Karhutla Kawasan Gunung Semeru Meluas Hampir 600 Hektare
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Semeru yang terjadi sejak Rabu (26/8) terus meluas hingga kini, dan telah menghanguskan 598 hektare lahan.
BPBD Jawa Timur (Jatim) melaporkan api yang membara di area tebing terjal dengan tiupan angin kencang membuat petugas kesulitan mengendalikan penyebarannya.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto mengatakan hingga saat ini dua titik api masih terpantau menyala di wilayah B29 di Desa Argosari dan Ranu Kembang di Desa Ranu Pani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.
"Saat ini ada dua titik yang terbakar di Wilayah B29 Desa Argosari dan Ranu Kembang Desa Ranu Pani, Kec. Senduro," kata Gatot saat dikonfirmasi, Rabu (2/8) siang.
Gatot mengatakan, area yang terbakar terkonsentrasi di kawasan Gunung Kepolo, Jambangan, Hutan Po'o, dan jalur pendakian alternatif Ayak-ayak.
Untuk mencegah api meluas lebih jauh, tim gabungan di lapangan membuat sekat bakar di sejumlah titik rawan.
"Tim Gabungan melakukan pembuatan sekat bakar di kawasan Ayak-Ayak dan Po'o untuk membatasi penyebaran api agar tidak meluas," jelasnya.
Tim gabungan juga melakukan pemadaman darat di jalur pendakian Semeru antara Pos 1 dan Pos 2 untuk mengendalikan titik api sekaligus mencegah kobaran meluas ke area sekitarnya.
Gatot mengungkap, medan yang curam menjadi tantangan utama bagi petugas di lapangan. Ditambah embusan angin kencang, bara api pun merambat dengan cepat.
"Lokasi obyek terbakar yang berada pada tebing dengan kemiringan yang sangat terjal dan angin bertiup cukup kencang yang mengakibatkan kebakaran cepat meluas," jelas Gatot.
Menyusul kebakaran yang terus meluas, Balai Besar Taman Nasional Tengger Semeru (TNBTS) menutup sementara seluruh aktivitas pendakian di Gunung Semeru terhitung sejak 26 Agustus 2026 hingga batas waktu yang belum ditentukan.
"BPBD Provinsi Jatim dan BPBD Kabupaten Lumajang melakukan koordinasi dengan TNBTS dalam rangka percepatan penanganan kebakaran," katanya.
(kid/frd/kid)