Asap Karhutla Masih Selimuti Kalbar Meski Jumlah Hotspot Turun

CNN Indonesia
Jumat, 04 Sep 2026 10:27 WIB
Petugas dari Manggala Agni Sumatera XVI-Lahat menarik selang air untuk melakukan pemadaman kebakaran lahan yang terjadi di Karya Jaya, Kecamatan Kertapati, Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (11/8/2026). Berdasarkan data dari Kementerian Koordinator
Karhutla masih kepung Kalbar. (ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyebut kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Barat (Kalbar) membutuhkan perhatian serius.

Ia mengatakan meski jumlah hostpot atau titik panas di Kalbar mengalami penurunan, namun persoalan asap akibat karhutla masih menyelimuti wilayah tersebut.

Hal itu disampaikan Raja Juli setelah meninjau langsung salah satu lokasi karhutla di Desa Kuala Dua, Kabupaten Kubu Raya, Kalbar pada Kamis (3/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya ingin mengatakan bahwa kondisi Kalbar sedang tidak baik-baik saja. Angka, sekali lagi angkanya menurun, angka hotspot-nya menurun ketimbang hari lalu, tapi asapnya sangat, sangat, sangat tidak baik," kata Raja Juli dalam keterangannya, Jumat (4/9).

Berdasarkan data Sipongi milik Kemenhut, jumlah hotspot di Kalbar sebenarnya mengalami penurunan. Pada 31 Agustus tercatat 272 hotspot, kemudian meningkat menjadi 859 pada 1 September dan kembali turun menjadi 268 titik pada 2 September.

Namun, kata Raja Juli, penurunan hotspot tidak otomatis berarti persoalan asap telah selesai. Ia menjelaskan api yang sudah padam tidak lagi terbaca sebagai hotspot pada sistem Sipongi, tetapi asap masih dapat bertahan.

"Api padam tidak terbaca sebagai hotspot di Sipongi, namun itu tidak berarti bahwa tidak ada asap. Teman-teman sendiri lihat sendiri, tidak lagi ada hotspot di sini tapi ini asapnya terus eksis," tutur dia.

Raja Juli menyebut kondisi tersebut juga terlihat dari kondisi udara di Pontianak yang masih berasap. Karena itu, selain memastikan jumlah hotspot turun, penanganan di lapangan juga harus diikuti dengan pendinginan secara masif.

"Teman-teman Manggala Agni, Kemenhut, TNI-Polri, BPBD semua ya, sedang berjibaku untuk memastikan supaya tadi hotspot-nya bisa turun. Namun saat bersamaan harus ada gerakan yang masif untuk melakukan pendinginan. Ini sekarang nih lagi dilakukan pendinginan," ucap dia.

(dis/dal)
placeholder