Guru SD di Medan Resign Usai Dilaporkan Pukul 10 Siswa Terkait PR

CNN Indonesia
Jumat, 04 Sep 2026 01:30 WIB
Seorang guru berinisial DAL di SD Negeri 060807 Medan yang diduga melakukan tindakan kekerasan terhadap sejumlah siswa memutuskan untuk mengundurkan diri. iStockphoto
Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang guru berinisial DAL di SD Negeri 060807 Medan yang diduga melakukan tindakan kekerasan terhadap sejumlah siswa memutuskan untuk mengundurkan diri.

Keputusan tersebut diambil setelah pihak orang tua siswa melaporkan perbuatannya ke Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Medan.

DAL dilaporkan atas dugaan tindak kekerasan terhadap murid yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah (PR).

Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar Disdik Medan, Mujiono, membenarkan pengunduran diri guru honorer tersebut. Ia menegaskan bahwa keputusan mundur itu murni inisiatif pribadi guru yang bersangkutan, bukan atas paksaan dinas.

"Informasi terakhir yang kami dapat guru tersebut sudah resign, mengundurkan diri. Dari kemarin, semenjak kejadian itu, kita perintahkan jangan ngajar dulu, dikasih piket saja. Namun yang bersangkutan mau resign, sehingga membuat surat pernyataan pengunduran diri. Jadi bukan kita yang memaksa," ujar Mujiono seperti dikutip detikSumut, Rabu (2/9).

Disdik Medan sejatinya sempat menjadwalkan agenda mediasi antara pihak sekolah dan para orang tua siswa pada Selasa (1/9). Namun, pertemuan tersebut urung terlaksana karena pihak pelapor tidak hadir.

"Sudah kita panggil semuanya untuk mediasi. Namun orangtua memilih untuk tidak mau datang. Sudah dibilang, sudah ditelepon juga orang tua, sudah kita panggilkan Kepala Sekolah dan wali-wali kelas, namun tetap tidak mau hadir mereka," ungkap Muji.

Kendati demikian, Mujiono menyebut hubungan antarkedua pihak saat ini sudah membaik dan suasana pembelajaran di SDN 060807 Medan telah kembali kondusif. Di samping itu, sanksi administratif tetap dijatuhkan kepada pihak pimpinan sekolah.

"Orangtua sudah memaafkan. Sudah normal semua, cuma karena dari segi administrasi, kepala sekolah kan harus kita tegur juga melalui surat peringatan (SP) supaya enggak terjadi lagi hal-hal seperti ini kan," jelasnya.

Terkait kronologi kejadian, pihak kepala sekolah sempat mengklarifikasi bahwa guru bersangkutan tidak melakukan pemukulan fisik menggunakan tangan kosong, melainkan menepukkan buku ke bahu serta memberikan hukuman berupa squat jump. Menanggapi hal tersebut, Mujiono menegaskan bahwa bentuk hukuman fisik apa pun di lingkungan sekolah tetap tidak dapat dibenarkan.

"Kepala sekolah mengatakan hanya dipukul bahu dengan buku. Tapi sekarang memang tidak boleh lagi ada hukuman-hukuman fisik model begitu. Karena kalau tidak mengerjakan PR seharusnya dibina dengan baik-baik, bukan dipukul," tegas Mujiono.

Di sisi lain, Mujiono menyayangkan langkah pengunduran diri DAL mengingat statusnya yang masih sebagai tenaga honorer. Guna menghindari prasangka sepihak, Disdik Medan meminta surat pernyataan tertulis dari pihak sekolah terkait pengunduran diri tersebut.

"Ya kita sebenarnya kasihan dan tidak ingin dia sampai kehilangan pekerjaan. Makanya kita minta kepsek untuk membuat pernyataan, nanti dipikir kita memaksa. Kita tidak ada memaksa, itu murni kemauan sendiri yang bersangkutan," imbuhnya.

Kasus ini bermula pada Rabu (26/8), ketika puluhan orang tua mendatangi kantor Disdik Medan bersama anak-anak mereka yang masih mengenakan seragam sekolah. Kedatangan mereka bertujuan melaporkan sanksi berlebihan yang dialami sekitar 10 orang siswa akibat kendala pengerjaan PR.

"Tadi bapak dan ibu perwakilan orang tua dan siswa dari SD Negeri 060807 mengadu tentang ada kejadian terhadap siswa yang terjadi di SD tersebut. Jadi, Dinas Pendidikan tadi juga sudah memfasilitasi orang tua dan anak-anak tentang kejadian di sekolah tersebut," tutur Mujiono saat ditemui pekan lalu.

Mujiono kembali menegaskan bahwa ruang kelas semestinya menjadi tempat yang aman bagi tumbuh kembang anak didik.

"Tadi mereka melaporkan bahwa terjadi semacam pemukulan terhadap anak-anak karena alasannya tidak mengerjakan PR. Dan itu tidak menjadi alasan, karena sekolah ini kan sekolah ramah anak," pungkasnya.

Selengkapnya di sini.

(gil)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK