Korban Keracunan MBG Sidoarjo Tembus 566 Orang, 88 Masih Dirawat

CNN Indonesia
Rabu, 02 Sep 2026 13:37 WIB
Jumlah korban keracunan diduga akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, terus bertambah hingga mencapai 566 orang, per Rabu (2/9).
Ratusan korban keracunan MBG di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo mengalami gejala mual, muntah, dan pusing. CNN Indonesia/Farid
Surabaya, CNN Indonesia --

Jumlah korban keracunan diduga akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, terus bertambah hingga mencapai 566 orang, per Rabu (2/9).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo Lakhsmie Herawati Yuwantina mengungkapkan, jumlah tersebut merupakan gabungan dari data pasien sebelumnya ditambah temuan kasus baru.

"531 ditambah 35. Kurang lebih 566 ya," kata Lakhsmie di Sidoarjo.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lakhsmie mengatakan, mayoritas korban memang merupakan santri dan santriwati Pesantren Manbaul Hikam. Namun ada pula siswa 19 lembaga pendidikan di sekitar Tanggulangin yang terdampak.

Mereka mengalami gejala mual, muntah dan pusing usai mengonsumsi makanan dari SPPG Kalitengah Tanggulangin tersebut, pada Selasa (1/9).

"Sementara nampaknya mual, muntah, pusing itu aja yang paling banyak," ujarnya.

Dari total korban tersebut, sebanyak 88 orang masih menjalani rawat inap di sejumlah rumah sakit yang telah disiagakan Pemkab Sidoarjo. Lakhsmie menyebut kondisi para pasien saat ini dalam keadaan stabil.

"Secara umum yang opname stabil. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan sampai ke perawatan khusus, enggak ada. Dirawat inap biasa," katanya.

Ia menambahkan, korban yang baru dievakuasi turut disebar ke beberapa fasilitas kesehatan kapasitas yang tersedia. Yakni RSUD RT Notopuro, RS Delta Surya, RS Siti Hajar, RS Pusura, RS Aisyiyah, RS Bhayangkara, RS Arafah Anwar, dan RS Assakinah Medika.

"Rumah sakit umum dan ya nanti tergantung dari kapasitas di rumah sakit umum. Kemungkinan tadi kalau enggak salah di RS Delta Surya juga ada. Nanti kita lihat lagi, kita petakan lagi," ujarnya.

Sementara itu, sejumlah 470 korban yang kondisinya sudah membaik telah diperbolehkan pulang. Menurut Lakhsmie, keputusan pemulangan pasien mempertimbangkan kondisi klinis masing-masing.

"Ya tentunya kalau misalnya memang dirasa perlu masih ada keluhan ya kontrol. Kalau tidak, dengan obat yang sudah diberikan cukup, ya cukup selesai," katanya.

Terkait penanganan, Dinas Kesehatan Sidoarjo menyatakan telah mengaktifkan status krisis kesehatan sejak kasus ini pertama kali mencuat. Penanganan dibagi menjadi dua jalur, yakni lapangan dan rumah sakit.

"Langkah dari Dinkes yang pasti kita, karena ini kasusnya cukup massal, yang pertama kita aktifkan krisis kesehatan. Kemudian kita bagi dua, karena di sini perlu ada penanganan di lapangan, kita buka lapangan dengan korlapnya dari puskesmas. Kemudian untuk yang di rumah sakit-rumah sakit kita siagakan dengan tenaga kesehatan yang cukup," ujar dia.

"Termasuk juga dari obat-obatan dan sarananya. Dan alhamdulillah tadi malam sudah teratasi, baik dari si pasiennya sudah kondisinya membaik, hanya tinggal sekarang 88 orang yang di beberapa rumah sakit, kurang lebih 9 rumah sakit yang kita siagakan untuk mengatasi kondisi seperti ini," tambahnya.

Di sisi lain, penyebab pasti keracunan massal ini masih dalam proses investigasi. Dinas Kesehatan telah mengambil sampel muntahan pasien serta bahan makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk diuji laboratorium.


Lakhsmie menjelaskan, hasil uji laboratorium tersebut membutuhkan waktu sekitar satu minggu. Namun ia menegaskan yang lebih penting adalah evaluasi terhadap prosedur operasional standar (SOP) dapur SPPG penyediaan makanan.

"Ya biasanya sih kurang lebih satu minggu. Sebetulnya yang paling penting adalah bukan hasilnya itu, yang paling penting adalah sikap kita bagaimana terkait kalau misalnya memang ini terbukti dari permasalahan produk olahannya atau bahannya, itu yang paling penting. SOP-nya dijalankan atau tidak. Kemudian kan ini dari makanan datang sampai dengan dikonsumsi itu kan ada batas waktunya, nah ini sudah betul atau tidak. Itu yang perlu kita investigasi dan tentunya bukan dari Dinkes saja. Dari berbagai unsur termasuk dari BPOM nanti diturunkan," paparnya.

Sebelumnya Wakil Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Jawa Timur, Teguh Bayu Wibowo, menyatakan pihaknya langsung bergerak ke lokasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) usai menerima laporan kejadian keracunan ini.

"Kami juga tadi sudah mendapatkan informasi langsung dan kami bergerak ke SPPG. Untuk saat ini, SPPG kita berhenti operasional," kata Teguh, Rabu dini hari.

Ia merinci SPPG Kalitengah Tanggulangin ini memasok sekitar 2.800 porsi makanan per hari untuk sekolah dan pesantren, dengan sekitar 1.000 porsi di antaranya untuk santri Ponpes Manbaul Hikam.

"Untuk hari ini 2.800. Sekolah dan pesantren. Di pesantren itu ada sekitar 1.000-an, sisanya di luar pesantren, di sekolah," ucap dia.

Teguh menyebut sampel makanan telah diambil oleh Dinas Kesehatan Sidoarjo dan kepolisian untuk diuji laboratorium.

"Selanjutnya, hasil lab dan lain-lain kita tunggu untuk satu minggu ke depan ya, untuk uji hasil lab," katanya.

Secara paralel, Teguh juga sudah memastikan dapur SPPG Kalitengah Tanggulangin yang menyuplai MBG ke pesantren itu telah di-suspen sementara oleh BGN pusat pascakejadian.

"Sementara ini karena memang sementara disuspen, dari BGN sudah surat turun disuspen sementara," ujarnya.

Mengenai jangka waktu pengehentian sementara operasional SPPG Kalitengah Tanggulangin ini, Teguh mengatakan keputusan akhir menunggu hasil evaluasi dan uji sampel laboratorium.

"Sampai hasil evaluasi ya, evaluasi dan hasil lab keluar. Jadi sementara kami sedang laporan ke pusat, pusat akan menimbang apakah disuspennya suspen sementara atau suspen permanen," pungkasnya.

(frd/gil)
placeholder