Dorong Penguatan Ekosistem Emas, Direktur Pegadaian Jadi Ketum IBMA
Indonesia Bullion Market Association (IBMA) resmi dibentuk untuk mendorong pengembangan pasar bullion Indonesia yang kredibel, efisien, dan berkelanjutan. Asosiasi ini akan menjadi wadah kolaborasi para pelaku industri sekaligus mendorong standardisasi, edukasi, dan penguatan ekosistem emas nasional.
Peresmian IBMA digelar di BSI Tower, Kamis (20/8). Direktur Pemasaran, Penjualan dan Pengembangan Produk PT Pegadaian (Persero) Selfie Dewiyanti resmi dipercaya sebagai Ketua Umum IBMA.
Peresmian dilakukan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Selfie Dewiyanti dan Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo. Acara tersebut turut disaksikan 11 founder IBMA yang diwakili masing-masing direktur utama perusahaan.
Sejumlah pejabat turut hadir, di antaranya Wakil Kepala BP BUMN Aminuddin Ma'ruf, Dewan Komisioner OJK sekaligus Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan Dicky Kartikoyono, Chief Economist BPI Danantara Reza Yamora Siregar, Kepala Badan Standardisasi Nasional Donny Purnomo Januardhi Effyandono, serta Kepala Bappebti Tirta Karma Senjaya.
Perwakilan World Gold Association dan Malaysia Gold Association juga hadir dalam agenda tersebut.
Pembentukan IBMA merupakan bagian dari perkembangan ekosistem bullion di Indonesia setelah Presiden Prabowo Subianto meluncurkan kegiatan usaha bullion atau Layanan Bank Emas pada 26 Februari 2025.
Dalam sekitar satu tahun berjalan, bisnis bullion bank mendapat respons positif dari masyarakat. Saat ini, bullion bank di Indonesia telah mengelola lebih dari 170 ton emas. Dari jumlah tersebut, sebanyak 153 ton dikelola Pegadaian.
Capaian tersebut mendapat apresiasi dari Presiden Prabowo dalam Pidato Kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI, 14 Agustus 2026.
Presiden menilai Bank Emas Indonesia merupakan salah satu terobosan strategis yang dapat mengamankan aset nasional, memperkuat sistem keuangan, sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia.
Indonesia sendiri memiliki modal besar untuk menjadi salah satu pusat pasar bullion di kawasan. Berdasarkan data World Gold Council, produksi emas Indonesia pada 2025 mencapai 104 ton dan menempatkan Indonesia di peringkat ke-10 dunia.
Namun, besarnya potensi tersebut belum sepenuhnya teroptimalkan. Salah satu tantangannya adalah belum adanya lembaga yang menyatukan para pelaku usaha sekaligus mendorong penerapan standar industri yang seragam.
IBMA dibentuk untuk mengisi kebutuhan tersebut. Asosiasi ini akan berperan sebagai mitra strategis regulator sekaligus penghubung berbagai pemangku kepentingan dari sektor hulu hingga hilir.
Ekosistem yang dibangun mencakup sektor pertambangan, jasa keuangan, pemurnian atau refinery, manufaktur, hingga berbagai jasa pendukung bisnis.
Saat ini, anggota IBMA antara lain Pegadaian, Bank Syariah Indonesia (BSI), PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), UBS Gold, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN), Galeri 24, Brinks Solution Indonesia, ICDX Group, PT Central Mega Kencana (CMK) yang menaungi Mondial, Frank & co., dan The Palace Jeweler, PT Sentral Kreasi Kencana (SKK Jewels), serta PT Laku Emas Indonesia.
Pemerintah menempatkan pengembangan pasar bullion sebagai salah satu pilar transformasi ekonomi untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029. Pengembangan tersebut juga menjadi bagian dari agenda hilirisasi dalam visi Asta Cita.
Di sisi lain, tren global turut membuka peluang bagi Indonesia. Permintaan investasi emas melalui exchange-traded fund (ETF), emas batangan, dan koin terus meningkat hingga mencapai level tertinggi dalam 12 tahun terakhir.
Integrasi ekosistem melalui IBMA diharapkan dapat mempercepat hilirisasi komoditas emas. Selain itu, instrumen keuangan berbasis emas seperti tabungan, pembiayaan, perdagangan, dan penitipan emas berpotensi semakin beragam.
Penguatan ekosistem juga ditargetkan menciptakan pasar yang lebih dalam atau deeper market dengan tingkat likuiditas yang lebih tinggi.
Ketua Umum IBMA Selfie Dewiyanti mengatakan asosiasi tersebut diharapkan menjadi katalis perubahan lanskap industri emas nasional. Menurutnya, Indonesia tidak cukup hanya berperan sebagai produsen emas, tetapi perlu berkembang menjadi pusat perdagangan bullion di kawasan.
Selfie berharap, kehadiran IBMA menjadi platform utama bagi seluruh pelaku industri untuk membangun pasar bullion Indonesia yang kredibel, kompetitif, dan berstandar internasional.
"Dengan ekosistem yang semakin kuat, Indonesia tidak hanya akan menjadi negara penghasil emas, tetapi juga berkembang sebagai pusat perdagangan dan jasa bullion di kawasan yang mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap investasi, pendalaman pasar keuangan, dan pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Selfie.
Untuk mendukung aktivitas organisasi, Pegadaian telah menyiapkan kantor sekretariat dan ruang rapat IBMA di lantai dua kawasan perkantoran Pegadaian Tower. Fasilitas tersebut akan menjadi pusat koordinasi dan aktivitas asosiasi.
"Kami meyakini bahwa penempatan sekretariat IBMA di lingkungan Pegadaian Tower merupakan pilihan yang tepat. Kawasan Pegadaian telah berkembang menjadi salah satu pusat ekosistem emas nasional," tuturnya.
Menurutnya, kawasan ini sudah tersedia berbagai fasilitas yang saling terintegrasi, mulai dari layanan Bullion Pegadaian, Penyimpanan Vault berstandar internasional, ATM Emas, Galeri 24, G-Lab, pusat lelang emas, hingga berbagai kegiatan bazar emas yang secara rutin diselenggarakan.
"Masyarakat pun telah mengenal kawasan ini sebagai destinasi untuk berinvestasi emas, memperoleh pembiayaan berbasis emas, maupun menikmati berbagai layanan lainnya yang mendukung perkembangan industri bullion Indonesia," tambah Selfie.
Melalui IBMA, para pelaku industri berkomitmen memperkuat ekosistem bullion yang terintegrasi dan berdaya saing global. Pengembangan produk bullion, sinergi dengan sektor keuangan syariah, kemudahan berusaha, serta peningkatan literasi masyarakat akan terus didorong untuk memperluas basis investor.
Pembentukan IBMA juga menjadi langkah bersama untuk mengidentifikasi peluang, menjawab tantangan, dan memperkuat arah kebijakan dalam membangun rantai nilai emas nasional dari hulu hingga hilir.
Dengan kolaborasi tersebut, Indonesia diharapkan mampu melahirkan inovasi produk keuangan dan perdagangan berbasis emas yang inklusif, transparan, dan berkelanjutan. Emas pun tidak lagi sekadar dipandang sebagai komoditas, tetapi dapat menjadi salah satu penggerak hilirisasi, penguatan sistem keuangan, dan pertumbuhan ekonomi nasional.
(adv/adv)