lanjutnya.

Terlepas dari itu, Genburgeract juga menyadari aksinya bisa jadi membuat pemerintah terlena bahkan rentan dibajak. Karenanya, sambil beraksi, mereka terus mendesak Pemerintah Kota Bekasi untuk cepat memproses kebutuhan warga tanpa harus menunggu gerakan dari warga.

"Pemkot pun juga harus mawas lebih lagi dan juga tahu, nih, pandangan-pandangan kebutuhan warga itu sebenarnya urgensinya seperti apa. Jangan sampai apa yang kami lakukan ini malah Genburgeract terus," jelas Boim.

Selain kepada pemerintah, Genburgeract juga menyatakan bahwa mereka bersedia untuk berdiskusi bersama dengan generasi muda lainnya. Mereka mengajak anak muda untuk melihat apa yang perlu dihadirkan dan dilakukan, lalu bergerak membuat perubahan.

Bagi Genburgeract sendiri, gerakan ini didasari oleh kondisi di keseharian warga, terutama warga Bekasi.

"Ya, kalau untuk warga Bekasi, sebenarnya kita saling paham, lah, warga Bekasi itu, mobilitasnya seperti apa, terus kerjanya seperti apa. Harapannya kita bisa saling gotong royong, juga tetap juga dengan taglinenya warga bantu warga, karena hadirnya Bekasi karena warga-warga kita," ucap Boim.

Setelah melakukan sejumlah perbaikan, penambahan fasilitas, dan pembersihan di Bekasi, Genburgeract mengajak agar masyarakat Bekasi bantu untuk menjaga dan merawat seluruh fasilitas umum dengan baik.

Tak memiliki target muluk-muluk, tim Genburgeract kini hanya berfokus untuk menjaga keberlanjutan dan komitmen gerakan.

"Gimana caranya angan-angan ini tetap bisa dijaga dan kita tetap komitmen dengan apa yang udah dari Januari kita harapkan, ya terus-menerus kita jalankan seperti itu," tutupnya.

(mou/wis)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK