Kasus Dugaan Keracunan MBG di Toraja Bertambah, Total Jadi 173 Siswa

CNN Indonesia
Jumat, 04 Sep 2026 23:02 WIB
Dugaan keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis di Tana Toraja melibatkan 173 siswa. Penanganan dilakukan di beberapa rumah sakit dan puskesmas.
Ilustrasi. Ompreng yang digunakan sebagai tempat sajian MBG. (CNN Indonesia/Tunggul)
Makassar, CNN Indonesia --

Kasus dugaan keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami lebih dari seratus siswa SMP di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, terus bertambah.

Hingga berita ini ditulis, total tercatat 173 orang mengalami gejala gangguan pencernaan dan mendapat penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan.

"Data terbaru per pukul 20.30 WITA mencatat, sebanyak 165 orang menjalani pemeriksaan dan perawatan di tiga rumah sakit," kata Sekretaris Daerah Tana Toraja sekaligus Ketua Satgas MBG, Rudy Andi Lolo kepada CNNIndonesia.com, Jumat (4/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di RSGK Toraja, terdapat 50 pasien yang ditangani. Rinciannya, 8 orang menjalani rawat inap dan 42 lainnya rawat jalan.

"Salah satu pasien yang sebelumnya menjalani rawat jalan kembali masuk untuk mendapatkan pemeriksaan," ujarnya.

Sementara di RSUD Lakipadada, tercatat 84 pasien, terdiri dari 5 orang rawat inap dan 79 orang menjalani rawat jalan.

Kemudian di RS Fatima terdapat 31 pasien. Sebanyak 6 orang menjalani rawat inap, sedangkan 25 lainnya mendapat penanganan sebagai pasien rawat jalan.

Selain rumah sakit, sebanyak 8 orang juga mendapat penanganan di sejumlah puskesmas. Rinciannya, dua orang di Puskesmas Rembon, dua orang di Puskesmas Batusura, dan empat orang di Puskesmas Makale.

"Dengan demikian, total warga yang mengalami gejala gangguan pencernaan dan mendapat penanganan di rumah sakit maupun puskesmas mencapai 173 orang," ujar Rudy.

Meski demikian, kata Rudy, penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan lebih lanjut.

"Kita masih menunggu hasil pemeriksaan dari BPOM untuk mengetahui penyebab dugaan keracunan tersebut," jelasnya.

Sebelumnya, Sentra Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Batupapan 01 Makale yang menyebabkan 160 siswa SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2 Makale, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, mengalami gangguan kesehatan setelah diduga menyantap makanan dari menu program MBG diberikan sanksi pemberhentian beroperasi sementara.

Rudy Andi menjelaskan keputusan pemberhentian sementara tersebut berdasarkan hasil rapat dengar pendapat (RDP) dengan anggota DPRD dan Satgas MBG serta sejumlah instansi terkait usai kejadian dugaan keracunan MBG terhadap para siswa SMP di Kabupaten Tana Toraja.

"Keputusan itu hasil RDP dengan DPRD bahwa SPPG yang melanggar tersebut suspend alias diberhentikan sementara waktu," jelasnya.

Rudy menerangkan  SPPG tersebut melayani 2.210 penerima manfaat yang terdiri dari 4 Taman Kanak-kanak (TK), 4 SD, 2 SMP--SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2 Makale, serta dua posyandu.

Terpisah, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan alias Zulhas mengancam akan memecat petugas SPPG alias dapur program MBG yang tidak bertanggung jawab dalam menangani makanan.

Ancaman itu disampaikan di tengah maraknya dugaan keracunan setelah konsumsi MBG di sejumlah daerah, termasuk Tana Toraja.

Zulhas menyoroti waktu antara makanan selesai dimasak dan saat makanan dikonsumsi. Menurutnya, makanan yang dimasak sejak pagi seharusnya segera didistribusikan agar tidak terlalu lama berada dalam perjalanan maupun penyimpanan.

"Tidak boleh ada toleransi kepada petugas yang tidak bertanggung jawab. Itu kan makan dimasak jam setengah enam, jam enam (pagi), harusnya dimakan jam 10.00, jam 11.00. Dikirimnya jam 11.00," kata Zulhas di JCC Senayan, Jakarta Pusat, Jumat ini.

Zulhas menyatakan sanksi tegas harus diberikan kepada petugas yang tidak bertanggung jawab dalam menangani makanan MBG. Sanksi emecatan bahkan dapat dijatuhkan terutama jika pelanggaran dilakukan dengan sengaja.

"Tegas, ya dipecat. Kalau yang sengaja, ya ditindak," ujar dia yang juga Ketua Umum PAN tersebut.

(mir/kid)
placeholder