PVMBG Ungkap Potensi Letusan Susulan Anak Krakatau Masih Tinggi

CNN Indonesia
Minggu, 06 Sep 2026 20:41 WIB
PVMBG mengumumkan erupsi menerus Gunung Anak Krakatau berhenti, namun potensi letusan susulan masih tinggi.
Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. (Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan erupsi menerus Gunung Anak Krakatau berhenti pada Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Namun, potensi letusan susulan masih tergolong tinggi. 

Kepala PVMBG Kementerian ESDM Siti Sumilah Rita Susilawati, dalam keterangannya mengatakan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga meski erupsi menerus telah berhenti.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan berdasarkan rekaman instrumental, episode gempa erupsi menerus mulai tercatat sejak Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan berhenti pada Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB.

"Berdasarkan rekaman instrumental kami, episode gempa erupsi menerus mulai terekam sejak Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan resmi berhenti pada Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB," ujar Siti dalam konferensi pers, Minggu.

Setelah erupsi menerus tersebut berhenti, PVMBG mencatat satu kali erupsi susulan bertipe Strombolian pada pukul 03.53 WIB dengan durasi sekitar 30 detik.

Erupsi tersebut untuk sementara diinterpretasikan sebagai penanda akhir dari episode erupsi menerus yang sebelumnya berlangsung.

Selama periode pengamatan 5-6 September 2026, kondisi visual Gunung Anak Krakatau terpantau jelas meskipun sesekali tertutup kabut.

Berdasarkan pengamatan CCTV, kolom erupsi berwarna merah terlihat mendominasi pada malam hari, sementara pada siang hari terlihat kepulan berwarna kehitaman membumbung ke udara.

Dari sisi pemantauan instrumental, energi aktivitas vulkanik yang diukur melalui rerata amplitudo RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement) sempat mengalami peningkatan pada 5 September 2026, namun menunjukkan tren penurunan pada 6 September 2026.

Data Tiltmeter Stasiun Tanjung masih menunjukkan kecenderungan inflasi sejak awal Agustus 2026, sedangkan Stasiun Lava93 mencatat pola yang relatif mendatar atau konstan.

Potensi letusan susulan tinggi

Siti menyampaikan meskipun episode erupsi menerus telah berakhir, dinamika vulkanisme Gunung Anak Krakatau masih aktif.

Potensi letusan susulan dalam beberapa waktu ke depan masih tergolong tinggi dengan potensi bahaya berupa lontaran batu pijar, hujan abu lebat, serta kemungkinan aliran lava apabila erupsi menerus kembali terjadi.

Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, PVMBG menetapkan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap pada Level Siaga.

Masyarakat, wisatawan, maupun pendaki diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung.

PVMBG juga mengimbau masyarakat di pesisir Pantai Banten dan Lampung untuk tetap tenang serta tidak mempercayai informasi hoaks terkait potensi tsunami akibat erupsi.

Sementara itu Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa berdasarkan pemantauan 20 sensor tsunami gauge di sekitar Selat Sunda hingga Minggu pukul 07.00 WIB, tidak menunjukkan anomali muka air laut.

"BMKG merekam adanya fenomena sekunder berupa gangguan geomagnetik dan petir vulkanik. Sensor di Lampung Selatan dan Serang mencatat adanya gangguan geomagnetik yang selaras dengan kenaikan sambaran petir vulkanik pada rentang waktu 12 jam terakhir. Namun, intensitas gangguan tersebut tidak sebesar letusan awal," ujar Plh Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan dalam keterangan di Jakarta.

(antara/wis)
placeholder